Cerita Perubahan

Banjir Aceh Tak Mengurangi Semangat Zahra untuk Tetap Belajar

Banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh pada akhir November 2025 mengubah kehidupan banyak keluarga dalam waktu singkat. Rumah-rumah rusak, akses jalan terputus, dan ribuan warga terpaksa mengungsi. Di tengah situasi itu, seorang remaja berusia 14 tahun bernama Zahra berusaha mempertahankan satu hal yang paling penting baginya: kesempatan untuk terus belajar.

Saat banjir terjadi, Zahra sedang berada di sekolah berasrama. Air dengan cepat menggenangi wilayah sekitar sekolah hingga akhirnya para siswa harus dievakuasi. Beruntung, pamannya yang tinggal tidak jauh dari lokasi sekolah datang menjemput dan membawanya ke tempat yang lebih aman.

Namun di waktu yang sama, keluarganya di rumah juga tengah berjuang menyelamatkan diri.

Keputusan Cepat untuk Mempertahankan Rumah dari Arus

“Ya Allah kalau memang rumah ini rezeki kami, pertahankanlah. Kami sudah berserah” kenang Rahma orang tua Zahra.

Rahma (37), ibu Zahra, bersama anggota keluarga lainnya sedang bersiap mengungsi ketika air mulai memasuki rumah mereka. Situasi saat itu sangat mencekam. Hujan deras dan angin kencang membuat air naik dengan cepat.

Melihat rumah-rumah lain hanyut terbawa arus, Rahma mengambil keputusan yang tidak biasa. Ia membuka semua pintu dan jendela rumah agar air dapat mengalir bebas melewati bangunan kayu mereka.

Langkah spontan itu ternyata menyelamatkan rumah mereka dari kerusakan total.

“Dengan arus air yang sangat kuat, kami khawatir dinding rumah bisa jebol jika semua pintu dan jendela ditutup. Jadi saya meminta suami membuka semuanya agar air bisa mengalir dari depan ke belakang,” kenangnya.

Meski rumah mereka tetap berdiri, sebagian besar barang-barang keluarga hanyut atau rusak. Setelah banjir mulai surut, mereka harus membersihkan lumpur setinggi pinggang yang memenuhi rumah.

Hari Sulit Pascabencana, Zahra Belum Kembali ke Rumah

Hari-hari pertama setelah banjir adalah masa yang sangat berat bagi keluarga Zahra. Akses menuju desa masih tertutup sehingga bahan makanan sulit didapatkan. Bahkan jika mereka memiliki uang, tidak ada tempat untuk membeli makanan.

“Kalau kami punya uang pun, kami tetap tidak bisa membeli apa-apa karena tidak ada bahan makanan yang tersedia,” kata Rahma.

Dalam kondisi itu, bantuan dari tetangga menjadi penyelamat. Mereka berbagi makanan seadanya, bahkan satu butir telur harus dimakan bersama oleh seluruh anggota keluarga.

Keterbatasan air bersih juga memicu masalah kesehatan. Rahma dan salah satu anaknya sempat mengalami diare akibat kondisi sanitasi yang buruk setelah banjir.

Di tengah semua kesulitan tersebut, satu hal yang paling membuat Rahma dan suaminya cemas adalah tidak adanya kabar dari Zahra. Jaringan komunikasi terputus sehingga mereka tidak mengetahui kondisi putri mereka.

Setelah beberapa hari tanpa kabar, ayah Zahra akhirnya memutuskan untuk mencari sendiri keberadaan anaknya.

Ia berjalan melewati lumpur dan genangan air setinggi pinggang hingga akhirnya menemukan Zahra yang telah dibawa kerabat mereka ke tempat aman.

Kembali Menemukan Semangat Melalui Ruang Ramah Anak

Setelah banjir, aktivitas anak-anak di desa hampir berhenti total. Sekolah belum kembali dibuka, listrik padam, dan tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan.

Zahra dan adiknya mulai merasa bosan dan cemas.

Situasi berubah ketika mereka mengetahui adanya kegiatan di Ruang Ramah Anak yang diselenggarakan oleh Save the Children di lokasi pengungsian.

Di sana, anak-anak dapat bermain, menggambar, dan mengikuti kegiatan belajar bersama relawan.

“Sebelumnya anak-anak ini main lumpur di dekat sungai, kami juga khawatir rasanya, khawatir ada arus deras,” ujar Rahma.

Kegiatan tersebut memberikan ruang aman bagi anak-anak untuk kembali berinteraksi dan belajar setelah mengalami bencana.

Makna Sekolah Bagi Zahra

Bagi Zahra, kembali belajar setelah bencana adalah hal yang sangat penting.

“Menurut kami kembali ke sekolah itu penting, karena kalau lama-lama tidak sekolahnanti pembelajaran yang kemarin terlupa,” ujarnya.

Di ruang ramah anak, Zahra dan teman-temannya mengikuti berbagai kegiatan seperti permainan, bercerita, hingga menggambar bersama.

“Banyak kegiatannya, ada ice breaking, bercerita sama kakak-kakak, dan juga menggambar. Seperti Kak Iza waktu itu membagikan cerita dan kami mendengarkan,” kata Zahra.

Pengalaman itu membuatnya kembali bersemangat. Bagi Rahma, melihat anak-anaknya kembali belajar meski dalam kondisi terbatas adalah hal yang sangat berarti.

“Adanya Save the Children bisa membagi pembelajaran ke kami, membagi kebahagiaan juga ke kami yang tadinya kami bosan kami jadi semangat lagi,” katanya.

Ia berharap masyarakat luas juga mengetahui bahwa banyak keluarga di Aceh masih membutuhkan dukungan untuk bangkit kembali.

Cita-cita Zahra di Masa Depan

Di balik semua pengalaman sulit yang ia lalui, Zahra tetap menyimpan mimpi besar untuk masa depannya.

Ia bercita-cita menjadi dokter atau apoteker agar bisa membantu orang lain yang sakit.

Banjir memang sempat menghentikan aktivitas sekolahnya. Namun bagi Zahra, pendidikan tetap menjadi kunci untuk meraih masa depan yang lebih baik.

Scroll to Top