Anak bukan hanya kelompok yang harus dilindungi saat bencana. Anak juga memiliki pengetahuan, kemampuan, dan peran penting dalam membangun budaya kesiapsiagaan. Melalui Program Generation Ready (GENRE), Save the Children Indonesia dan CIS Timor Indonesia mendorong pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun generasi yang siap menghadapi bencana.
Bencana tidak pernah memilih siapa yang akan terdampak. Anak-anak, orang dewasa, dan perempuan, termasuk orang dengan disabilitas sama-sama menghadapi risiko ketika bencana terjadi. Namun, anak-anak memiliki kebutuhan perlindungan yang lebih khusus karena usia dan pengalaman mereka dalam menghadapi situasi darurat masih terbatas.
Di lingkungan sekolah, situasi darurat karena ancaman bencana dapat terjadi kapan saja. Gempa bumi, banjir rob, cuaca ekstrem, angin kencang, maupun ancaman bencana lain dapat mengganggu aktivitas belajar dan mengancam keselamatan warga sekolah. Karena itu, kesiapsiagaan tidak cukup hanya dibicarakan melalui sosialisasi atau disampaikan dalam ruang kelas. Anak-anak dan seluruh warga sekolah perlu memiliki kesempatan untuk belajar, berlatih, dan membiasakan diri menghadapi situasi darurat.
Pesan inilah yang menjadi salah satu dorongan utama pelaksanaan Simulasi Evakuasi Mandiri di sejumlah sekolah di Kabupaten Kupang pada 28–30 Oktober 2026. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Generation Ready (GENRE), yang dilaksanakan Save the Children Indonesia bersama CIS Timor Indonesia dengan dukungan Pemerintah Australia melalui Australian NGOs Cooperation Program (ANCP).
Kesiapsiagaan Harus Dibangun Sebelum Bencana Terjadi
Dalam kegiatan tersebut, Bupati Kupang, Yosef Lede, SH, menyampaikan apresiasi kepada BPBD Kabupaten Kupang, FPRB Kabupaten Kupang, Save the Children Indonesia, CIS Timor Indonesia, serta Pemerintah Australia melalui Australian NGOs Cooperation Program (ANCP) yang telah berkolaborasi untuk meningkatkan kesiapsiagaan anak-anak dalam menghadapi bencana.
Bupati Kupang juga menegaskan bahwa upaya membangun masyarakat yang tangguh harus dimulai sebelum bencana datang.
“Jangan menunggu bencana datang untuk belajar bersiap. Saya mendorong agar tim kesiapsiagaan bencana dibentuk di setiap sekolah, desa, dan kecamatan. Kita harus membangun budaya siaga bencana di seluruh wilayah Kabupaten Kupang melalui edukasi, sosialisasi, dan simulasi yang dilakukan secara berkelanjutan,” tegas Yosef Lede.
Melibatkan Anak dalam Kesiapsiagaan Bencana
Selama ini anak sering ditempatkan sebagai kelompok yang harus dilindungi ketika bencana terjadi. Perlindungan tentu menjadi kewajiban semua pihak. Namun, pendekatan kesiapsiagaan perlu bergerak lebih jauh dengan memberikan ruang kepada anak untuk memahami risiko, menyampaikan pendapat, dan mengambil bagian dalam perencanaan keselamatan.
Yosep Tapun, Project Manager Program Generation Ready (GENRE) dari Save the Children Indonesia, menyampaikan bahwa perubahan cara pandang terhadap peran anak merupakan hal penting dalam membangun kesiapsiagaan yang berkelanjutan.
“Kami ingin mengubah cara pandang bahwa anak-anak hanyalah kelompok yang harus dilindungi. Anak juga memiliki pengetahuan, kemampuan, dan suara yang penting dalam membangun kesiapsiagaan. Melalui GENRE, anak didorong untuk mengenali risiko, menyampaikan gagasan, berpartisipasi dalam perencanaan keselamatan sekolah, dan mengingatkan keluarga serta komunitasnya,” ungkap Yosep.

Menurutnya, simulasi menjadi jembatan untuk menerjemahkan pengetahuan menjadi keterampilan dan kesiapan nyata. Anak-anak belajar mengenali risiko, memahami jalur evakuasi, merespons peringatan dini, dan melindungi diri tanpa mengabaikan keselamatan teman-temannya.
Pendekatan ini juga harus memastikan tidak ada anak yang tertinggal. Semua anak, baik laki-laki dan perempuan, termasuk anak dengan disabilitas, harus memperoleh kesempatan sama untuk memahami informasi kebencanaan, mengakses jalur evakuasi, dan terlibat dalam latihan keselamatan.
