Cerita Perubahan

Respons Banjir dan Longsor di Aceh Tamiang: Dukungan Kesehatan bagi Kelompok Lansia dan Anak-Anak

Banjir besar yang melanda wilayah Sumatra pada akhir November 2025 mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan perumahan warga, termasuk di Kabupaten Aceh Tamiang, Provinsi Aceh. Di salah satu desa, ketinggian air mencapai atap rumah, memaksa warga mengungsi ke titik aman dengan peralatan seadanya.

Keluarga Vino* (16) dan Edi* (18) merasakan dampak langsung dari bencana ini. Saat air naik cepat pada Rabu malam, 26 November, Vino* harus bertindak cepat menyelamatkan ayahnya (61) yang menderita stroke dan komplikasi jantung. Di tengah genangan yang terus meninggi, Vino* bersama saudaranya memapah dan menggendong sang ayah ke atas becak motor untuk menerobos banjir menuju lokasi pengungsian di masjid terdekat. Selain kehilangan tempat tinggal, akses pengobatan sang ayah terhenti karena rumah sakit rujukan turut terdampak banjir.

“Ayah kami harus cek rutin ke rumah sakit di Kuala Simpang seminggu sekali. Namun karena terjebak banjir, jadi tidak bisa. Rumah sakitnya juga tenggelam,” ujar Vino*.

Ia juga menggambarkan kondisi banjir yang tidak pernah terjadi sebelumnya: “Biasanya dulu kalau banjir, air enggak pernah masuk rumah… Begitu surut, kami sudah siap mengepel. Lalu malam hari, listrik mati. Mau berkabar pun payah, sinyal internet susah.”

Vino* juga harus melakukan tindakan berisiko lain demi mengamankan masa depannya. Saat air di dalam rumah sudah mencapai dada orang dewasa, ia nekat kembali menerobos arus deras untuk menyelamatkan ijazah sekolah dan dokumen keluarga. Ia tak ingin kehilangan akses pendidikan dan identitas di masa depan sehingga ia mengambil risiko tersebut. Sementara itu, akses pengobatan sang ayah juga terhenti karena rumah sakit rujukan turut terdampak banjir.

Vino menambahkan kekhawatirannya tentang minimnya akses komunikasi: “Kendala banyak. Salah satunya akses komunikasi… BBM pun tak ada yang jual. Kami sedih juga, rindu dengan rumah. Semua keluarga besar kami yang di sini juga mengungsi, semua jadi korban.”

Kondisi serupa dialami Edi*. Air di dalam rumahnya naik hingga setinggi dada orang dewasa dalam waktu singkat. Edi* berupaya keras mengevakuasi kakeknya (72), seorang pasien kanker laring yang kondisi fisiknya lemah. Dibantu warga sekitar, mereka akhirnya dievakuasi menggunakan perahu menjelang tengah malam menuju dataran yang lebih tinggi di area bukit.

Dalam kesaksiannya, Edi mengatakan: “Kakek saya sakit kanker laring… (di pengungsian) sering duduk di semen, Pak. Tempat tidur pun gak ada juga. Jadi gampang masuk angin… tak ada alas tidur, jadi bahaya itu, Pak.”

Di lokasi pengungsian sementara, fasilitas sanitasi dan tempat istirahat sangat minim. Para lansia dan warga yang sakit, termasuk ayah Vino* dan kakek Edi*, terpaksa tidur di atas lantai semen dingin beralaskan tikar tipis. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan kesehatan lain.

Edi menggambarkan situasi pengungsian: “Kendalanya seperti ini, kayak tempat tidur itu hanya beralas tikar… Toilet juga ada, tapi sering enggak ada air karena kami pakai pompa dan listrik mati… Air minum nanti datang dibeli pemerintah. Terus minyak bensin juga enggak ada, ke mana-mana enggak bisa.”

Merespons situasi darurat ini, