Hujan deras yang disertai banjir bandang mengubah hidup Lala* (11) dan keluarganya dalam sekejap. Bersama ayahnya, Baim* (34), ibunya, Risqiqa* (32), dan adik laki-lakinya yang masih berusia tiga tahun, Lala kehilangan rumah, barang-barang berharga, serta usaha keluarga akibat banjir yang menerjang wilayah tempat tinggal mereka di Provinsi Aceh pada akhir November 2025.
“Pada 25 November itu air mulai masuk ke dalam rumah kami, tepatnya pada saat maghrib. Kami satu keluarga mengungsi ke tempat lain,” kenang Baim*.
Banjir datang dengan cepat dan meninggalkan kehancuran yang sulit digambarkan. Bai* mengenang bagaimana ia dan istrinya berjalan menyusuri jalanan yang biasa mereka lalui, namun kini nyaris tak bisa dikenali karena rusaknya lingkungan sekitar.
Kini, Lala* dan keluarganya tinggal di sebuah tenda di lokasi pengungsian. Kehidupan yang mereka lalui di pengungsian penuh keterbatasan. Di tengah kondisi tersebut, Baim* merasakan perubahan dari anaknya.
“Awal-awal setelah dia tahu rumahnya sudah tidak ada lagi, nengok rumahnya itu sudah tidak ada, mungkin dia berpikir nanti dia tinggal di mana. Tapi kami sebagai orang tua kami hanya mengingatkan ke anak-anak bahwa ini semua milik Allah. Alhamdulillah anak-anak ini sekarang sudah tampak cerianya lagi,” kenang Baim*.

Perjalanan Lala* untuk Kembali Bersekolah
Dampak banjir juga dirasakan pada dunia pendidikan Lala*. Sekolahnya mengalami kerusakan parah, dengan air banjir mencapai lantai dua gedung sekolah. Proses belajar mengajar terhenti, dan Lala terpaksa tidak bersekolah hingga para relawan membantu membersihkan lumpur dan puing-puing dari ruang kelas.
Dalam situasi darurat ini, Save the Children memberikan dukungan kepada keluarga Lala* melalui distribusi hygiene kit yang berisi perlengkapan penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan. Lala* juga menerima paket perlengkapan sekolah setelah buku dan alat tulisnya hanyut terbawa banjir.
Selain itu, Lala* mengikuti berbagai kegiatan di Child Friendly Space yang disediakan di lokasi pengungsian, tempat ia bisa belajar, bermain, menggambar, dan mengikuti pertunjukan boneka.
Bagi Baim*, perubahan positif pada putrinya terasa jelas setelah Lala mengikuti kegiatan tersebut.
“Anak saya itu sebenarnya (awalnya) anak yang riang. Alhamdulillah setelah dia mengikuti kegiatan tersebut dia mulai kembali ceria, terhibur, dan banyaklah yang dia dapat dari sana,” ucap Baim*.
Dukungan ruang aman bagi anak di fase awal kedaruratan menjadi penting agar anak-anak dapat memulihkan diri, tetap terhubung dengan teman sebaya, dan melanjutkan proses belajar. Melalui kegiatan ini, Lala* perlahan kembali menemukan semangatnya, di tengah kehilangan besar yang dialaminya.
“Cita-cita kami ingin jadi polwan, habistu jadi orang sukses membanggakan orang tua dan keliling dunia,” ucap Lala* penuh harap.
Kisah Lala menunjukkan bahwa di balik bencana dan keterbatasan, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk belajar, bermain, dan merasa aman. Dengan dukungan yang tepat, harapan dapat kembali tumbuh, bahkan setelah banjir merenggut hampir segalanya.
