Lonceng masuk kelas berbunyi, tanda istirahat usai. Anak-anak berseragam putih merah berlarian masuk ke ruang kelas paling ujung di sekolah. Di bagian belakang kerumunan itu, seorang anak perempuan berlari sambil menyeimbangkan kaki dan tongkat yang menopang langkahnya.
Kita bisa memanggilnya Rambu*. Ia berusia 9 tahun dan kini duduk di kelas 3 SD.
Dua tahun lalu, saat Rambu baru kelas 1, ia terjatuh dan kakinya bengkak. Orang tuanya menganggap ini hanya sakit biasa sehingga hanya mengobatinya dengan ramuan obat kampung. Namun, sakitnya tak kunjung sembuh, membuatnya tak bisa berjalan. Hingga akhirnya, sejumlah dukungan datang dan Rambu bisa kembali bersekolah dengan aman.
Dalam Gendongan Ayah

Rambu tinggal bersama keluarganya di salah satu desa di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur. Orang tuanya adalah petani. Di halaman rumah panggung tradisional mereka, orang tuanya biasa menjemur kemiri. Di situ juga anak-anak main kejar-kejaran atau bola sepak. Pada suatu sore, Rambu terjatuh.
“Tidak ada yang dorong. Malam begini, kaki sudah bengkak besar,” tuturnya.
Ia diobati seadanya, tetapi kakinya makin bengkak. Ayah dan ibu lantas membawanya ke dua dukun kampung yang mengobatinya dengan ramuan dan pijat. Kaki kanan sudah membaik, tetapi muncul keluhan lain di kaki kiri, membuatnya hampir tak bisa berdiri dan berjalan.
Rambu sempat meminta orang tuanya untuk pegi ke rumah sakit. Namun, ia mengurungkan niat karena ditakut-takuti oleh kakak dan teman-temannya tentang tindakan yang akan dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan.
Akibat sakitnya itu, Rambu tak bisa ke sekolah. Ia sangat ingin kembali ke sekolah, tetapi tidak diizinkan oleh ayah dan ibunya karena kondisinya parah. Sehari-hari, ia hanya makan, tidur, dan sedih melihat teman-temannya berjalan ke sekolah atau bermain bola di depan rumah. Ia kadang mengambil buku untuk belajar, tetapi rasanya tak sama dibandingkan di sekolah.
“Saya terkurung saja dalam rumah macam ayam,” ungkap Rambu dengan kesal, mengingat kembali saat-saat itu.
Sementara itu di sekolah, ujian tengah semester kedua tahun 2023 sudah dekat. Absennya Rambu selama sebulan jadi pertanyaan pihak sekolah. Yuda (39 tahun), Kepala SD, meminta wali kelas Rambu untuk membawakan lembar soal ujian ke rumahnya. Setelah wali kelas tahu kondisi Rambu, ia mengajak guru-guru lain datang menjenguk. Mereka memberikan semangat dan sedikit bantuan kepada keluarga.
Rambu terus-menerus meminta ayahnya agar ia bisa kembali bersekolah. Ayahnya keberatan karena mereka masih melihat kondisinya yang sakit. Namun akhirnya, sang ayah membantu ia pergi ke sekolah.
“Jadi akhirnya, bulan Januari, dia masuk kembali sekolah. Pagi-pagi, saya gendong dia, antar ke sekolah, selama empat bulan,” tutur sang ayah.
Tongkat Harapan bagi Rambu

Pada masa itu, Save the Children dan Stimulant Institute melalui Program Sponsorship sedang mengadakan rangkaian sesi pelatihan tentang hak-hak anak dan perlindungan anak di tingkat desa dan sekolah. Ini adalah upaya program untuk mempercepat pembentukan kelompok Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) di desa dan Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) di sekolah.
