Jakarta, Indonesia, 7 September 2026– Kabut asap akibat kebakaran hutan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia, yang semakin diperparah oleh kondisi lebih kering akibat fenomena cuaca El Niño, telah menyebar ke berbagai wilayah Asia Tenggara dan mengancam kesehatan anak-anak, ujar Save the Children.
Kebakaran hutan yang terjadi secara intensif di wilayah Kalimantan dan Sumatra telah menghanguskan ribuan hektare lahan, termasuk di Pulau Kalimantan, pulau terbesar ketiga di dunia yang merupakan rumah bagi salah satu hutan hujan tropis dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia. Kebakaran tersebut juga melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar, menurut Copernicus Atmosphere Monitoring Service.
Lebih dari 1,4 juta siswa di wilayah terdampak di Indonesia telah beralih ke pembelajaran daring atau jarak jauh selama kualitas udara berada pada tingkat yang berbahaya. Sementara itu, sekitar 12.800 sekolah di Kalimantan dan Sumatra masih ditutup, berdasarkan data pemerintah.
Pada Senin, sejumlah ibu kota negara di Asia Tenggara masuk dalam daftar sepuluh kota dengan tingkat polusi udara terburuk di dunia. Kabut asap bahkan telah menyebar hingga Filipina, yang berjarak lebih dari 800 kilometer dari Indonesia.
Meskipun praktik pembukaan lahan dengan metode tebang dan bakar dilakukan setiap tahun di sejumlah wilayah Asia Tenggara oleh perusahaan industri maupun sebagian petani, termasuk melalui pembakaran ilegal untuk membuka lahan pertanian, Indonesia kini menghadapi kondisi yang sangat kering dengan risiko kebakaran hutan yang semakin meningkat akibat fenomena El Niño yang kuat. Fenomena ini diperkirakan akan berlangsung hingga awal 2027.
El Niño, yang dalam bahasa Spanyol berarti “anak laki-laki kecil”, merupakan pola iklim alami yang menyebabkan peningkatan suhu di sebagian wilayah Samudra Pasifik dan mengurangi curah hujan di Indonesia.
Meskipun polusi udara berdampak pada semua orang, anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan karena tubuh, organ, dan sistem kekebalan mereka masih dalam tahap perkembangan, ujar Save the Children.
Anak-anak menghirup lebih banyak polutan dibandingkan orang dewasa karena mereka cenderung bernapas lebih cepat. Sementara itu, paparan partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5 dikaitkan dengan risiko kematian dini pada populasi secara umum.
Sebagai bagian dari respons terhadap kabut asap, Save the Children telah mendistribusikan 8.500 masker kepada anak-anak dan keluarga di tiga kabupaten di Kalimantan. Organisasi ini juga meningkatkan kesadaran anak-anak dan keluarga mengenai cara melindungi diri dari dampak berbahaya kabut asap melalui poster dan selebaran yang didistribusikan di berbagai wilayah Kalimantan, termasuk di sekolah-sekolah, untuk mendorong langkah-langkah pencegahan dan melindungi kesehatan anak.
Situasi semakin diperburuk dengan erupsi Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Indonesia, yang berada di antara Pulau Jawa dan Sumatra. Erupsi tersebut menyemburkan abu vulkanik ke sejumlah wilayah Indonesia bagian barat dan berdampak pada masyarakat, sekolah, aktivitas penangkapan ikan, serta perjalanan udara internasional.
Gunung tersebut mengalami keruntuhan pada 2018 yang memicu tsunami besar dan menewaskan lebih dari 400 orang. Save the Children segera meluncurkan respons darurat untuk membantu keluarga yang terdampak, dengan memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan anak-anak.
Saat ini, Save the Children meningkatkan kesadaran masyarakat di wilayah yang terdampak erupsi terbaru, termasuk melalui infografis “Cara Melakukan” (How-To) yang ditujukan untuk membantu menjaga keselamatan anak-anak selama terjadi erupsi gunung berapi.
Arshad Malik, Regional Director Asia, Save the Children, mengatakan:
“Bumi, rumah kita bersama, sedang terbakar, dan anak-anak, termasuk di Asia, harus menanggung dampaknya. Asap kebakaran hutan di Indonesia kini telah menyebar ke wilayah yang lebih luas dan membuat anak-anak terpapar polusi udara berbahaya yang dapat mengganggu perkembangan paru-paru dan kesehatan pernapasan, bahkan sebelum paru-paru mereka berkembang secara sempurna. Pendidikan dan kesejahteraan mereka juga turut terdampak.
Ini bukan sekadar krisis kesehatan atau lingkungan, tetapi juga krisis hak anak. Pemerintah dan perusahaan harus segera bertindak untuk mengatasi akar penyebab kebakaran hutan, mencegah terjadinya kebakaran di masa mendatang, serta melindungi anak-anak dari dampak buruk paparan udara yang tercemar.”
Save the Children bekerja di lebih dari 100 negara untuk menangani perubahan iklim melalui berbagai upaya yang dilakukan, dengan menempatkan anak-anak sebagai bagian utama dari aksi iklim.
Selesai.
