Kupang, 19 Mei 2026. Save the Children Indonesia bersama Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (UN Women) dan mitra lokal CIS Timor secara resmi menyelenggarakan lokakarya berbagi pembelajaran, praktik baik, dan evaluasi refleksi Proyek WE NEXUS: Perempuan Berdaya untuk Perdamaian Berkelanjutan yang didanai oleh Pemerintah Korea Selatan melalui KOICA, yang telah dilaksanakan sejak Agustus 2024 hingga Juni 2026.
Program yang berjalan sejak Agustus 2024 ini difokuskan di tujuh desa dampingan di Kabupaten Kupang (Desa Manusak, Raknamo, Camplong 2, dan Tolnaku) dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (Desa Spaha, Oetuke, dan Tuapakas) sebagai upaya membangun ketangguhan masyarakat di wilayah yang memiliki risiko tumpang tindih antara konflik sosial dan bencana alam akibat krisis iklim.
Selama hampir dua tahun terakhir, Program We Nexus mencatat 3.734 keterlibatan peserta, terdiri dari 2.538 peserta perempuan serta 1.196 peserta laki-laki. Program ini turut memperkuat struktur dan mekanisme partisipasi masyarakat di tingkat desa melalui pembentukan 7 Forum Perempuan Desa dan 7 Kelompok Kerja Perdamaian Desa, 7 kelompok VSLA (Village Savings and Loan Association/Kelompok Simpan Pinjam Desa), serta revitalisasi 7 Karang Taruna Desa. Inisiatif ini menjadi ruang bagi masyarakat desa untuk menyampaikan kebutuhan, terlibat dalam proses pengambilan keputusan, dan mendorong pembangunan desa yang lebih inklusif dan setara.
Melalui strategi Kemanusiaan-Pembangunan-Perdamaian (HDP Nexus), pendekatan yang ditujukan untuk meningkatkan koherensi dan kolaborasi di seluruh upaya kemanusiaan, pembangunan, dan perdamaian, Program WE NEXUS membuktikan bahwa partisipasi perempuan mampu menjadi katalisator utama dalam memperkuat kohesi sosial dan ketangguhan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.
“Program WE NEXUS telah memberikan ruang bagi perempuan untuk menjadi aktor aktif yang berkontribusi pada pembangunan perdamaian dan ketangguhan di wilayahnya masing-masing. Pembelajaran yang kita petik hari ini harus menjadi pondasi untuk memastikan Nusa Tenggara Timur selalu tangguh dan damai ke depannya,” ungkap Fadli Usman, Direktur Humanitarian dan Impact Innovation Save the Children Indonesia.
Dukungan penuh dari komunitas internasional juga menjadi pilar penting dalam keberhasilan program ini. Perwakilan UN Women menyampaikan bahwa kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan HDP Nexus sangat penting dalam mengatasi krisis jangka panjang di wilayah rentan seperti Nusa Tenggara Timur, serta memperkuat upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih tangguh dalam menghadapi tantangan di masa depan.
“Melalui sinergi dengan Save the Children dan CIS Timor sebagai mitra lokal, kami menyaksikan peningkatan kapasitas kelompok perempuan yang signifikan. Perempuan menjadi lebih berdaya, diakui, dan terlibat secara bermakna dalam proses pengambilan keputusan di tingkat desa. Melalui Musyawarah Kelompok Perempuan, aspirasi perempuan dihimpun dan disuarakan secara kolektif untuk mempengaruhi kebijakan serta perencanaan dan penganggaran desa. Kolaborasi ini menunjukkan bahwa penguatan kepemimpinan perempuan di berbagai bidang kemasyarakatan memberikan kontribusi nyata dalam membangun ketangguhan dan perdamaian berkelanjutan di desa, termasuk memastikan perlindungan dan pemberdayaan perempuan dalam situasi kemanusiaan. Ke depan, kami berharap praktik baik ini dapat direplikasi di berbagai wilayah lain, terutama di NTT,” jelas Yulies Puspitaningtyas, Programme Manager Governance, Peace and Resilience UN Women.
Di tingkat akar rumput, implementasi teknis dilakukan dengan melibatkan pendampingan erat dari CIS Timor kepada tujuh desa dampingan, yaitu Desa Raknamo, Manusak, Camplong 2, dan Tolnaku di Kabupaten Kupang, serta Desa Tuapakas, Spaha, dan Oetuke di Kabupaten Timor Tengah Selatan.
