Sejak Mei 2026, suasana belajar di salah satu sekolah dasar di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), terasa berbeda. Kedatangan Child and Youth Campaigner—sekelompok anak muda dari Forum Anak Daerah Kupang dan Save the Children—membawa semangat baru bagi Rafi* (8) dan teman-temannya.
Selama tiga bulan, Rafi dan teman-temannya mengikuti Sekolah Cerdas Iklim (SEKOCI) yang difasilitasi oleh Child and Youth Campaigner. Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Aksi Generasi Iklim yang dilaksanakan oleh Save the Children berkolaborasi dengan Eiger.
Melalui SEKOCI, Rafi dan teman-temannya diajak mempelajari fenomena iklim dan cuaca ekstrem yang kini kerap melanda akibat krisis iklim. Mereka mengikuti tiga sesi utama, yaitu Literasi, Aksi, dan Advokasi.
Pada sesi literasi, mereka berbagi pengetahuan dan pengalaman terkait krisis iklim. Badai Seroja pada 2021 menjadi salah satu dampak krisis iklim yang paling membekas bagi Rafi dan teman-temannya. Badai ini membawa hujan lebat yang memicu banjir serta longsor di NTT.
Dampak krisis iklim seperti Badai Seroja dipelajari agar anak-anak bisa memiliki kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana di masa mendatang. Melalui gambar dan alat peraga, anak-anak diajak membayangkan serta mempraktikkan langkah penyelamatan jika badai kembali melanda.
“Semangat dan senang karena kita belajar tentang Badai Seroja dan banjir,” ujar Rafi.
Usai sesi literasi, Rafi menerima buku Jurnal Aksi. Buku ini berisi berbagai misi mingguan dan refleksi yang membantu anak-anak mengingat dan menerapkan pengetahuan tentang kesiapsiagaan bencana di rumah.
Rafi berhasil menjalankan seluruh misi tanpa kesulitan dan mulai terbiasa menerapkan sikap siap siaga bencana dalam kehidupan sehari-hari. Dari seluruh misi di Jurnal Aksi, Rafi paling menyukai kegiatan menyiapkan tas siaga bencana.
“Tas siaga bencana! Karena bisa menyiapkan (barang) di dalam tas,” kenangnya dengan antusias.
Memasuki sesi aksi, anak-anak diajak melakukan simulasi bencana di sekolah. Saat lonceng tanda bahaya berbunyi, Rafi dengan sigap berlindung di bawah meja. Setelah aman, ia keluar kelas sembari membawa tas siaga bencana.
Anak-anak juga diajarkan cara membantu teman yang terluka. Melalui simulasi ini, Rafi tak hanya berlatih menyelamatkan diri sendiri, tetapi juga memahami pentingnya saling peduli saat situasi darurat.
Sebagai puncak pembelajaran, Rafi mengikuti sesi advokasi melalui kegiatan penyebarluasan hasil belajar pada perayaan Hari Anak Nasional tingkat provinsi dan nasional.
Kisah dan aksi iklim Rafi dibagikan melalui tayangan video di hadapan sekitar 1.000 peserta, termasuk Forum Anak Nasional dan KemenPPPA. Ini menjadi ruang bagi anak-anak untuk menyuarakan pentingnya kesiapsiagaan iklim kepada khalayak luas.
“Aku akan bersiap,” jawab Rafi mantap saat ditanya aksinya usai merampungkan seluruh misi Jurnal Aksi. Kalimat ini menjadi bukti nyata kesadaran baru yang tumbuh dari dalam dirinya.
Melalui SEKOCI, anak-anak seperti Rafi diharapkan mampu mengenali dampak krisis iklim sejak dini. Harapannya, mereka tak hanya mampu memahami krisis iklim, namun juga memiliki bekal untuk melindungi diri dan sesama dalam menghadapi dampaknya.
*Nama diubah untuk melindungi identitas anak
