Ada banyak cara untuk membantu anak. Sebagian orang hadir langsung di tengah krisis, seperti saat bencana melanda. Sebagian lagi menggunakan suara, karya, pengaruh, dan sumber daya untuk mengajak lebih banyak orang ikut bergerak.
Cerita-cerita ini bertemu dalam satu malam: Pahlawan Anak Charity Night, yang digelar oleh Save the Children Indonesia di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel Jakarta, pada hari Kamis, 13 Agustus 2026 yang lalu.
Malam itu mempertemukan para pemimpin dunia usaha, filantropis, perwakilan diplomatik, kementerian, dan tokoh publik, di antaranya Veronica Tan, Najwa Shihab, Maudy Ayunda, dan Tompi, dalam sebuah perayaan yang sekaligus menjadi momen penggalangan dana. Para tamu diajak melihat lebih dekat berbagai tantangan yang masih dihadapi anak dan mengambil bagian dalam upaya menjawabnya.
“Selama bertahun-tahun, saya bertemu dengan banyak anak dari berbagai tempat. Saya mendengarkan cerita, kekhawatiran, dan mimpi mereka. Dan setiap kali, saya selalu pulang membawa satu hal yang sama, yaitu harapan,” ujar Dessy Kurwiany Ukar, CEO & Chairperson Save the Children Indonesia.
Menurut Dessy, kehidupan seorang anak dapat berubah ketika ada seseorang yang memilih untuk hadir, memberikan akses, perlindungan, dan kesempatan.
“Perubahan terjadi ketika kita berhenti menjadi penonton dan mulai menjadi bagian dari solusi. Karena pada akhirnya, masa depan anak bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Masa depan adalah sesuatu yang kita tentukan hari ini,” lanjut Dessy.
Cerita dari Aceh
Salah satu cerita malam itu datang dari Najwa Shihab, yang berbagi pengalamannya datang ke sejumlah wilayah terdampak banjir dan longsor besar di Aceh pada akhir 2025. Melalui jalur darat dan udara, Najwa ikut menyalurkan bantuan sekaligus mendengar dan menyuarakan cerita warga di wilayah yang sempat terisolasi, termasuk Aceh Tamiang dan Aceh Tengah.
Pada periode itu, Save the Children dan mitra merespons banjir dan longsor di Sumatera dengan mendistribusikan kebutuhan dasar, menyediakan air bersih, layanan kesehatan dan nutrisi, ruang ramah anak, serta mendukung keberlanjutan pendidikan anak, termasuk di wilayah yang sulit dijangkau.
Maudy Ayunda membawa cerita lain dari Aceh. Ia berbagi pengalamannya mendukung pemulihan akses pendidikan dan literasi bagi anak-anak terdampak banjir di Aceh Timur dan Aceh Tamiang. Bersama Maudy Ayunda Foundation, ia mendukung pembangunan Ruang Belajar Sementara (Temporary Learning Space).
Bagi anak terdampak bencana, kembali belajar bukan hanya tentang kembali membuka buku. Bertemu guru dan teman, bermain, serta memiliki rutinitas membantu mereka perlahan mendapatkan kembali rasa aman dan keseharian yang sempat hilang.
Pemulihan pendidikan juga menjadi salah satu program yang diperkenalkan malam itu. Save the Children membuka dukungan untuk renovasi dan rehabilitasi lima sekolah terdampak bencana di Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Tapanuli Tengah.

Musik dan Seni untuk Menggerakkan Kepedulian
Suasana malam semakin hangat lewat penampilan spesial dari Tompi. Di sela penampilannya, ajakan untuk berdonasi terus bergulir, menjadikan musik bagian dari upaya menggalang dukungan bagi anak.
Malam itu, karya seni juga menjadi jalan untuk berkontribusi. Save the Children Indonesia memperkenalkan “Membuka Payung Harapan”, patung hasil kolaborasi dengan Sanggar Luhur yang terinspirasi dari sketsa Girl with Umbrella karya maestro Indonesia Sudjana Kerton (1922–1994).
Setiap patung dilukis dengan interpretasi berbeda oleh sejumlah seniman Indonesia, di antaranya Arkiv Vilmansa, Soni Irawan, Ronald Apriyan, dan Mohammad Taufiq a.k.a Emte. Patung-patung ini dapat “diadopsi” oleh para tamu sebagai bagian dari penggalangan dana. Payung menjadi simbol perlindungan dan ruang aman tempat anak dapat tumbuh dengan gembira, penuh harapan, dan bermartabat. Dukungan dari karya ini ditujukan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan respons kemanusiaan bagi anak ketika krisis dan bencana terjadi.

Ketika Dukungan Menjangkau Lebih Banyak Anak
Sepanjang Pahlawan Anak Charity Night, para tamu diajak mendukung berbagai program Save the Children, mulai dari membangun kembali sekolah terdampak bencana, menyediakan akses air bersih di Sumba, memperkuat ekonomi keluarga, hingga mendekatkan layanan perlindungan bagi perempuan dan anak. Dukungan juga dapat diberikan untuk Smart Climate School (SEKOCI) yang membantu anak dan sekolah lebih siap menghadapi dampak perubahan iklim, serta Humanitarian Pooled Fund untuk membantu Save the Children merespons kebutuhan anak ketika bencana dan krisis terjadi.
Pahlawan Anak Charity Night adalah bagian dari perayaan perjalanan 50 tahun Save the Children di Indonesia. Malam itu, cerita dari lapangan, musik, karya seni, dan ajakan berdonasi bertemu dalam satu tujuan, yaitu membuka lebih banyak kesempatan bagi anak untuk belajar, tumbuh, dan terlindungi. Menjadi Pahlawan Anak bukan tentang seberapa besar pengaruh yang kita miliki, tetapi bagaimana kita memilih menggunakannya untuk bersama-sama menjaga dan memperkuat ekosistem perlindungan anak.
Tentang Save the Children Indonesia
Save the Children percaya setiap anak berhak atas hari ini dan masa depan. Sejak 1976, kami hadir di Indonesia agar anak-anak, terutama yang paling rentan, dapat bertahan hidup, belajar, terlindungi, dan berpartisipasi. Bersama komunitas, mitra, dan pemerintah, kami mengawal ekosistem perlindungan anak agar terus berjalan: memenuhi kebutuhan dasar anak, menolong saat bencana dan krisis, mendorong kebijakan yang berpihak pada anak, dan memperkuat keluarga serta komunitas. Sebagai bagian dari gerakan Save the Children di lebih dari 100 negara, kami membawa pengalaman global dan berdiri bersama anak-anak Indonesia. Mari melangkah bersama kami.
