Cerita Perubahan

Kelas Baru untuk Tahun Ajaran Baru: Kisah Ihsan* dan Rafi* di Aceh Tamiang

Jalanan sekitar Aceh Tamiang berdebu pagi itu. Cuaca yang cerah membuat gundukan bekas lumpur masih terlihat menutupi badan jalan. Rahma mengantar Ihsan*, anaknya berusia 5 tahun, menuju taman kanak-kanak (TK) tak jauh dari rumah mereka. Hari itu, Ihsan dan teman-temannya akan belajar di ruang kelas baru yang dibangun oleh Save the Children dan mitra pascabencana banjir bandang akhir tahun 2025.

Ihsan tak henti-hentinya bertanya kapan ia sampai di sekolah. Di sepanjang jalan berdebu, ia seakan tak peduli. Dalam bayangannya hanya satu hal: segera sampai di sekolah, tempat ia akan belajar dan bermain bersama.

Enam bulan lalu, keceriaan pagi ini nyaris tak terbayangkan. Saat banjir melanda Aceh Tamiang, rumah keluarga Rahma termasuk wilayah yang terdampak. Begitu juga TK tempat Ihsan akan bersekolah, rusak terendam air dan lumpur. Mereka untuk sementara tinggal di rumah adik mereka yang berada di daerah lebih tinggi dan tidak tergenang banjir. Namun Rahma khawatir bagaimana sekolah anaknya. Ihsan masuk usia TK pertengahan tahun ini.

“Ihsan ini anak pertama, jadi saya ingin mengusahakan pendidikan yang baik. Jangan sampai dia enggak bisa sekolah karena sekolahnya tutup atau rusak akibat banjir,” ungkap Rahma.

Semangat Baru bagi Ihsan

Kekhawatiran itu pada akhirnya tidak menjadi kenyataan. Ruang kelas TK itu kini sudah berdiri kembali dengan bangunan baru berukuran 6×12 meter, terbagi menjadi dua ruangan yang mampu menampung hingga 40 siswa.

“Sejak bangun setelah subuh, dia sudah enggak sabar mau berangkat sekolah,” cerita Rahma.

Pembangunan Ruang Belajar Sementara oleh Save the Children dan mitra ini dimulai Mei 2026 dan selesai awal Juli 2026. Pada tahun ajaran baru ini, TK tempat Ihsan bersekolah menerima 35 siswa baru. Setiap kelas diisi 15–20 anak, dan masing-masing kelas diajar oleh dua hingga tiga orang guru.

“Kami sempat khawatir belum bisa menerima murid baru tahun ajaran ini kalau bangunan lama masih kami pakai, karena sebenarnya sudah tidak layak dan berbahaya buat anak-anak,” jelas Lia, kepala taman kanak-kanak tempat Ihsan bersekolah. Bangunan lama masih ada dan kini digunakan untuk menyimpan perlengkapan mengajar dan alat bermain.

Sesampainya di sekolah, Ihsan segera bergabung dengan teman-teman barunya. Tanpa canggung ia berdiri paling depan saat anak-anak berbaris sebelum masuk kelas. Senyumnya mengembang. Dengan bersemangat ia mengikuti guru-gurunya bernyanyi sambil melakukan gerakan tarian sederhana, sebelum satu per satu dipanggil masuk ke kelas masing-masing.

Ruang Kelas Modular, Ruang Aman bagi Rafi dan Teman-Temannya

Suasana serupa terjadi di salah satu SLB di Aceh Tamiang. Pada hari yang sama, senyum dan tawa Rafi* tak henti mengembang. Hari yang telah lama dinanti akhirnya tiba: hari pertama masuk sekolah pada tahun ajaran baru. Murid kelas 3 SD ini kembali berangkat ke sekolah diantar ibunya, membawa tas merah kesayangan.

Berbulan-bulan ia terpaksa belajar dari rumah akibat bencana banjir dan longsor di Sumatera yang menghancurkan rumah dan sekolahnya. Selama itu pula, kerinduannya bertemu teman dan kembali bersekolah semakin besar.

Bagi Rafi, sekolah bukan sekadar tempat belajar, melainkan tempat di mana ia merasa diterima, bisa bermain, dan bertumbuh. Kini kerinduannya terbayar berkat hadirnya tiga ruang kelas modular yang dibangun Save the Children bersama ParagonCorp.

Bangunan modular ini berukuran 6×18 meter dan dibagi menjadi tiga ruang kelas. Setiap kelas rencananya akan diisi maksimal 7 anak, agar ruang gerak lebih leluasa mengingat siswa memiliki kebutuhan khusus.

Sebelumnya, para pengajar sempat khawatir ruang kelas bagi murid SLB belum siap karena masih diperbaiki. Dengan adanya bangunan modular, kini mereka memiliki ruang belajar sementara agar anak-anak bisa kembali bersekolah pada tahun ajaran baru.

“Kami sangat berterima kasih. Akhirnya anak-anak bisa kembali belajar di tempat yang nyaman seperti ini. Semua lelah kami terbayar ketika melihat anak-anak datang dengan wajah ceria,” ungkap Gunawan, salah satu staf pengajar SLB tersebut.

Bagi Ihsan, Rafi, dan anak-anak lain, ruang kelas lebih dari sekadar bangunan. Memulihkan kembali gedung sekolah yang rusak juga berarti mengembalikan harapan, keceriaan, dan semangat anak-anak.

*) Nama disamarkan untuk melindungi identitas anak.

Scroll to Top