Bencana banjir dan longsor yang melanda Pulau Sumatra menyisakan dampak psikologis yang berat bagi para guru. Sebagai bagian dari masyarakat terdampak, mereka kehilangan rasa aman, menghadapi ketidakpastian, dan mengalami stres, namun tetap diharapkan hadir di ruang kelas untuk mengajar dan menopang emosi murid-murid yang juga mengalami dan melewati situasi sulit.
Di tengah masa libur sekolah dan persiapan dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar, para guru menjadi salah satu kelompok tenaga pendidikan yang paling membutuhkan dukungan. Beban ganda untuk memulihkan diri secara pribadi sekaligus menyiapkan pembelajaran pascabencana sering kali dijalani tanpa ruang yang memadai untuk mengelola tekanan psikologis.
Dampak bencana di sektor pendidikan menunjukan 33.456 guru terdampak, 4.102 sekolah mengalami kerusakan, dan 820 sekolah tidak beroperasi di 3 provinsi. Kondisi ini menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana harus disertai dengan upaya menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan guru.
Sebagai respons, di Kabupaten Tapanuli Tengah, Save the Children Indonesia bekerja sama dengan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan ( BBGTK) Sumatra Utara menyelenggarakan Pelatihan Kelompok Dukungan Sebaya bagi 55 guru pada 27–30 Desember 2025. Pelatihan ditujukan bagi guru-guru SD dari 13 sekolah yang berasal dari empat kecamatan terdampak: Tukka, Pandan, Pinang Sori, dan Sitahuis. Para guru dipersiapkan untuk menjadi fasilitator bagi rekan sejawat mereka di sekolah dan komunitas. Materi pelatihan mencakup kebijakan keselamatan anak, pemahaman reaksi stres, serta praktik rawat diri bagi para guru di situasi krisis.
Ibu Marsugiarti salah satu guru di Sekolah Dasar, merupakan satu dari ribuan guru yang terdampak. Ibu Marsugiarti merasakan langsung manfaat dari pelatihan kelompok sebaya ini. Ia kehilangan harta pribadi akibat bencana, di saat yang bersamaan harus bersiap kembali mengajar. Ia mengaku awalnya ragu mengikuti pelatihan karena beratnya beban tugas administrasi di sekolah. Namun, setelah beberapa hari mengikuti pelatihan dengan metode berbagi pengalaman pribadi, ia merasa mampu mengeluarkan perasaan yang selama ini terpendam.
“Terima kasih sekali kepada Save the Children. Awalnya saya tidak tahu harus berbuat apa. Yang penting sekarang, bagaimana yang berat bisa diringankan, dan yang ringan bisa dihilangkan,” ujarnya.
Fajar Suryawan, staf Save the Children Indonesia yang bertugas sebagai fasilitator pelatihan, menjelaskan bahwa pendekatan yang digunakan dirancang dengan komposisi 70 persen praktik dan 30 persen teori, melalui metode experiential training. “Selama empat hari, para peserta tidak hanya mempelajari konsep, tetapi juga merasakan langsung manfaat dari sesi kelompok dukungan sebaya. Pada hari terakhir peserta melakukan simulasi, sehingga mereka dapat mengalami sendiri bagaimana ruang dukungan sebaya dapat menjadi penguat psikososial,” jelasnya.
Fajar juga menekankan bahwa ruang ini diciptakan khusus bagi guru untuk saling mendengarkan dan mengekspresikan perasaan secara aman. Tidak ada pemberian solusi atau nasihat antaranggota, yang ditekankan adalah peran sebagai pendengar yang aktif dan empatik. Pendekatan ini terbukti membantu mengurangi stres, menjaga kesehatan mental guru, serta mendukung keberlanjutan peran mereka sebagai tenaga pendidik.
Sebagai tindak lanjut, para guru peserta pelatihan akan mengimplementasikan kelompok dukungan sebaya di sekolah masing-masing melalui pertemuan rutin seminggu sekali selama 1–1,5 jam, setelah kegiatan sekolah kembali berjalan normal. Kelompok ini akan melibatkan jumlah peserta kecil agar proses berlangsung aman, nyaman, dan bermakna.
Melalui pendekatan ini, Save the Children menegaskan bahwa pemulihan pendidikan pascabencana tidak hanya berfokus pada pembangunan kembali sarana fisik sekolah, tetapi juga pada pemulihan mental dan emosional para guru sebagai garda terdepan pendidikan.