Yuda mengikuti sesi pelatihan ini dan teringat akan kondisi Rambu. Ia tersadar, anak-anak seperti Rambu memiliki hak sama untuk mendapatkan pendidikan. Sebagai tenaga pendidik dan kepala sekolah, ia juga punya tanggung jawab untuk memastikan hak tersebut dipenuhi.
“Dengan dia punya kondisi begitu, kami merasa bertanggung jawab. Jadi kalau kami tidak memberikan dukungan, sama dengan kami merundung anak ini. Waktu itu kami sempat menonton saja bahwa anak ini sakit,” ungkapnya.
Yuda lantas meminta bantuan tim Save the Children dan Stimulant Institute untuk mendatangi muridnya itu. Tim program datang ke sana dalam beberapa kali kunjungan bersama psikolog, TPPK sekolah, dan perwakilan dari Dinas Sosial setempat. Ia dan orang tuanya akhirnya bersedia untuk menemui dokter di rumah sakit. Ia juga mendapatkan bantuan tongkat kruk, yang dipakai bergantian dengan tongkat kayu buatan ayahnya.
“Awalnya kami tidak mau bawa (ke rumah sakit) karena tahu sendiri di kampung, keadaannya seperti apa,” tutur ayah Rambu.
Setelah konsultasi dengan dokter, Rambu mendapat obat-obatan dari rumah sakit untuk mengurangi sakitnya. Setelah obat habis, cek kontrol dilakukan di Puskesmas terdekat. Kondisi kaki kirinya mulai membaik, tetapi terasa sakit jika berdiri terlalu lama. Meskipun demikian, niat Rambu tidak surut. Ia tetap ingin terus bersekolah.
“Anak ini rajin sampai sekarang, justru lebih rajin daripada yang lain,” ungkap Yuda.
Melindungi Langkah Setiap Anak
Ada rasa sesal saat Yuda menyadari mereka terlambat membantu murid mereka itu. Namun kini, ada tekad baru baginya untuk memberi perlindungan lebih bagi murid-murid sekolahnya. Pelatihan tentang hak anak dan perlindungan anak yang ia ikuti bersama Save the Children membuka matanya bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar, tetapi juga ruang aman yang wajib melindungi setiap anak, tanpa terkecuali.
Sebagai bagian dari kelompok PATBM (Perlindungan Anak Terpadu berbasis Masyarakat) Yuda kini merasa memiliki tanggung jawab lebih untuk memastikan kebutuhan dan suara anak-anak didengar. Dukungan yang diterima sekolah, mulai dari akses air bersih, tangki air hingga perbaikan fasilitas sanitasi memperkuat komitmen itu.
Sementara dari sisi non fisik, pengetahuan tentang perundungan dan hak-hak anak membuat para guru lebih peka terhadap situasi yang dihadapi murid-murid mereka.
“Ternyata, bully (perundungan) itu bukan hanya sentuh secara fisik saja, banyak hal yang bisa dikatakan bully. Jadi, kami terapkan ini di sekolah dan kami sering sampaikan ke anak-anak pada saat upacara bendera,” jelas Yuda.
Menurut Yuda, perubahan baik perlahan terjadi juga bagi anak-anak lain. Jika dulu para guru bisa menerima tiga hingga pengaduan dari murid yang dirundung, kini mereka mendapatkan satu aduan saja, bahkan nyaris tidak ada.
Rambu sempat dirundung saat kembali bersekolah. Seorang teman mengejeknya karena ia berjalan dengan tongkat. Begitu tahu kasus itu, Yuda segera memanggil si anak perundung dan menegurnya. Setelah itu, tidak ada lagi anak-anak merundung Rambu. Bahkan ia dilindungi dan ditemani beberapa temannya.
Rambu tetap ada dalam kerumunan anak yang berlari masuk kelas. Langkahnya mungkin lambat, namun semangatnya untuk sekolah jauh lebih besar. Semangatnya jadi pengingat bahwa setiap anak punya hak untuk belajar, didengar, dan dilindungi.
