Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia yang terjadi sejak 18 Agustus 2026 di Sumatra dan Kalimantan memicu kabut asap yang menyebar hingga ke sejumlah negara di Asia Tenggara.
Dampak karhutla meluas hingga mengancam keselamatan, kesehatan, pendidikan, dan perlindungan anak. Paparan asap dapat menyebabkan gangguan pernapasan, sementara penutupan sekolah dan pembatasan aktivitas di luar ruang menghambat kesempatan anak untuk belajar, bermain, dan berinteraksi dengan teman sebaya. Dampak ini juga menjadi perhatian bagi kelompok rentan lainnya yang membutuhkan perlindungan lebih selama situasi darurat.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan yang tercantum dalam Konferensi Pers Perkembangan Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia pada 13 Oktober 2026, tercatat 283.270 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara kumulatif di tujuh provinsi terdampak pada periode 18 Agustus-13 Oktober 2026.
Dampaknya juga dapat dirasakan pada kesehatan mental dan kondisi keluarga. Anak dapat mengalami kecemasan akibat situasi darurat, sementara tekanan ekonomi yang dihadapi keluarga berpotensi meningkatkan kerentanan mereka.
Dessy Kurwiany Ukar, CEO Save the Children Indonesia, menegaskan bahwa anak-anak perlu menjadi prioritas dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan dengan memastikan akses terhadap layanan kesehatan, air bersih, dan ruang yang aman dari paparan asap.
“Kondisi yang telah berlangsung beberapa bulan ini menempatkan anak-anak dalam kondisi yang sangat berbahaya. Paparan asap menyebabkan gangguan pernapasan pada anak, selain itu kegiatan sekolah juga terganggu. Kami menyerukan semua pihak termasuk pemerintah untuk bersama-sama mengambil langkah tegas dan cepat untuk menghentikan kebakaran hutan dan lahan ini. Kita harus memastikan setiap anak terlindungi. Anak-anak tidak seharusnya menanggung dampak dari krisis yang bukan mereka sebabkan,” ungkap Dessy.
Dalam laporan Born Into the Climate Crisis: Why We Must Act Now to Secure Children’s Rights, Save the Children bersama Vrije Universiteit Brussel juga menyoroti meningkatnya risiko paparan peristiwa ekstrem bagi generasi mendatang. Laporan tersebut memperkirakan bahwa, di bawah komitmen iklim yang ada saat laporan disusun, anak yang lahir pada 2020 menghadapi risiko mengalami kebakaran hutan sepanjang hidupnya sekitar dua kali lipat dibandingkan orang yang lahir pada 1960.
Laporan tersebut turut menekankan pentingnya tindakan iklim yang lebih ambisius untuk mengurangi risiko bencana dan melindungi hak anak, termasuk melalui kebijakan yang menempatkan kebutuhan dan kepentingan terbaik anak sebagai pertimbangan utama.
Mendesak Perlindungan Anak dalam Penanganan Karhutla
Penanganan karhutla perlu memperhatikan kebutuhan anak dan kelompok rentan lainnya agar keselamatan, kesehatan, serta akses terhadap layanan dasar tetap terjaga. Save the Children mendorong langkah-langkah berikut:
- Melindungi kesehatan anak dari kabut asap: Memastikan ketersediaan masker yang sesuai, informasi kualitas udara yang mudah dipahami, layanan kesehatan dan rujukan, serta ruang dengan udara lebih bersih. Fasilitas kesehatan juga perlu bersiap menghadapi peningkatan kasus ISPA, terutama pada anak-anak yang rentan.
- Memastikan keberlanjutan pendidikan: Menghentikan sementara pembelajaran tatap muka ketika kualitas udara membahayakan dan menyediakan alternatif pembelajaran yang aman serta dapat diakses semua anak, termasuk yang memiliki keterbatasan internet atau listrik.
- Menyediakan dukungan psikososial dan perlindungan anak: Memastikan anak dan keluarga dapat mengakses layanan kesehatan mental, perlindungan anak, konsultasi keluarga, serta saluran informasi dan pengaduan yang mudah dijangkau.
- Menciptakan lingkungan yang aman bagi anak: Membatasi aktivitas luar ruang saat kabut asap memburuk, menyediakan alternatif kegiatan di dalam ruangan, serta memperkuat dukungan dan pengawasan di tingkat keluarga dan komunitas.
- Memperkuat penanganan dan tata kelola hutan dan lahan: Memprioritaskan pemadaman api, memperkuat pengawasan dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan berkepanjangan.
Upaya Save the Children Indonesia Melindungi Anak dan Keluarga Terdampak Karhutla
Sejak Juli hingga Oktober 2026, Save the Children Indonesia mendukung masyarakat terdampak karhutla di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, melalui penyediaan akses air ke sembilan desa yang menjangkau 1.179 orang dari 238 kepala keluarga (KK), dengan total 21.600 liter air dan dua unit pompa yang juga dimanfaatkan untuk membantu pemadaman api, serta penyaluran 1.533 masker kepada warga terutama yang terlibat dalam pemadaman api di Kabupaten Ketapang dan Kabupaten Merauke.
Save the Children Indonesia terus berupaya melindungi anak dan keluarga terdampak karhutla melalui berbagai langkah untuk memperkuat perlindungan anak. Upaya lanjutan yang dilakukan meliputi:
- Penyediaan masker untuk anak dan orang dewasa di wilayah terdampak.
- Peningkatan akses air bersih di daerah yang terdampak kekeringan dan kebakaran hutan.
- Pengembangan sistem peringatan dini karhutla yang ramah anak, agar informasi risiko dan langkah perlindungan dapat diakses serta dipahami anak dan keluarga.
- Peningkatan kesadaran tentang perlindungan kualitas udara, termasuk informasi mengenai risiko paparan asap dan langkah untuk mengurangi dampaknya.
- Penyediaan dukungan psikososial bagi anak dan keluarga yang mengalami tekanan akibat situasi darurat.
- Sosialisasi Sekolah Lindung Asap untuk mendukung upaya menciptakan lingkungan belajar yang sehat, aman, dan nyaman melalui modifikasi ruang kelas dan penggunaan teknologi filtrasi udara mandiri. Inisiatif ini dikembangkan oleh Tim KREASI Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah.
Melalui berbagai upaya tersebut, Save the Children Indonesia mendorong agar keselamatan dan pemenuhan hak anak menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla, mulai dari respons darurat hingga pemulihan dan pengurangan risiko bencana di masa mendatang.
Mari bersama bantu anak-anak terdampak karhutla melalui halaman penggalangan dana ini.
