Bisnis Kerupuk Bantu Para Ibu dengan Anak Disabilitas di Lembang Mendapatkan Penghasilan Tambahan dan Teman Berbagi Cerita

Cerita Perubahan

Karyati adalah seorang ibu di Lembang, Jawa Barat, yang memiliki anak disabilitas. Ia dan ibu-ibu dengan anak disabilitas lainnya saling mengenal dan rutin bertemu di Rumah Cinta Disabilitas, sebuah sanggar yang memfasilitasi anak disabilitas untuk belajar lewat kegiatan membuat prakarya. Sanggar biasanya dibuka setiap Rabu dan Sabtu sore. Di sanggar ini, mereka dapat berkomunitas dengan para orang tua yang menghapi tantangan serupa, sekaligus mendampingi anak-anak mereka belajar. 

Karyati bercerita, biaya mengantar anak ke sekolah dan sanggar cukup besar. Keperluan rumah tangga keluarganya dan keluarga lain di sanggar itu juga tidak sedikit. Mereka mengalami kesulitan ekonomi, terlebih saat pandemi COVID-19. Jarak rumah dan sekolah yang jauh menjadi faktor yang menambah pengeluaran mereka karena harga ojek tidak murah.  

“Pertama kali kami bergabung itu bukan dari usaha tapi dari RCDI, Rumah Cinta Disabilitas. Ibu-ibu yang bergabung di sini punya anak disabilitas, jadi masuk kerja jam setengah 9 itu (karena) nganter anak sekolah dulu. Terus kata kami daripada gini-gini aja mending kita bikin usaha. Lumayan, kebetulan ada yang bantu modal,” tutur Karyati. 

Save the Children Indonesia melalui Program Respons COVID-19, bekerja sama dengan Rehabilitasi Berbasis Masyarakat (RBM) dan beberapa pelaku usaha UMKM, memberikan dukungan pengembangan usaha kepada Karyati, ibu-ibu lain dari sanggar tempat mereka berkumpul, serta orang tua lain dengan anak disabilitas yang menghadapi masalah ekonomi akibat pandemi COVID-19.  

Ibu-ibu anggota Kelompok Rumah Kreatif berfoto bersama dengan produk bisnis mereka yaitu Kerupuk.

Mereka mendapatkan pelatihan terkait pengembangan usaha, baik dalam membentuk rancangan bisnis maupun strategi pemasaran dari bisnisnya. Karyati dan beberapa ibu di sanggar itu lantas membentuk kelompok usaha produksi kerupuk bernama Rumah Usaha Kreatif. Mereka juga mendapatkan bantuan modal usaha sebesar Rp 10 juta untuk mengembangkan bisnis tersebut. 

“Ya, senang aja karena ada kegiatan, jadi ada pemasukan buat anak-anak. Karena uang penting untuk tambahan ongkos (untuk antar anak-anak ke sekolah). Yang kesulitan (dana) sebelumnya, mah, (Ibu-ibu yang) mengantar anak-anak ke SLB karena rumahnya jauh-jauh.” 

Kini, usaha yang telah berjalan hampir sembilan bulan telah membantu Karyati dan ibu-ibu lain mendapatkan penghasilan tambahan. Penghasilan tambahan ini membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarga mereka, termasuk untuk mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah atau mengikuti kelas keterampilan di Rumah Cinta Disabilitas. 

Selain mendapatkan penghasilan tambahan, ibu-ibu di Rumah Usaha Kreatif juga sangat senang karena mereka dapat memiliki keterampilan baru untuk membuat kerupuk. Mereka juga memiliki kesibukan dan teman untuk bertukar pikiran mengenai kondisi anak disabilitas mereka. Saat bekerja, mereka bisa saling bercerita, tertawa, dan saling menghibur satu sama lain sehingga kelelahan mereka terobati. 

“Sebenernya ibu-ibu yang di sini ibu ibu yang beruntung. Kami kan juga diseleksi. Di sini bisa banyak saudara, alhamdulilah. Uang (penghasilannya) dipakai untuk anak-anak dan kebutuhan sehari-hari. Ya, ahamdulilah ada yang memfasilitasi di sini. Kalau seperti kita mah bekerja maksimal (purnawaktu) kayak orang lain belum tentu bisa, namanya ninggalin anak (disabilitas), mah nggak bisa,” ucap Karyati. 

Program bantuan modal dan pendampingan pengembangan usaha ini telah membantu keluarga para ibu di Rumah Usaha Kreatif dan banyak keluarga lain dengan anak disabilitas untuk meningkatkan kualitas hidup mereka.

Teks: Raisya Putritama, Purba Wirastama
Foto: Raisya Putritama/Save the Children Indonesia
Skip to content scroll to top button