
Salma dan Halimah adalah murid kelas 6 SD di Kabupaten Cianjur yang terdampak gempa pada November 2022 lalu. Mereka dan teman-teman lain telah kehilangan gedung dan fasilitas sekolah yang rusak dan hancur gempa. Menurut Neng, salah seorang guru mereka, murid-murid terpaksa belajar daring selama satu minggu sebelum bantuan berdatangan. Proses belajar-mengajar kemudian dilanjutkan di tenda darurat.
Walaupun Salma dan Halimah masih merindukan belajar di kelas, hal ini tidak menyurutkan semangat mereka untuk belajar di tenda darurat. Salma bercerita bahwa ia senang karena sekalipun belajar di tenda melelahkan dan kadang panas, ia dapat melewati suka duka bersama teman-temannya.
Salma juga bercerita bahwa salah satu kesulitan yang mereka alami adalah belajar dengan nyaman karena tidak ada meja dan kursi. Mereka harus duduk di lantai tenda yang hanya beralaskan terpal. Halimah menambahkan bahwa belajar dengan kondisi demikian membuatnya gampang pegal karena harus menunduk dan menulis di lantai dalam waktu yang lama.
Save the Children memulihkan aktivitas belajar-mengajar di sekolah Salma dan Halimah dengan memberikan berbagai bantuan. Termasuk pelatihan kepada guru-guru tentang pemberian dukungan psikososial serta distribusi perlengkapan sekolah seperti tas dan meja lipat. Meja lipat didistribusikan ke sejumlah sekolah, termasuk SD tempat Salma dan Halimah belajar. Harapannya, anak-anak dapat belajar dengan lebih baik dan nyaman.
Setelah bantuan meja lipat datang, Salma dan Halimah kini tidak lagi merasakan lelah dan pegal membungkuk karena menulis di lantai.
“Adanya meja ini belajarnya nyaman, nggak pegel lagi, terus membantu juga temen-temen yang lain karena sebelumnya belajarnya berantakan,” jelas Salma.
“Membantu, karena belajar nggak nunduk-nunduk Terimakasih kepada Save the Children yang sudah membantu memberikan meja untuk bisa belajar bersama, yang kondusif. Pokoknya (saya) bahagia aja,” lanjut Halimah.

Henhen, kepala sekolah, berkata bahwa ia sangat bersyukur dan berterima kasih karena bantuan meja lipat datang tepat sebelum mereka memulai pekan ujian. Dengan adanya meja, ujian dapat dilaksanakan oleh guru dan murid dengan lebih kondusif.
“Adanya meja lipat ini sangat bermanfaat untuk kelancaran ujian, soalnya kalau tidak ada meja lipat menulis di lantai apalagi lantainya hanya beralaskan terpal, jadinya anak-anak tidak nyamanlah, tapi alhamdulilah dengan adanya meja lipat ini kami bisa merasakan manfaat terutama dalam kelancaran ujian,” jelas Henhen.
Meja lipat ini tak hanya berguna bagi murid-murid, tetapi juga bagi para guru. Mereka dapat menggunakan meja lipat sebagai meja kerja, termasuk untuk memeriksa hasil ujian. Neng, guru kelas Salma dan Halimah, bercerita bahwa kini suasana kelas dapat lebih kondusif, murid-murid dapat kembali merasakan belajar di atas meja seperti di kelas, dan postur badan murid-murid pun tidak terganggu akibat menunduk terlalu lama.
“Membantu, sangat membantu. Aduh sebelum ini agak sulit, ga ada meja. Tapi sewaktu ada semua kebagian, ya anggapannya bisa seperti belajar di kelas lagi, walaupun harus duduk di bawah (tanpa kursi) tapi seenggaknya nyaman dengan adanya meja, nggak harus nunduk lagi,” ungkap Neng, guru di kelas.
