Pagi itu, 15 Agustus 2026, Yohan* (12) sedang mengikuti kegiatan perkemahan Pramuka sekolahnya. Usai senam pagi, ia dan teman-temannya berkumpul menunggu pembagian jadwal mandi. Tak ada yang menyangka, rencana hari itu akan berubah dalam sekejap.
“Tidak lama, guncangan yang sangat besar. Kami dan beberapa ibu guru dan teman-teman langsung lari ke lapangan apel. Ada yang berpelukan, ada yang menangis, dan ada yang gelisah,” kenang Yohan.
Di tengah kepanikan, sejumlah orang tua mulai berdatangan menjemput anak-anak mereka. Isu air laut naik yang sempat beredar menambah kecemasan. Yohan dan teman-temannya akhirnya berlari pulang ke rumah masing-masing, sekitar satu kilometer dari lokasi kemah.
“Sampai di rumah, saya lihat ada orang-orang berdiri di depan jalan, ada yang berburu-buru ke atas lapangan karena takut air laut naik. Ada yang duduk-duduk di depan rumah menunggu anak-anak dia, dan ada juga yang berdiri-berdiri takut tertimpa rumah,” ujarnya.
Para guru berusaha menenangkan situasi. “Guru-guru bilang, ‘Tenang, jangan khawatir. Kalau ada orang tua datang jemput, silakan.’ Habis itu bilang, ‘Diam di tempat, jangan bergerak, jangan berdiri,'” tutur Yohan.
Kecemasan Belum Sepenuhnya Hilang
Saat gempa mengguncang, ibu Yohan sedang berada di rumah bersama sang suami. Kedua anaknya sedang tidak di rumah. Satu di lokasi kemah, satu lagi di rumah kerabat.
“Kita dengan rasa kesal, dengan rasa panik… kita berdoa supaya rumah jangan kenapa-kenapa, kuatkan kami,” kenangnya.
Lima hari berikutnya, rasa was-was itu belum sepenuhnya hilang. “Terus terang sekarang sampai saat ini kita merasa masih kayak rasa ketakutan. Yang pertama, kita doa banyak supaya gempa ini jangan gempa lagi, supaya kita tetap beraktivitas seperti biasa,” ujarnya.
Sejak kejadian itu, keluarga Yohan, seperti banyak keluarga lain di Nagekeo, memilih tidur di luar rumah, waspada terhadap gempa susulan yang masih kerap terjadi.

Ruang untuk Bernyanyi dan Bermain
Di tengah kondisi darurat, tim respons CIS Timor dan Save the Children Indonesia hadir di salah satu titik pengungsian di Nagekeo untuk mengadakan kegiatan dukungan psikososial (Psychosocial Support — PSS) bagi anak-anak. Ini menjadi ruang bagi mereka untuk sejenak kembali merasa aman.
Pagi itu, suasana cemas berganti jadi riuh suara anak-anak. Mereka berkumpul membentuk lingkaran, bernyanyi bersama, menggambar, serta belajar tentang jalur evakuasi dan tas siaga bencana. Sekitar 60 anak usia dini hingga remaja sibuk mewarnai gambar-gambar hewan yang dibagikan oleh tim.
Yohan menjadi salah satu anak yang antusias mengikuti kegiatan tersebut, penuh semangat mewarnai gambar seekor sapi. Ketika ditanya apakah ia rindu bersekolah, jawaban Yohan singkat namun penuh makna: “Rindu.”
Harapan Penting dan Sederhana

Meski masih menyimpan rasa takut, Yohan menitipkan harapannya untuk pemulihan kampung halamannya.
“Harapan saya untuk sekolah-sekolah atau bangunan rumah-rumah yang rusak parah, rusak sedang, dan rusak ringan, mohon minta bantuan untuk bisa membantu dan merehab sekolah dan rumah-rumah warga,” ujarnya.
Harapan senada juga datang dari sang ibu, mewakili banyak orang tua lain di Nagekeo yang menantikan anak-anak mereka kembali ke rutinitas.
“Harapan kami sebagai orang tua untuk anak-anak kita, bahwa anak-anak kami selalu kuat, selalu sehat. Dan semoga kita selalu berdoa semoga gempa cepat berakhir, anak-anak kita supaya masuk sekolah lagi seperti biasa,” ujarnya.
Kisah Yohan dan keluarganya adalah satu dari ratusan ribu anak di Nusa Tenggara Timur yang terdampak gempa. Kegiatan dukungan psikososial menjadi salah satu langkah awal Save the Children Indonesia dan CIS Timor untuk hadir di sisi anak-anak dan keluarga, memberi ruang bagi mereka untuk kembali bermain, bernyanyi, dan berharap, di tengah proses pemulihan yang masih panjang.
*) Nama anak dalam artikel ini disamarkan untuk melindungi identitasnya.
