Pagi itu, usai senam bersama, belasan anak-anak usia 3–5 tahun berbaris rapi di lorong sebuah bangunan sederhana. Di depan pintu, Eliawati (50) menyambut mereka satu per satu. Sambil berjongkok, ia meminta setiap anak memilih sendiri salam mereka: peluk, tos, atau jabat tangan. Begitu salam diberikan, setiap anak memasuki ruangan, siap untuk belajar sambil bermain.
Mengajar anak-anak usia dini telah menjadi rutinitias Eli sejak 15 tahun lalu. Ia memulai pengabdian ini dengan niat tulus seorang ibu untuk merengkuh kembali hak-hak anak yang terabaikan, termasuk hak pendidikan. Empat tahun kemudian, ia bertemu tim program Save the Children dan belajar menjadi guru PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini). Sejak saat itu, praktiknya mengajar berkembang dalam metode lebih efektif dan terarah seperti hari ini.
Berjuang dalam Sunyi
Desa itu sunyi sepi ketika Eli dan suaminya yang pendeta pindah ke sana pada tahun 2010. Jalanan curam, tanpa listrik dan sinyal. Sumber air terdekat berjarak satu kilometer. Rumah kecil mereka berada di belakang sebuah gereja sederhana. Diterangi pelita berbahan botol kaca bekas, keduanya memulai hidup di sana.
”Begitu saya masuk sini, belum ada PAUD dan TK. Saat suami saya (kasih) pelayanan, saya melihat anak Sekolah Minggu banyak. Mereka ikut ibadah ke Gereja, tapi enggak dapat pendidikan,” cerita Eli.
Ia dan suami tak sampai hati melihat anak-anak tumbuh tanpa tahu baca-tulis. Mereka memutuskan membuka kelas belajar dan meyakinkan para orangtua tentang pendidikan. Beralaskan lantai semen penuh lubang di dalam satu-satunya ruangan di bangunan gereja, Eli dan suami mulai mengajar 68 anak.
Sebelum huruf dan angka, mereka berupaya mengajari bahasa dan etika. Pengalaman itu jauh dari mudah karena anak-anak hanya bisa berbahasa lokal. Namun dengan tekun mereka terus mengajari anak-anak berbahasa Indonesia.
Setelah hampir setahun, ia mencoba mengurus pendirian PAUD ke pemerintah setempat. Namun disambut keraguan karena orang-orang tidak tahu ada pemukiman di balik kebun-kebun itu. Apalagi saat itu ia hanya lulusan Sekolah Menengah Ekonomi Akuntansi (SMEA). Tak ada ilmu atau pengalaman mengajar.
“Mereka kaget banyak orang di sini,” kenang Eli.
Pada November 2010, izin operasional PAUD akhirnya terbit. Berselang dua bulan, Eli diangkat menjadi guru dengan gaji Rp50 ribu per bulan. Dengan gajinya, ia membeli kertas agar anak-anak bisa menulis dan menggambar.
Tak hanya literasi, mereka juga mengajari anak-anak kebersihan diri. Ada hari-hari kala rutinitas pagi mereka sebelum kelas adalah memandikan anak-anak. Setelah hampir satu tahun, anak-anak itu akhirnya sudah mandi sebelum ke sekolah.
”Secara manusia, (kami) memang lelah. Siapa bilang tidak? Ketika sudah di titik terendah, mulai tidak mampu lagi, ingat, Tuhan tempatkan kami di sini, harus membawa perubahan,” ujar Efraim sambil tersenyum simpul, mengingat masa-masa berat itu.
Dukungan Pertama bagi Sekolah Eli dan Efraim

”Dari awal Save the Children hadir di Sumba, perannya paling membantu saya di sini. Saya benar-benar merasakan dampingannya Save the Children itu luar biasa,” ungkap Eli.
Bukan tanpa sebab ia berkata demikian. Bertahun-tahun keduanya susah payah mencoba menghidupkan pendidikan anak usia dini di kampung itu. Hingga akhirnya, Save the Children dan Perkumpulan Stimulant Institute dengan Program Sponsorship hadir memberikan dukungan selaras dengan apa yang selama ini mereka perjuangkan.
Untuk pertama kali, Eli merasa perjuangannya dihargai.
“Akhirnya merasa bahwa pekerjaan ini enggak sia-sia. Ada kebanggaan,” ujarnya.
Eli ingat benar setiap hal yang dia dapatkan sejak tahun 2014. Bantuan pertama adalah pelatihan bagi tenaga pendidik. Ia yang waktu itu belum tahu persis bagaimana menjadi guru, bersyukur karena bisa belajar menjadi seorang pengajar.
