Banjir yang melanda Sumatra pada akhir 2025 mengubah keseharian anak-anak dan guru. Sekolah yang rusak membuat kegiatan belajar harus berlangsung dengan kondisi yang serba terbatas.
Di tengah situasi tersebut, guru tidak hanya perlu memastikan anak tetap mendapatkan pembelajaran, tetapi juga mendampingi mereka menghadapi pengalaman setelah bencana.
Bagi sebagian guru, proses tersebut berarti mencari cara agar anak tetap tertarik belajar meski fasilitas terbatas. Bagi yang lain, prosesnya adalah menciptakan ruang bagi anak untuk mengungkapkan perasaan dan kembali berani bersuara. Sementara itu, dukungan yang tepat juga membantu guru merasa lebih percaya diri dalam mendampingi anak-anak di tengah situasi pascabencana.
Membekali Guru Menjalani Pendidikan Pascabencana
Setelah bencana, kebutuhan anak di ruang belajar dapat berubah. Selain mengejar pembelajaran yang sempat terhenti, guru perlu mengenali kondisi emosional anak dan meresponsnya dengan cara yang tepat. Save the Children membantu guru-guru untuk dapat beradaptasi melalui situasi ini dengan mengembangkan modul pembelajaran khusus yang dinamakan We Thrive.
Melalui modul dan pelatihan We Thrive, para guru dibekali pendekatan terpadu untuk mendukung anak dalam situasi pascabencana, mulai dari perlindungan anak hingga kesehatan mental dan dukungan psikososial. Dengan metode yang interaktif dan partisipatif, anak diajak tidak hanya belajar, tetapi juga berinteraksi, mengekspresikan diri, dan membangun keterampilan untuk mendukung pemulihan mereka.
Salah satu materi yang diberikan kepada guru adalah Dukungan Psikologis Awal (PFA). Melalui materi ini, guru dibekali keterampilan praktis untuk memberikan respons awal kepada anak yang mengalami trauma, kecemasan, atau ketakutan setelah bencana.
Memanfaatkan Barang Sederhana untuk Proses Pembelajaran

Santi*, seorang guru TK yang sudah mengikuti pelatihan We Thrive, menerapkan metode yang dipelajarinya dengan memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar tempat belajar.
TK tempatnya mengajar rusak akibat banjir, kegiatan belajar sementara dipindahkan ke selasar masjid. Dalam keterbatasan tersebut, Santi bersama guru lainnya mengajak muridnya memanfaatkan daun dan batu-batu kecil untuk belajar angka. Anak-anak juga diajak memilih gambar ekspresi wajah sesuai dengan perasaan mereka saat itu.
“Kondisi tempat belajar yang seadanya juga mempengaruhi mood anak-anak untuk belajar. Namun dengan metode belajar yang saya pelajari di pelatihan We Thrive, anak-anak menjadi lebih tertarik karena memanfaatkan benda-benda yang ada di sekitar masjid,” ucap Santi.
Bagi Santi, metode tersebut membantu menciptakan pengalaman belajar yang tetap menarik meski ruang dan fasilitas yang tersedia jauh dari kondisi sekolah seperti biasanya.
Memberi Ruang untuk Anak Mengekspresikan Perasaannya

Di Aceh Tamiang, Farah* juga melihat perubahan dalam cara anak-anak mengikuti pembelajaran setelah menerapkan metode We Thrive.
Jika pembelajaran biasa lebih banyak berfokus pada menyelesaikan tugas, metode We Thrive memberikan ruang bagi anak untuk mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Hal ini terutama dirasakan oleh anak-anak yang menjadi penyintas banjir.
“Kalau di pelajaran biasa, anak-anak mengerjakan tugas, selesai, lalu pulang. Tapi saat saya dan guru-guru menerapkan metode We Thrive, anak-anak lebih bisa mengekspresikan perasaannya. Terutama anak-anak yang menjadi penyintas banjir,” ucap Farah.
Hal ini diiyakan oleh Nurin*, siswi kelas 6 di sekolah tempat Farah mengajar. Metode pembelajaran dalam kelompok-kelompok kecil juga membuatnya lebih berani untuk menyampaikan pendapat.
“Jadi lebih berani, tidak malu kalau berpendapat,” kesan Nurin yang merupakan salah satu anak dari keluarga penyintas banjir. Rumahnya terendam hingga atap dan hampir tidak ada barang yang tersisa.
Meningkatkan Rasa Percaya Diri Guru saat Mengajar
Ratna* seorang guru SD di Sibolga juga merasakan manfaat metode We Thrive tidak hanya untuk anak muridnya tapi juga untuk dirinya.
Menurut Ratna, panduan yang jelas membuat guru lebih percaya diri dalam menjaga mental dan semangat anak-anak. Ia juga melihat tumbuhnya solidaritas antarsiswa, termasuk ketika mereka membantu atau menemani teman yang menjadi penyintas banjir.
“Guru menjadi lebih percaya diri karena memiliki panduan yang jelas untuk menjaga mental serta semangat anak-anak. Siswa yang kami ajar juga menjadi lebih memiliki solidaritas kepada temannya dengan meminjamkan alat tulis atau sekedar menemani temannya yang penyintas banjir supaya tidak lagi merasa sedih. We Thrive ini adalah hadiah terindah untuk kami,” ucap Ratna.
Dari Pelatihan ke Ruang Kelas
Pengalaman Santi, Farah, dan Ratna menunjukkan bagaimana We Thrive dapat diterapkan sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak di masing-masing sekolah.
Sejak pertengahan April 2026, sebanyak 416 guru dari 26 sekolah di Kabupaten Aceh Tamiang dan Kota Sibolga telah mendapatkan pelatihan untuk menerapkan modul We Thrive dalam 8-10 sesi pembelajaran. Penerapannya kepada siswa berlangsung dari akhir Mei hingga pertengahan Juni 2026, dengan 5.424 siswa menjadi target dan sekitar 70% di antaranya telah mendapatkan pembelajaran We Thrive.
*) Nama disamarkan untuk perlindungan narasumber
