Cerita Perubahan

Save the Children dan Cargill Hadirkan Akses Air Bersih di Tengah Krisis Air Bersih

Musim kemarau panjang tahun 2026 menguji daya tahan warga di Kabupaten Ketapang dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Merespons hal tersebut, Save the Children dan Cargill melalui Program RESILIENCE mendistribusikan air bersih ke tujuh desa di Kecamatan Manis Mata. Bantuan ini hadir untuk merespons krisis kekeringan di wilayah program dampingan.

Air bersih bersumber dari fasilitas sumur bor yang juga dihadirkan oleh Program RESILIENCE di sejumlah desa dampingan. Inisiatif ini dihadirkan untuk meningkatkan ketahanan komunitas dengan memastikan setiap individu memiliki pemahaman dan akses pada fasilitas sanitasi yang layak demi mewujudkan desa bebas buang air besar sembarangan (Open Defecation Free).

Hingga saat ini, distribusi air bersih telah menjangkau 154 keluarga dengan prioritas utama pada rumah tangga yang memiliki balita dan ibu menyusui.

Sungai Jadi Tumpuan Saat Kemarau Menerjang

Saat kemarau panjang tiba dan sumur galian komunal mulai mengering, sebagian besar warga menjadikan sungai sebagai satu-satunya tumpuan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.

Air sungai digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari mandi, cuci, hingga minum. Sumber air bersih alternatif yang terbatas memaksa masyarakat mengkonsumsi air seadanya, meski kualitasnya tidak layak.

“Lalu mau minum apa kalau tidak ambil air ke sungai? Kita kan kalau tidak ada air tidak bisa hidup,” ungkap Sutra Liana (55) yang sehari-hari bekerja sebagai penyadap karet.

Mengalirkan Harapan di Tengah Krisis

Tim distribusi menyalurkan air bersih menggunakan truk tangki secara bertahap. Jumlah unit disesuaikan dengan jumlah rumah tangga di setiap lokasi supaya distribusi air bisa merata.

“Meski terbatas, bantuan air bersih ini sangat membantu keluarga saya,” ungkap Ari Oktavianto (31) yang sehari-hari bekerja sebagai buruh kebun.

Selain air bersih, Save the Children dan Cargill juga mendistribusikan 1.133 masker untuk membantu warga melindungi diri dari paparan asap kebakaran hutan yang terjadi di wilayah tersebut.

Camat Manis Mata, Pipensius (48), sangat mengapresiasi bantuan-bantuan tersebut.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Save the Children dan Cargill atas kepeduliannya akan permasalahan yang dihadapi warga. Bantuan ini tentu sangat berarti bagi mereka. Kolaborasi ini adalah kunci untuk mengatasi berbagai tantangan yang sedang terjadi,” ungkap Pipensius.

Hal senada diungkapkan oleh Said Supyandi (49), salah satu kepala desa di Manis Mata.

“Bantuan air bersih ini sangat membantu kami di tengah krisis kekeringan. Kami juga diberi masker untuk menghadapi asap kebakaran hutan. Semoga kolaborasi ini terus berlanjut dan semakin kuat,” ungkap Supyandi.

Di tengah krisis kekeringan, akses terhadap air bersih bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga tentang menjaga kesehatan dan ketahanan keluarga. Kolaborasi antara Save the Children, Cargill, dan pemerintah, menjadi langkah bersama untuk membangun komunitas yang lebih tangguh dalam menghadapi berbagai krisis akibat perubahan kondisi lingkungan.

Scroll to Top