Pemerintah berencanamenghadirkan fasilitas penitipan anak (daycare) di kawasan industri dan pemukiman buruh. Save the Children Indonesia mendukung inisiatif ini karena daycare dapat mendukung kesejahteraan pekerja, khususnya perempuan, sekaligus memastikan anak tetap mendapatkan pengasuhan yang aman dan berkualitas.
Dalam wawancara bersama RRI Pro 3, Tata Sudrajat, Direktur Senior Advokasi, Kampanye, dan Hubungan Pemerintah di Save the Children Indonesia, menyebut bahwa kebijakan tersebut mencerminkan kehadiran negara dalam merespons kebutuhan keluarga pekerja.
“Pertama, tentu kita dukung pengadaan daycare untuk perempuan atau ibu muda, terutama yang yang bekerja di industri. Karena ini mencerminkan satu, kehadiran negara untuk merespons kebutuhan dari para pekerjanya, terutama perempuan,” kata Tata.
Keberadaan daycare juga dapat menjadi dukungan tambahan bagi keluarga pekerja yang kedua orang tuanya harus bekerja. Meski demikian, ia menegaskan bahwa pengasuhan anak tetap menjadi tanggung jawab utama orang tua.
Regulasi dan Standar Pengasuhan Harus Jadi Prioritas
Penyelenggaraan daycare tidak cukup hanya menghadirkan fasilitas fisik. Regulasi, pengawasan, serta kualitas pengasuhan juga harus menjadi perhatian utama.
Menurut Tata, pemerintah harus memiliki kelembagaan yang jelas dalam menerapkan standarisasi dan pengelolaan daycare.
“Jadi, penyelenggaraan pengasuhan ini harus harus dengan izin dari pemerintah. Terus yang kedua adalah soal memastikan bahwa para pengasuhnya terampil, terlatih, terdidik, dan tersertifikasi. Artinya, pengasuhan anak harus punya kompetensi. Selanjutnya yang ketiga, tentu juga tentang fasilitas layanan, termasuk rasio antara jumlah pengasuh dan anak termasuk balita,” jelas Tata.
Dalam hal ini, perizinan dan sertifikasi bagi pengasuh maupun penyelenggara daycare perlu diterapkan. Beberapa kasus kekerasan di layanan pengasuhan anak yang terjadi di sejumlah daerah menjadi pengingat penting bahwa standar layanan tidak boleh diabaikan.
Selain itu, rasio pengasuh dan anak juga perlu diperhatikan agar anak mendapatkan perhatian yang cukup selama berada di daycare.
“Jangan lebih dari lima (balita), lima itu kebanyakan. Tiga (pengasuh) mungkin ideal, satu banding tiga.”
Daycare Bukan Sekadar Tempat Penitipan Anak
Save the Children menilai daycare idealnya tidak hanya menjadi tempat penitipan anak ketika orang tua bekerja, tetapi juga ruang yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal karena masa balita merupakan periode penting dalam perkembangan otak dan emosional anak. Maka dari itu, pengasuh perlu mampu membangun kedekatan emosional atau bonding dengan anak agar anak merasa aman dan nyaman.
“Ini bukan soal pekerjaan seperti penunggu bayi atau merawat, tapi pengasuh memang harus menciptakan hubungan kedekatan, keterikatan, dan kelekatan kepada anak,” ucap Tata Sudrajat.
Ia menambahkan bahwa layanan daycare juga perlu mendukung perkembangan kognitif, sosial, emosional, hingga motorik anak melalui pola pengasuhan yang positif dan responsif.
Memastikan Peran Orang Tua Tidak Tergantikan
Di sisi lain, Save the Children menegaskan bahwa keberadaan daycare tidak boleh menggantikan peran orang tua dalam pengasuhan anak. Orang tua tetap perlu menjaga kedekatan dengan anak dan aktif memantau kondisi daycare. Keberadaan daycare justru perlu menjadi dukungan bagi keluarga, bukan membuat orang tua sepenuhnya melepas tanggung jawab pengasuhan.
Tata Sudrajat juga menyampaikan bahwa keberadaan daycare di kawasan industri dapat memberikan dampak positif bagi produktivitas pekerja dan meningkatkan partisipasi perempuan di dunia kerja. Namun, kualitas layanan dan keselamatan anak harus tetap menjadi prioritas utama dalam implementasinya.
Komitmen Save the Children dalam Pengasuhan Anak
Sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas pengasuhan anak di Indonesia, Save the Children selama ini turut mendukung pengembangan model pengasuhan positif bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Model tersebut dapat diakses secara daring melalui platform e-learning dan ditujukan untuk membantu para pengasuh maupun orang tua memahami praktik pengasuhan yang aman dan responsif terhadap kebutuhan anak.
“Save the Children Indonesia bersama KemenPPPA telah mengembangkan model pengasuhan positif yang dapat diakses melalui platform e-learning di website KemenPPPA. Saat ini, sekitar 7.000 peserta telah mengakses modul tersebut. Materi ini diharapkan dapat membantu para calon pengasuh maupun orang tua dalam memahami praktik pengasuhan anak yang aman dan positif,” tutup Tata Sudrajat.
Melalui berbagai upaya tersebut, Save the Children berharap rencana pengembangan daycare di kawasan industri tidak hanya menjadi solusi bagi keluarga pekerja, tetapi juga mampu menghadirkan lingkungan pengasuhan yang aman, berkualitas, dan mendukung tumbuh kembang optimal bagi setiap anak.