Sejak Januari 2023, Kristina (40) telah aktif membangun ketahanan ekonomi melalui kelompok simpan pinjam berbasis komunitas (VSLA) yang mendapat dukungan penuh dari Cargill melalui Program RESILIENCE yang diimplementasikan oleh Save the Children Indonesia.
Kristina tinggal di sebuah dusun terpencil di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, di mana akses terhadap pasar, sumber pendapatan, dan layanan ekonomi masih menjadi tantangan sehari-hari. Jarak menuju pusat kabupaten dapat mencapai enam jam perjalanan, sedangkan jarak menuju pasar terdekat bisa mencapai dua jam. Sementara itu, kondisi jalan sering memburuk saat musim hujan tiba.
Guna membantu meningkatkan pendapatan sekaligus menciptakan kemandirian ekonomi di tengah keterbatasan tersebut, Kristina bersama kelompok VSLA-nya yang terdiri dari 17 perempuan kini melangkah lebih jauh dengan merintis usaha kebun sayur bersama.
Langkah inspiratif Kristina ini kembali mendapat dukungan dari Cargill, salah satunya lewat pelatihan kewirausahaan untuk membantu mereka mengubah aktivitas bertani tradisional menjadi sebuah usaha bersama yang memiliki potensi untuk berkembang secara berkelanjutan. Selain Kristina, pelatihan tersebut juga diikuti oleh 27 orang lainnya dari 25 desa dampingan Program RESILIENCE.
Dari Pengetahuan Menjadi Peluang Ekonomi
Bagi Kristina, pelatihan ini membuka perspektif baru tentang bagaimana sebuah usaha dapat direncanakan dan dikelola secara lebih sistematis.
Selain mempelajari perencanaan usaha, pencatatan keuangan, dan strategi pemasaran, kelompoknya juga diperkenalkan pada praktik pertanian yang lebih berkelanjutan melalui pemanfaatan bahan-bahan lokal seperti kompos, pupuk kandang, dan air bekas cucian beras untuk mendukung kesuburan tanah.
“Selama pelatihan kami mendapat pengetahuan baru. Kami tidak hanya belajar cara menanam, tetapi juga bagaimana mengembangkan usaha yang bisa terus berjalan ke depan,” ujar Kristina.
Pembelajaran tersebut menjadi fondasi penting bagi kelompoknya dalam membangun sumber penghasilan tambahan yang dapat memperkuat ketahanan ekonomi rumah tangga sekaligus meningkatkan akses masyarakat terhadap pangan segar dan bergizi.
Dari Tradisi Menjadi Model Usaha Kolektif
Modal terbesar kelompok Kristina bukan hanya lahan atau peralatan, tetapi budaya gotong royong yang telah lama hidup dalam komunitas Dayak setempat.
Kristina menyediakan satu hektar lahannya untuk digunakan sebagai kebun sayur kelompok. Bersama anggota lainnya, mereka bekerja secara bergiliran tiga kali setiap minggu untuk membuka lahan, menanam, dan menyusun strategi pemasaran hasil panen.
Apa yang sebelumnya menjadi tradisi saling membantu dalam pekerjaan sehari-hari kini berkembang menjadi model usaha kolektif yang memberikan manfaat ekonomi bagi seluruh anggota kelompok.
Melalui pendekatan ini, program tidak hanya memperkuat kapasitas individu, tetapi juga memperkuat modal sosial yang menjadi fondasi penting bagi keberlanjutan usaha masyarakat desa.
Memperkuat Sistem Pangan Lokal
Kelompok Kristina berencana memasarkan hasil panen mereka langsung kepada masyarakat desa melalui penjualan keliling dan promosi menggunakan WhatsApp.
Meski masih berada pada tahap awal pengembangan usaha, inisiatif ini telah menunjukkan potensi yang signifikan. Kehadiran kebun sayur lokal dapat membantu meningkatkan ketersediaan sayuran segar di desa, mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar wilayah, serta memberikan akses yang lebih mudah bagi keluarga untuk memperoleh pangan bergizi.
Bagi masyarakat yang tinggal jauh dari pusat perdagangan, langkah kecil ini menjadi bagian penting dalam membangun sistem pangan lokal yang lebih tangguh.
Investasi pada Perempuan, Dampak bagi Komunitas
Bagi Kristina, manfaat terbesar dari program ini bukan hanya pengetahuan teknis yang diperoleh, tetapi juga meningkatnya rasa percaya diri untuk memulai dan mengembangkan usaha bersama.
Saat ini, kelompoknya mulai merencanakan peluang usaha lain yang dapat melengkapi kegiatan pertanian mereka, termasuk pengolahan bahan makanan menjadi kue dan kerajinan rumah tangga.
Perjalanan mereka masih panjang. Namun, apa yang sedang tumbuh di lahan seluas satu hektar tersebut bukan hanya sayuran. Di sana tumbuh kapasitas baru, peluang ekonomi baru, dan harapan baru bagi perempuan-perempuan desa untuk menjadi penggerak pembangunan komunitas mereka sendiri.
Melalui dukungan Cargill terhadap Program RESILIENCE, komunitas seperti yang dipimpin Kristina memperoleh akses terhadap pengetahuan, keterampilan, dan peluang yang membantu mereka membangun masa depan yang lebih tangguh dan berkelanjutan bagi keluarga serta desa mereka.
