Bagi Rian* (16), seorang remaja tuli, dunia terkadang terasa memiliki sekat yang memisahkan dirinya dengan lingkungan sekitar. Namun, sebuah langkah berani membawanya masuk ke dalam lingkaran Program PEACE FOR ALL, sebuah ruang yang mengubah rasa canggung menjadi sebuah aksi nyata yang penuh inspirasi.
Rian mendapatkan kesempatan berharga untuk terlibat langsung di dalam program ini. Ia tidak hanya mengikuti pelatihan di sekolahnya sendiri, melainkan juga dengan kawan-kawan dari berbagai sekolah lain dalam forum bersama lintas sekolah.
Pada awalnya, Rian tak menampik ada rasa canggung yang menggelayut saat harus berhadapan dengan kepungan wajah-wajah baru yang belum pernah ia kenal. Namun, sekat itu perlahan runtuh. Melalui berbagai aktivitas kelompok yang dirancang secara inklusif, permainan interaktif, hingga ruang diskusi yang hangat, Rian mulai menemukan kenyamanan. Ia mulai membuka diri, berkomunikasi, dan berkolaborasi erat dengan teman-teman barunya.
“Saya senang bisa bertemu teman-teman dari sekolah lain dan bermain bersama,” ungkap Rian dalam bahasa isyarat. Ia tersenyum lebar saat menceritakan kembali momen paling berkesan.
PEACE FOR ALL adalah program yang diluncurkan oleh UNIQLO, perusahaan ritel global asal Jepang, untuk berkontribusi dalam menciptakan perdamaian global. Save the Children dan Yayasan IBU berkolaborasi dengan UNIQLO untuk menjalankan program ini di Kota Bandung, Jawa Barat. Program bertujuan untuk mendukung penciptaan ruang aman bagi anak, termasuk pemenuhan hak atas fasilitas sanitasi yang layak dan sehat di sekolah.
Selain itu, UNIQLO memiliki proyek t-shirt perdamaian karya para kolaborator dunia. Di Indonesia, sebagian hasil penjualan produk t-shirt didonasikan melalui Save the Children Indonesia.
Belajar Menjadi Agen Perubahan
Lewat sesi peacebuilding (pembangunan perdamaian), Rian menyerap banyak hal berharga tentang pentingnya saling menghargai, merayakan perbedaan, dan bagaimana cara menjaga lingkungan sekolah agar tetap aman dan ramah bagi setiap anak.
Menariknya, pengetahuan berharga itu tidak ia simpan sendiri. Bersama kelompok teman barunya, Rian menumpahkan ide-ide kreatif mereka ke dalam sebuah media visual. Mereka merancang poster edukatif bertemakan perdamaian dan inklusivitas. Kini, poster penuh warna tersebut telah terpasang rapi di dinding sekolah, menjadi pengingat harian sekaligus sumber informasi bagi seluruh siswa lainnya.
“Saya dibantu teman-teman membuat poster supaya teman-teman tahu bagaimana saling menghargai dan menciptakan sekolah yang sehat,” ujar Rian bangga.
Ruang Aman untuk Tumbuh dan Berpartisipasi
Menurut guru pendamping Rian, kegiatan inklusif seperti ini turut mendongkrak rasa percaya diri Rian dalam berinteraksi sosial. Lebih dari itu, program ini memberikan kesempatan yang setara untuk anak-anak berkontribusi menyebarkan pesan-pesan positif di lingkungan sekolah.
Bagi Rian, keterlibatan dalam kampanye PEACE FOR ALL dan interaksi lintas sekolah adalah paket lengkap: kesempatan emas untuk belajar hal baru, menjalin persahabatan tanpa batas, dan berpartisipasi aktif dalam menciptakan sekolah yang lebih inklusif.
Kisah Rian memperlihatkan apa yang bisa terjadi ketika sekolah membuka ruang aman bagi semua anak untuk berpartisipasi dan menyuarakan gagasan mereka. Anak-anak seperti Rian tumbuh menjadi agen perubahan yang menumbuhkan budaya damai, sehat, dan saling menghargai di lingkungan sekitarnya.
*) Nama disamarkan untuk melindungi data pribadi anak.
