Sekitar 300 anak, termasuk balita, kini tinggal sementara di salah satu pusat pengungsian di Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Mereka datang dari berbagai wilayah sekitar. Sudah lebih dari sepekan mereka berada di pengungsian setelah hujan deras yang memicu banjir dan longsor pada Selasa, 25 November 2025.
Bagi banyak keluarga, memikirkan kelanjutan pendidikan anak terasa sangat berat. “Jangankan seragam, rumah pun kami tidak punya. Tidak tahu lagi habis ini mau kemana? Lanjut sekolah kemana?” ungkap Martha* dan Elis*, dua ibu yang masing-masing memiliki empat anak.
Di pengungsian di Sibolga, para orang tua lainnya juga mengungkapkan kekhawatiran yang sama terutama mereka yang kehilangan tempat tinggal seperti Martha* dan Elis*. Ketidakpastian membuat pendidikan formal anak-anak terhenti sementara.
Child-Friendly Space: Ruang Aman untuk Anak Pulih dan Tetap Belajar

Menjawab kebutuhan anak-anak yang tidak bisa bersekolah dalam situasi darurat, Save the Children membuka Child-Friendly Space (CFS) atau Ruang Ramah Anak sebagai bagian dari respons bencana. CFS pertama dimulai pada Rabu, 3 Desember 2025 di salah satu pengungsian di Tapanuli Tengah.
Sekitar 50 anak, dari balita hingga remaja, berkumpul di sebuah gedung yang disiapkan dekat area pengungsian. Di ruang aman itu, mereka mengikuti kegiatan bermain, belajar, dan berkreasi dengan alat yang disediakan.
Keesokan harinya, Kamis, 4 Desember 2025, Save the Children juga membuka CFS di dua titik pengungsian di Sibolga. Sekitar 60 anak hadir pada hari pertama dan menunjukkan antusiasme yang besar.
Beberapa anak menyapa dan bercerita kepada tim Save the Children mengenai pengalaman mereka saat bencana terjadi, termasuk tentang teman sebaya yang menjadi korban dalam peristiwa tersebut. Melalui kegiatan CFS, mereka memiliki ruang untuk mengekspresikan diri, memproses perasaan, dan menemukan kembali rutinitas positif.
Ruang Aman yang Mengembalikan Senyum Anak
Beragam aktivitas digelar di CFS menggambar, mewarnai, hingga permainan tradisional. Tangan-tangan kecil mulai memberikan warna pada kertas kosong dengan penuh ketenangan.
Beberapa orang tua turut mendampingi. Seorang ibu tersenyum melihat anaknya bersemangat meniup pianika; ibu lain dengan sabar mengajari anaknya mengarsir warna sesuai gambar di buku.
“Kami senang, sudah satu minggu ini mereka bermain bebas, tidak sekolah. Jadi kegiatan seperti ini membantu mereka pulih dari stres mungkin ya,” ujar Anti*.
Dukungan dari Banyak Pihak
Pelaksanaan CFS mendapat dukungan dari berbagai pihak. Pemerintah daerah menyediakan ruang untuk kegiatan, sementara warga secara spontan berdonasi mainan dan makanan ringan untuk anak-anak. Dukungan ini memperkuat upaya menghadirkan ruang aman dan penuh kehangatan bagi anak-anak yang terdampak bencana.