Lewat pelatihan itu, dia akhirnya paham tentang standar pengkondisian dan penyambutan anak-anak pada awal pembelajaran, manajemen kelas yang juga menyangkut penataan ruang kelas, kebersihan ruangan, sampai urusan administrasi.
“Sebelum saya dapat pelatihan, ya sudah, sekadarnya saja sekolah. Yang penting anak-anak nyaman. Namun setelah saya mendapat peningkatan kapasitas itu dan saya praktikkan, anak-anak juga lebih cepat nangkapnya,” ujar Eliawati.
Bagi PAUD yang dikelola Eli dan Efraim, Program Sponsorship juga memberikan bantuan berupa perlengkapan menulis dan menggambar, permainan anak-anak, alat permainan edukatif (APE), perlengkapan cuci tangan, serta kamar mandi dengan jamban.
“Aduh, saya sangat bersyukur sekali, saya jadi bisa mengajarkan anak-anak bahwa BAB, BAK itu di sini. Mandi juga di sini,” ceritanya.
Belajar dan Berbagi Ilmu
Atas pengalaman mendirikan dan mengelola PAUD, serta kualitas pembelajarannya saat mengikuti pelatihan, Eli dipercaya menjadi salah satu master trainer selama empat tahun di Program Sponsorship untuk melatih guru-guru PAUD di pedalaman.
Bagi Eli, Save the Children dan Perkumpulan Stimulant Institute seperti sahabat seperjuangan yang membantu menguatkan mimpinya untuk menciptakan generasi yang lebih baik. Bukan hanya berdampak pada dirinya sendiri sendiri, tetapi bagi anak-anak, orang tua mereka, serta rekan-rekan tenaga pendidik lain.
”Saya bersyukur sekali bahwa program ini bukan hanya bantu saya meningkatkan kapasitas, tetapi materi pun diberikan. Sangat membantu sampai hari ini, sampai di titik ini,” katanya.
Eli juga bersedia untuk dilatih sebagai fasilitator kelas pengasuhan. Ia bertugas memandu kelas pengasuhan bagi orang tua anak-anak PAUD. Dari situ, para orang tua sedikit demi sedikit mulai terbantu dalam mendidik anak mereka di rumah.
Menuai Kebaikan
Meta (26) sangat bersyukur atas kehadiran Eli dan Efraim serta PAUD di desanya. Ketiga anaknya bersekolah di PAUD itu. Ia mengaku, sebagai pedagang pasar, ia tak punya cukup waktu untuk mengajari anak-anak di rumah. Ia terkejut senang kala mendapati anak pertamanya bisa berbahasa Indonesia serta mengenali huruf dan angka.
”Kalau di rumah kan dorang (mereka) tidak pernah tahu baca, kami omong biasa pakai bahasa ibu. Namun, setelah masuk PAUD ini, saya punya anak-anak bisa (bicara) pakai bahasa Indonesia,” jelas Meta.
Ia juga merasakan perubahan perilaku anak-anak. Ketika pulang ke rumah, anak-anak mengucapkan salam. Sebelum makan, mereka mencuci tangan dan berdoa. Mereka juga lebih rutin mandi. Di kelas pengasuhan, Meta ingat jelas apa yang dikatakan Eli: mengajari anak tak harus lewat buku, tetapi bisa lewat kegiatan sehari-hari di rumah.
”Misalnya kalau saya iris tomat, anak-anak biasa tanya ‘Itu apa?’ Jadi, saya jelaskan ini tomat. Lalu saya tanya lagi, ‘Ini warna apa? Ini bentuknya apa?’ Jadi, mereka juga berpikir dan bisa belajar dari situ,” jelas Meta.
Tekad Eli dan Efraim untuk membuktikan pada orang tua di sana, bahwa setiap anak punya hak atas masa depan yang layak, telah terjawab. Dari anak-anak yang mereka turut asuh dan sekolahkan, sebagian besar sudah bekerja dan bersekolah lebih tinggi. Bahkan ada yang melanjutkan pendidikan sampai Strata 3.
”Ketika mereka habis wisuda, mereka datang peluk saya. Ada yang sudah jadi jadi tentara, dia datang menangis, ‘Mama yang ajar saya baca, saya tidak tahu, Mama bimbing saya, sekarang saya jadi orang.’ Ya, semua karena Tuhan, bukan karena Mama.”
Tangis haru itu tak bisa disembunyikan. Ada rasa syukur tak berujung dalam dirinya ketika air mata dan keringat mereka selama ini kini berbuah manis. Perjuangan menjadi cerita baik, bagaimana kekuatan pendidikan mampu memberi harapan baru bagi anak-anak di pelosok negeri.