Melalui Program We Nexus, perempuan dan orang muda di desa mendapat ruang untuk belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Pelatihan Fasilitator SEKOPER dan VSLA yang diikuti 21 peserta dari Kabupaten Kupang dan Kabupaten Timor Tengah Selatan menjadi langkah awal untuk menghadirkan lebih banyak penggerak komunitas yang mampu mendampingi perempuan membangun kepercayaan diri, memperkuat kemandirian ekonomi keluarga, dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan desa.
“Kemitraan ini telah membuktikan bahwa solusi yang responsif gender dan berbasis masyarakat lokal adalah cara paling efektif untuk mencegah konflik dan membangun mekanisme ketangguhan yang berkelanjutan. Kami berterima kasih kepada pemerintah daerah dan seluruh masyarakat yang telah berkolaborasi aktif selama dua tahun ini,” tutur Haris Oematan, Direktur CIS Timor.
Dalam lokakarya ini, sekitar 100 peserta yang terdiri dari perwakilan pemerintah daerah, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, serta perwakilan masyarakat dari tujuh desa dampingan berkumpul untuk merumuskan rekomendasi strategis guna memastikan keberlanjutan praktik baik program demi mewujudkan Nusa Tenggara Timur yang tangguh dan damai.
Upaya keberlanjutan ini turut diperkuat melalui sejumlah capaian kebijakan, antara lain dukungan terhadap proses pengembangan Peraturan Daerah Pemberdayaan Perempuan di Kabupaten TTS, terbitnya Peraturan Bupati tentang Pelaksanaan Musyawarah Khusus Perempuan di Kabupaten Kupang, serta komitmen Pemerintah Daerah TTS untuk melanjutkan SEKOPER. Di tingkat desa, program kerja dan penganggaran di 7 desa dampingan juga semakin mendorong pendekatan yang sensitif gender, mengarusutamakan pengurangan risiko bencana dan adaptasi perubahan iklim, serta mendukung pembangunan perdamaian desa.
Tentang CIS Timor
Dengan visi organisasi ‘Dari Timor untuk Dunia yang Lebih Damai, Adil, Tangguh, Inklusif, dan Berdaya dengan menjunjung tinggi martabat Kemanusiaan,’ CIS Timor percaya perubahan bisa dimulai dari mana saja dan oleh siapa saja, termasuk perempuan. Berbicara tentang perempuan di desa, mereka perlu dikapasitasi dan diberi kesempatan serta ruang partisipasi untuk berkembang. Keluarga, organisasi, kampung dan dunia akan lebih baik, lebih damai, dan lebih tangguh jika perempuan berdaya ikut menegelola dan membuat keputusan.
Tentang Save the Children Indonesia
Save the Children percaya setiap anak berhak mendapatkan masa depan. Di Indonesia dan seluruh dunia, Save the Children melakukan apapun yang harus dilakukan, setiap hari dan saat krisis, agar anak-anak mendapatkan pemenuhan hak atas hidup yang sehat, kesempatan untuk belajar, dan perlindungan. pakar kami pergi ke tempat yang paling sulit dijangkau di mana sangat sulit untuk menjadi anak-anak. Save the Children memastikan kebutuhan unik anak-anak terpenuhi dan suara mereka didengarkan. Bersama anak-anak, keluarga, dan masyarakat, serta pendukung di seluruh dunia, kami mencapai hasil berkelanjutan untuk jutaan anak. Dengan pengalaman lebih dari 100 tahun, kami adalah yang pertama dan terkemuka di dunia organisasi independen untuk pemenuhan hak anak, mengubah kehidupan dan masa depan kita bersama.
Tentang UN Women
UN Women berdiri untuk memajukan hak-hak perempuan, kesetaraan gender, dan pemberdayaan semua perempuan dan anak perempuan. Sebagai badan PBB dengan mandat kesetaraan gender, kami bekerja untuk mendukung perubahan hukum, lembaga, perilaku sosial, dan layanan untuk menutup kesenjangan gender dan membangun dunia yang setara bagi semua perempuan dan anak perempuan. Kami menempatkan hak-hak perempuan dan anak perempuan di pusat kemajuan global – kapan pun, di mana pun. Memajukan kesetaraan gender bukan hanya kerja-kerja kami. Kesetaraan gender adalah jati diri kami.