“Bagi kami, sekolah tangguh bukan sekadar sekolah yang memiliki fasilitas atau prosedur kebencanaan, tetapi sekolah yang mampu memastikan setiap anak, termasuk anak perempuan dan anak penyandang disabilitas, tidak tertinggal dalam upaya perlindungan. Ketangguhan sekolah pada akhirnya harus diukur dari kemampuannya melindungi setiap anak,” tambahnya.
Dengan demikian, keberhasilan kesiapsiagaan sekolah tidak cukup diukur dari tersedianya dokumen prosedur atau terlaksananya satu kali simulasi. Hal yang lebih penting adalah apakah setiap anak memahami apa yang harus dilakukan dan dapat mengakses perlindungan ketika situasi darurat benar-benar terjadi.
Simulasi Berulang Membangun Keterampilan dan Kepercayaan Diri
Simulasi evakuasi bukan sekadar kegiatan seremonial. Latihan perlu dilakukan berulang agar anak-anak dan warga sekolah terbiasa merespons peringatan, mengikuti jalur evakuasi, menuju titik kumpul, serta menjalankan peran masing-masing secara tertib.
Ida Adu, Project Manager Program Generation Ready (GENRE) dari CIS Timor Indonesia, menjelaskan bahwa pendampingan kepada sekolah diarahkan untuk membangun kemampuan sekolah melaksanakan simulasi secara berkala dan mandiri.
“Melalui dukungan Program GENRE, kegiatan simulasi dilaksanakan dua kali dalam setahun. Pada semester pertama, rancangan kegiatan di sekolah dilakukan dengan skenario internal dan mandiri oleh sekolah, termasuk mengukur waktu yang dibutuhkan dari kelas menuju titik kumpul maupun keseluruhan waktu simulasi. Hasil pengukuran ini diharapkan menjadi bahan evaluasi pada semester kedua agar pelaksanaan simulasi semakin baik,” jelas Ida.
Pengukuran waktu menjadi salah satu cara bagi sekolah untuk mengetahui sejauh mana prosedur evakuasi dapat berjalan. Sekolah dapat mengevaluasi hambatan, memperbaiki proses, dan membangun kepercayaan diri untuk melaksanakan latihan secara mandiri. Ke depan, sekolah juga diharapkan dapat memilih waktu latihan secara acak sebagai bagian dari pembiasaan dan penguatan kesiapsiagaan.
Latihan yang dilakukan secara berulang dan berkala diharapkan menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari anak dan sekolah. Kesiapsiagaan perlu tumbuh menjadi budaya, bukan hanya pengetahuan yang diingat ketika ada kegiatan atau peringatan tertentu.
“Perhatian utama kami dalam mendampingi sekolah adalah memastikan anak-anak tahu apa yang harus dilakukan saat berada dalam situasi darurat bencana. Anak-anak harus siap dan selamat, bukan saja dirinya selamat, tetapi juga dapat membantu teman lainnya untuk selamat,” tegas Ida.

Membangun Generasi Siaga adalah Tanggung Jawab Bersama
Upaya membangun generasi siaga tidak dapat dibebankan kepada sekolah atau lembaga pendamping saja. Pemerintah daerah perlu memperkuat kebijakan dan dukungan sumber daya. BPBD dan FPRB perlu terus memperluas edukasi serta pendampingan kesiapsiagaan. Sekolah perlu memastikan prosedur evakuasi dipahami dan terus dilatih. Orang tua dan keluarga perlu meneruskan pembelajaran di rumah. Sementara itu, masyarakat dan pemerintah desa perlu menciptakan lingkungan yang mendukung keselamatan anak.
Program Generation Ready (GENRE) menjadi salah satu upaya untuk mendorong perubahan tersebut melalui penguatan kesiapsiagaan sekolah dasar di Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya. Program ini tidak hanya mendorong anak mengenali ancaman bencana, tetapi juga membangun ruang partisipasi agar anak dapat terlibat dalam upaya melindungi diri dan lingkungannya.
Pesan Bupati Kupang tentang pembentukan tim kesiapsiagaan di sekolah, desa, dan kecamatan perlu menjadi komitmen yang ditindaklanjuti bersama. Simulasi tidak boleh berhenti sebagai kegiatan seremonial, tetapi perlu menjadi latihan yang terus dilakukan, dievaluasi, dan diperbaiki.
Membangun Generasi Siaga tidak hanya menyiapkan anak-anak agar memiliki pengetahuan, keterampilan, keberanian, dan kepedulian untuk menghadapi risiko bencana. Lebih dari itu, Membangun Generasi Siaga berarti memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk selamat dan terlindungi.
Jangan menunggu bencana datang untuk belajar bersiap. Mari jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya, mulai dari sekolah, keluarga, desa, hingga seluruh wilayah Kabupaten Kupang.
