Cerita Perubahan

Save the Children dan Kementerian Agama Perkuat Kesetaraan Gender di Madrasah Tsanawiyah

Kesetaraan gender tidak dapat diwujudkan hanya melalui aturan, tetapi juga perlu hadir dalam pengalaman belajar sehari-hari. Berangkat dari hal tersebut, Save the Children Indonesia berkolaborasi dengan Kementerian Agama, dengan dukungan pendanaan dari P&G, mengimplementasikan Program We See Equal di sepuluh madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Cianjur.

Program We See Equal hadir untuk meningkatkan kesetaraan gender di lingkungan madrasah tsanawiyah melalui integrasi kesadaran gender, perlindungan anak, dan dukungan kesehatan mental untuk mengatasi potensi intoleransi, perundungan, serta kekerasan seksual.

Kolaborasi dengan Kementerian Agama

Menurut Hj. Nana Rostiana, M.Ag., (Plt.) Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bandung, pendekatan yang digunakan dalam Program We See Equal sejalan dengan berbagai program Kementerian Agama dalam membangun lingkungan pendidikan yang inklusif.

“Berkolaborasi dengan Save the Children, kami di Kementerian Agama berusaha mewujudkan pendidikan yang setara tanpa ada diskriminasi gender. Sehingga setiap siswa, apapun gendernya, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, berpartisipasi, dan meraih cita-citanya,” ungkap Rostiana.

Kolaborasi tersebut sejalan dengan pendekatan Madrasah Ramah Anak dan Kurikulum Berbasis Cinta yang diinisiasi Kementerian Agama. Madrasah Ramah Anak dan Kurikulum Berbasis Cinta adalah dua konsep pendekatan dalam dunia pendidikan Islam (madrasah) yang berfokus pada penciptaan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan berorientasi pada pemenuhan hak serta tumbuh kembang anak.

Melalui Program We See Equal, madrasah diharapkan tidak hanya berfungsi sebagai tempat transfer ilmu agama dan umum, tetapi menjelma menjadi rumah kedua yang aman bagi anak. Kolaborasi antara Save the Children dan Kementerian Agama diharapkan dapat memberikan dampak langsung dalam memperkuat kesetaraan gender, perlindungan anak, dan mendukung kesehatan mental siswa.

Setelah dua tahun diimplementasikan, dampak dari Program We See Equal mulai dirasakan oleh madrasah-madrasah yang terlibat dalam program. Dr. H. Jeje Jaenudin, M.M.Pd., salah satu kepala madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung menuturkan, kehadiran program membawa sejumlah perubahan positif pada siswa di madrasahnya.

“Kehadiran Program We See Equal ini telah meningkatkan sikap saling menghormati antarsiswa dan mengurangi praktik perundungan, sehingga suasana belajar menjadi lebih baik dibandingkan sebelumnya,” ungkap Jaenudin.

Hal senada juga diungkapkan oleh Nurul Ashfiani, salah satu guru madrasah tsanawiyah di Kabupaten Cianjur. “Setelah kehadiran program ini, saya merasakan banyak sekali dampak positif yang ditunjukkan oleh siswa. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan perundungan, kekerasan, itu kini menurun drastis dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Ashfiani.

Perubahan positif tidak hanya dirasakan oleh tenaga pendidik, namun juga peserta didik. Nabila* (13), seorang siswi madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung, mengaku kini memahami pentingnya kesadaran gender dan saling dukung antara laki-laki dan perempuan.

“Di lingkungan belajar seperti madrasah, anak laki-laki dan perempuan itu harus saling dukung. Ketika mereka saling dukung, itu akan menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan positif,” ungkap Nabila*.

Kesadaran gender tersebut juga berdampak pada cara pandang siswa dalam meraih cita-cita. Farhan* (13), seorang siswa madrasah tsanawiyah di Kabupaten Bandung, kini semakin yakin bahwa kesempatan untuk meraih cita-cita bisa terbuka bagi semua tanpa memandang gender.

“Laki-laki dan perempuan harus bersatu agar mimpi mereka bisa tercapai untuk Indonesia. Karena mimpi bisa diraih oleh siapa saja, jadi laki-laki dan perempuan harus saling dukung dan melengkapi dalam meraih mimpi mereka,” ungkap Farhan*.

Anak-anak di salah satu Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kabupaten Bandung mengikuti sesi “Peta Tubuhku” dari modul CHOICE di dalam kelas. Modul CHOICE merupakan bagian dari Program We See Equal yang disusun sebagai upaya untuk memberikan pemahaman mengenai pentingnya penguatan karakter, perlindungan anak, dan kesetaraan gender bagi siswa.

Translation: Children at an Islamic junior high school (MTs) in Bandung Regency participate in the “My Body Map” session from the CHOICE module in the classroom. The CHOICE module is part of the We See Equal Program, which is designed to provide students with an understanding of the importance of character building, child protection, and gender equality.

Komitmen untuk Menjaga Keberlanjutan

Berbagai perubahan positif yang muncul dari Program We See Equal diharapkan dapat dirasakan pula oleh lebih banyak madrasah meski program telah berakhir. Oleh karena itu, Kementerian Agama di Kabupaten Bandung dan Cianjur mulai menyiapkan langkah-langkah untuk memastikan keberlanjutan praktik baik program.

Di Kabupaten Bandung misalnya, materi dan modul yang digunakan dalam Program We See Equal akan diintegrasikan ke dalam kegiatan pembelajaran sehari-hari melalui peran guru dan wali kelas. Dengan demikian, nilai-nilai kesetaraan dan anti-kekerasan dapat menjadi bagian dari proses pendidikan di madrasah.

Sementara itu, di Kabupaten Cianjur, Kementerian Agama mendorong penyebarluasan program melalui pengawas madrasah, kelompok kerja madrasah, serta forum guru. Sepuluh madrasah percontohan yang telah mengikuti program akan didorong untuk menjadi pusat pembelajaran bagi madrasah lain di sekitarnya. Melalui pendekatan ini, pengalaman dan praktik baik yang telah diterapkan dapat dibagikan kepada lebih banyak satuan pendidikan.

Menurut H. Budi Lukman, M.Ag., Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementerian Agama Kabupaten Cianjur, keberlanjutan praktik baik program juga akan diperkuat melalui pemantauan dan pembinaan secara berkala.

“Kami ingin praktik baik dari program We See Equal dapat diterapkan di seluruh madrasah di Kabupaten Cianjur, bukan hanya di madrasah tsanawiyah saja, tapi di semua jenjang, mulai dari raudhatul athfal, madrasah ibtidaiyah, hingga madrasah aliyah. Kami meyakini bahwa pengenalan nilai-nilai kesetaraan dan anti-kekerasan perlu ditanamkan sejak usia dini,” ungkap Lukman.

Kolaborasi antara Save the Children dan Kementerian Agama menunjukkan bagaimana program dan kebijakan pemerintah dapat saling mendukung dalam menciptakan lingkungan belajar yang setara, aman, dan berdaya. Melalui dukungan kebijakan, keterlibatan sekolah, serta komitmen untuk memperluas praktik baik ke lebih banyak madrasah, upaya tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi siswa, guru, dan juga komunitas.

*) nama diubah untuk perlindungan anak.

Scroll to Top