Di banyak wilayah pedesaan, orang muda memiliki semangat dan ide, tetapi tidak selalu memiliki akses terhadap pelatihan, pendampingan, dan jaringan yang bisa membantu mereka mengubah ide menjadi langkah nyata. Kondisi ini juga dirasakan oleh sebagian orang muda di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.
Melalui Program RESILIENCE, Save the Children Indonesia dengan dukungan pendanaan dari Cargill menghadirkan pelatihan pengembangan diri untuk orang muda. Kegiatan ini tidak hanya membahas kewirausahaan, tetapi juga mengajak peserta memahami potensi diri, membangun pola pikir yang lebih terarah, serta melihat peluang masa depan secara lebih realistis.
Menemukan Pemahaman Baru tentang Diri Sendiri
Bagi Rinawati (28), pelatihan ini menjadi pengalaman yang membuka cara pandangnya terhadap diri sendiri. Awalnya ia mengikuti pelatihan karena ingin tahu bagaimana Save the Children mendampingi masyarakat dan orang muda di wilayah tempat ia tinggal. Namun di tengah proses kegiatan, ia justru menemukan pemahaman baru tentang dirinya sendiri.
Melalui sesi personality profiling, pemetaan karakter dan gaya kerja peserta dan refleksi diri, Rinawati mulai menyadari sisi-sisi yang selama ini jarang ia perhatikan. Ia memahami bahwa dirinya memiliki semangat yang kuat dan tidak mudah menyerah, tetapi juga sering menunda pekerjaan.
“Setelah diskusi bersama tadi, aku jadi lebih memahami diriku seperti apa,” ungkap Rinawati.
Pengalaman ini membuatnya mulai melihat pentingnya pengembangan diri, termasuk membangkitkan kembali ketertarikannya pada dunia usaha. Saat masih kuliah di luar Kalimantan, Rinawati pernah menjalankan usaha keripik singkong pedas yang dipasarkan kepada mahasiswa rantau asal Kalimantan. Usaha itu berjalan selama dua tahun sebelum terhenti karena ia harus kembali ke Kalimantan untuk bekerja. Kini, keinginan untuk membangun kembali usaha tersebut mulai muncul lagi.

Dari Pengalaman Coba-coba ke Langkah yang Terstruktur
Pengalaman serupa juga dirasakan Widodo (28). Sehari-hari ia menjalankan usaha toko alat tulis kantor dan percetakan, sekaligus aktif sebagai fotografer pernikahan dan anggota kelompok peternakan ikan lele bersama rekan-rekannya. Meski memiliki pengalaman menjalankan berbagai usaha, selama ini semuanya berjalan berdasarkan pengalaman sehari-hari, tanpa perencanaan yang terstruktur.
Melalui pelatihan ini, Widodo mulai memahami bahwa sebuah usaha membutuhkan arah yang jelas dan langkah yang terstruktur. Materi tentang business model canvas, kerangka sederhana untuk memetakan target pasar, nilai usaha, dan langkah pengembangan, menjadi bagian yang paling membekas baginya.
“Jadi ada runtutannya. Siapa yang jadi target, seperti apa usahanya, dan bagaimana langkah ke depannya,” ungkap Widodo.
Menurutnya, banyak orang muda sebenarnya memiliki keinginan untuk berkembang, tetapi belum memiliki akses terhadap pembelajaran atau pendampingan yang membantu mereka menyusun langkah secara realistis. Ia menilai kegiatan seperti ini penting karena tidak hanya memberikan materi, tetapi juga membuka ruang belajar bersama bagi orang muda di wilayahnya.

Tantangan Menjaga Konsistensi
Di balik antusiasme peserta, tantangan lain yang dirasakan bersama adalah menjaga komitmen orang muda untuk terus terlibat dalam proses belajar setelah pelatihan usai. Menurut Rinawati, mengajak orang muda hadir dalam kegiatan sebenarnya tidak terlalu sulit. Tantangan terbesarnya justru menjaga konsistensi agar mereka tetap aktif setelahnya.
Untuk menjawab tantangan ini, Program RESILIENCE menginisiasi sebuah Youth Center, ruang belajar berkelanjutan bagi orang muda di wilayah tersebut. Di dalamnya, orang muda dapat mengikuti berbagai program, mulai dari pengembangan diri, pelatihan kewirausahaan, hingga pemberdayaan ekonomi.
Hal yang membedakan Youth Center dari pelatihan biasa adalah pendekatannya yang menyeluruh. Orang muda tidak hanya datang untuk menyerap materi, tetapi didampingi secara aktif, dipertemukan dengan jaringan yang lebih luas, serta didorong untuk saling mendukung agar bisa tumbuh bersama. Pada paruh pertama tahun 2026, sebanyak 17 orang muda dari Kecamatan Marau, Kabupaten Ketapang, telah mengikuti program pelatihan dan Youth Center ini. Bentuk pendampingan ini akan menjadi model untuk diterapkan di wilayah kecamatan lain.
Ke depan, kelompok orang muda Marau tengah merancang sejumlah rintisan usaha bersama, meliputi budi daya jamur, kebun sayur, usaha produk sanitasi, dan budi daya ikan lele. Kebun sayur direncanakan memanfaatkan lahan milik Widodo yang disediakan secara sukarela untuk mendukung rintisan tersebut. Sementara itu, budi daya jamur akan menempati lahan desa yang saat ini masih dalam proses perizinan, sedangkan budi daya ikan lele memanfaatkan lahan milik gereja setempat.
Widodo melihat banyak orang muda membutuhkan ruang pengembangan diri yang benar-benar menjawab kebutuhan mereka. Baginya, Youth Center bisa menjadi jawaban itu. Ketika orang muda diberi kesempatan belajar dan didampingi secara konsisten, mereka akan lebih berani mencoba hal baru dan mempersiapkan masa depan dengan lebih terstruktur.
Langkah Kecil, Perubahan Cara Pandang
Bagi Rinawati dan Widodo, pelatihan ini mungkin berlangsung singkat. Namun pengalaman yang mereka dapatkan mengubah cara pandang terhadap diri sendiri dan masa depan. Rinawati merasa mendapat semangat baru setelah belajar bersama peserta lain. Widodo mulai memahami pentingnya disiplin dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Perjalanan transformasi diri yang mereka tempuh tentu masih panjang. Namun setidaknya, mulai tumbuh kesadaran bahwa masa depan tidak datang begitu saja, melainkan perlu dipersiapkan melalui pengembangan diri yang konsisten. Dukungan dari RESILIENCE, termasuk penyediaan ruang belajar seperti Youth Center menjadi salah satu cara memastikan kesadaran ini tidak berhenti di satu pelatihan, tetapi terus tumbuh bersama komunitas.
