Berita

Yayasan Save the Children Indonesia Perkuat Dukungan Psikososial Pascabencana melalui Bimbingan Teknis di Banda Aceh

Save the Children Indonesia menyelenggarakan Bimbingan Teknis Dukungan Psikososial (Psychosocial Support/PSS) bagi para widyaprada—tenaga pengembang pembelajaran, di Banda Aceh pada 22–24 Desember 2025. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas peserta, sebagai pemangku kepentingan, dalam memberikan dukungan kesehatan jiwa dan psikososial kepada anak-anak serta keluarga terdampak bencana banjir dan longsor.

Melalui bimbingan teknis ini, Save the Children Indonesia mendorong para peserta agar mampu berperan aktif dalam upaya pemulihan pascabencana, khususnya dalam membantu anak dan keluarga memahami serta mengelola dampak psikososial yang muncul dalam situasi darurat.

“Karena ada banjir ini, otomatis kami harus mengambil peran. Ada arahan dari pusat bahwa kami harus melakukan dukungan psikososial, tetapi kami belum pernah mendapatkan pelatihan. Terima kasih sekali kepada Save the Children yang sudah membantu dan membimbing kami,” ungkap Yusnaini S. Si., M. Pd, Widyaprada Ahli Madya BPMP (Balai Penjaminan Mutu Pendidikan) Aceh.

Selama pelatihan, peserta mempelajari konsep Mental Health and Psychosocial Support (MHPSS), termasuk pemahaman mengenai berbagai reaksi psikologis yang umum terjadi setelah bencana. Salah satu penekanan utama dalam kegiatan ini adalah pentingnya normalisasi, yaitu membantu anak, keluarga, dan masyarakat memahami bahwa reaksi stres, cemas, atau sedih merupakan respons yang wajar terhadap kejadian yang tidak normal, terutama pada fase awal pascabencana.

Dukungan psikososial (PSS) menjadi bagian penting dalam respons bencana karena tidak hanya membantu pemulihan emosional anak dan keluarga, tetapi juga berperan dalam menjaga keberlangsungan tumbuh kembang anak di tengah situasi krisis. Anak-anak yang mendapatkan dukungan psikososial yang tepat memiliki ruang aman untuk mengekspresikan perasaan, membangun kembali rasa aman, serta kembali menjalani aktivitas belajar dan bermain. Bagi keluarga dan komunitas, PSS turut memperkuat ketahanan sosial sehingga proses pemulihan dapat berjalan lebih menyeluruh dan berkelanjutan.

“Bimbingan teknis ini juga menekankan peran kegiatan PSS dalam mendukung pemulihan anak dan keluarga, antara lain dengan memfasilitasi anak untuk kembali ke rutinitas sehari-hari seperti kembali bersekolah, mengikuti kegiatan keagamaan, dan bermain bersama teman sebaya. Selain itu, para peserta dibekali pemahaman tentang pentingnya peran keluarga dan masyarakat sebagai sistem dukungan utama bagi anak, serta cara membantu anak dan orang dewasa mengembangkan coping mechanism atau strategi sehat dalam menghadapi tekanan dan situasi sulit.” jelas Fandi Yusuf, Senior Strategic Communications Manager Save the Children Indonesia.

Dalam pelatihan ini, Save the Children Indonesia juga memperkenalkan Modul We Thrive, yaitu pendekatan kegiatan kelompok terpadu bagi anak-anak dan remaja dalam situasi krisis akut atau parah. Modul ini mengintegrasikan perspektif perlindungan anak, pendidikan dalam situasi darurat, serta dukungan kesehatan jiwa dan psikososial. Melalui pendekatan ini, anak dan remaja didorong untuk merasa aman, terhubung dengan teman sebaya, mengekspresikan diri, serta mengembangkan keterampilan baru yang mendukung pemulihan dan kesejahteraan mereka. Modul We Thrive juga membuka akses bagi anak dan keluarga untuk mendapatkan layanan lanjutan melalui mekanisme rujukan.

“Ini adalah hal-hal yang secara formal tidak kami dapatkan di kantor, tetapi sangat penting untuk anak-anak, terutama dalam situasi pendidikan darurat ini. Tindak lanjutnya nanti para widyaprada akan turun ke 60 tenda yang sudah disiapkan Kemendikdasmen di berbagai jenjang pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA di seluruh kabupaten terdampak di Provinsi Aceh. Satu tenda akan mendapatkan tiga kali sesi,” tambah Yusnaini.

Selain penguatan kapasitas melalui bimbingan teknis, Save the Children Indonesia bersama mitra kerja Yayasan Geutanyoe dan Pusat Pelayanan Psikologi Pada Masyarakat (P3M) Universitas Sumatra Utara telah melaksanakan kegiatan dukungan PSS secara langsung di sejumlah wilayah terdampak bencana di Pulau Sumatra. Kegiatan ini dilakukan antara lain di Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Aceh Tamiang, dan Bukit Tempurung, dengan fokus pada pemulihan kesejahteraan psikososial anak-anak, keluarga, dan komunitas terdampak. Melalui pendekatan yang ramah anak dan berbasis komunitas, kegiatan PSS ini bertujuan membantu anak dan keluarga bangkit, kembali ke rutinitas, serta memperkuat ketahanan mereka dalam menghadapi dampak bencana.

Melalui rangkaian kegiatan ini, Save the Children Indonesia menegaskan komitmennya untuk terus mendukung penguatan kapasitas para pemangku kepentingan lokal sekaligus menghadirkan layanan dukungan psikososial secara langsung di lapangan, demi memastikan anak-anak terdampak bencana mendapatkan dukungan yang aman, tepat, dan berkelanjutan.

Scroll to Top