Dua anak muda Indonesia, Aflah dan Nizha, menjadi delegasi dari program Skills to Succeed (S2S) Indonesia dalam forum internasional Leaders of Change: Youth, AI, and the Future of Work yang diselenggarakan oleh program Skills to Succeed Save the Children US pada 13 Mei 2026 di Washington DC.
Kegiatan yang berlangsung di Penthouse Rooms of Mindspace, One Franklin Square, Washington DC tersebut mempertemukan pemimpin industri, akademisi, organisasi non-profit, dan sektor swasta untuk membahas bagaimana akal imitasi atau kecerdasan buatan (AI) membentuk masa depan dunia kerja bagi generasi muda secara global.
Forum ini membahas berbagai isu penting, mulai dari pemanfaatan AI untuk pengembangan karier, keterampilan kerja masa depan, hingga bagaimana teknologi dapat mendukung inklusi ekonomi bagi kelompok muda yang rentan.
Dalam sesi diskusi, Aflah dan Nizha membagikan pengalaman serta perspektif anak muda Indonesia terkait penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari, pendidikan, dunia kerja, hingga kewirausahaan. Keduanya juga menyoroti pentingnya memastikan teknologi AI dapat diakses secara inklusif oleh semua anak muda, termasuk penyandang disabilitas.
AI Semakin Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari Anak Muda
Dalam paparannya, Nizha menjelaskan bahwa banyak anak muda kini melihat AI sebagai alat bantu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, bukan lagi sesuatu yang menakutkan atau sulit diakses.
Menurut Nizha, pemanfaatannya beragam, mulai dari membantu pembuatan konten, pengembangan usaha kecil, penyusunan CV, hingga mendukung aksesibilitas bagi orang dengan disabilitas. Salah satu peserta muda dengan low vision, misalnya, menggunakan AI untuk membantu membacakan teks dan menjelaskan informasi visual melalui fitur narasi audio.
“Bagi saya, AI bukan hanya alat produktivitas, tetapi juga mulai menjadi alat inklusi,” jelasnya.
Tantangan di Era AI yang Perlu Diantisipasi Remaja dan Orang Muda
Meski melihat banyak peluang, Aflah dan Nizha juga menyoroti sejumlah tantangan yang dirasakan orang muda.
“Anak muda selalu mencari keuntungan dengan adanya AI, namun di sisi lain mereka juga khawatir kehilangan kreativitas, critical thinking, dan identitasnya,” kata Nizha.
Selain itu, isu kesenjangan akses teknologi juga menjadi perhatian penting. Tidak semua anak muda memiliki akses internet stabil, literasi digital memadai, maupun kemampuan untuk mengakses layanan AI berbayar.
Aflah menambahkan bahwa aksesibilitas teknologi AI bagi pengguna dengan disabilitas juga masih perlu diperkuat agar manfaat teknologi dapat dirasakan secara setara.
Orang Muda sebagai Perancang Solusi, Bukan Sekadar Peserta
Dalam forum tersebut, Aflah dan Nizha menekankan bahwa orang muda seharusnya tidak hanya dilibatkan sebagai peserta, tetapi juga sebagai bagian dari perancang solusi dalam pengembangan program AI dan dunia kerja masa depan.
“Menurut saya, sudah bukan waktunya menganggap orang muda hanya sebagai partisipan. Sudah saatnya, kami harus terlibat dalam prosesnya,” tegas Aflah.
Nizha menambahkan bahwa kesiapan menghadapi era AI bukan hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, empati, adaptasi, dan pengambilan keputusan yang etis.
Keterlibatan Aflah dan Nizha dalam forum internasional ini merupakan bagian dari komitmen Save the Children melalui program Skills to Succeed, yang berfokus pada penguatan kesiapan kerja generasi muda.