Di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan bencana alam di Indonesia, kesiapsiagaan menjadi langkah penting untuk melindungi anak-anak dan memastikan keberlangsungan pendidikan.
Berangkat dari semangat tersebut, Save the Children Indonesia bersama CIS Timor melalui program Generation Ready (GENRE) menyelenggarakan Serial Lokakarya Pilar-Pilar Utama Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) dan Dialog Kebijakan Lintas Generasi pada 25–27 Juni 2026 di Hotel Harper, Kupang.
Program GENRE didukung penuh oleh Pemerintah Australia melalui Australian NGO Cooperation Program (ANCP), kegiatan ini mempertemukan lebih dari 60 peserta dari berbagai elemen krusial: perwakilan pemerintah provinsi dan kabupaten, organisasi penyandang disabilitas, organisasi hak-hak perempuan, hingga perwakilan anak-anak Kabupaten Kupang dan Kabupaten Sumba Barat Daya.
Menolak Berhenti Belajar Saat Bencana Melanda
Rangkaian kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur, Ambrosius Kodo, S.Sos., M.M. Dalam sambutannya, ia menekankan pentingnya membangun kemandirian sebagai bekal utama dalam menghadapi krisis, sehingga setiap satuan pendidikan mampu merespons bencana secara lebih siap dan tangguh.
“Terkait kebencanaan ini, sebenarnya bagaimana kita secara mandiri bisa menolong diri kita sendiri? Penting untuk membangun kesiapsiagaan di dalam satuan pendidikan,” tegas Ambrosius. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tidak bisa berjalan sendiri dan sangat membutuhkan kolaborasi erat dengan para mitra strategis.
Senada dengan hal tersebut, Direktur CIS Timor, Haris Oematan, mengingatkan kembali memori kolektif saat erupsi Gunung Lewotobi melanda. Ia menegaskan bahwa tujuan besar program ini adalah memastikan hak anak atas pendidikan tidak terputus, sekacau apa pun situasinya.
“Kita berharap dapat berinvestasi pada masa depan yang lebih tangguh. Kita berharap proses pendidikan tetap berjalan meskipun di tengah bencana,” ujar Haris.
Merumuskan Strategi Nyata Lewat World Café
Pada hari pertama, peserta mengikuti diskusi panel yang menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, BAPPERIDA NTT, BPBD NTT, dan Save the Children Indonesia. Diskusi ini membahas penguatan kebijakan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), implementasi program Generation Ready (GENRE), serta pentingnya pendekatan yang berpusat pada anak dan responsif terhadap Gender Equality, Disability, and Social Inclusion (GEDSI).
Diskusi ini dipandu oleh Dismas Banu selaku Emergency Response Team dari CIS Timor. Para peserta terlibat aktif dalam diskusi kelompok bermetode World Café, di mana peserta berpindah-pindah meja untuk saling berbagi ide dan memecahkan masalah bersama.
Hasil dari diskusi ini menghasilkan peta peluang konkret untuk mengintegrasikan tiga pilar utama SPAB: Fasilitas Aman, Manajemen Bencana, dan Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana ke dalam dokumen perencanaan daerah seperti RKPD dan RPJMD.
Dari Pesan Advokasi hingga Alokasi Anggaran Konkret
Memasuki hari kedua dan ketiga, dinamika forum semakin tajam. Keterlibatan aktif anak-anak, orang dengan disabilitas, dan organisasi perempuan memberi warna penting dalam merumuskan pesan advokasi berbasis data yang inklusif. Mereka memetakan isu-isu prioritas yang sering kali luput, khususnya dampak bencana terhadap kelompok rentan.
Dialog Kebijakan Lintas Generasi mencapai puncaknya pada hari ketiga dengan melahirkan komitmen nyata. Beberapa poin strategis yang berhasil disepakati bersama meliputi:
- Draf MoU atau SK Bersama antar-OPD mengenai integrasi SPAB.
- Rencana aksi kolaboratif dengan alokasi anggaran nyata melalui APBD dan Dana BOS.
- Rekomendasi integrasi SPAB ke dalam Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD).
- Panduan teknis penggunaan Dana BOS untuk komponen sekolah aman di tingkat kabupaten.
Komitmen Jangka Panjang untuk Pesisir NTT
Program GENRE berkomitmen untuk terus mengawal peningkatan kesadaran dan kesiapsiagaan komunitas sekolah dasar di wilayah pesisir Kabupaten Kupang dan Sumba Barat Daya hingga 31 Juli 2027.
Melalui lokakarya ini, NTT sedang meletakkan batu pertama bagi sistem pendidikan yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga tangguh dan “siap siaga” menghadapi tantangan alam di masa depan.
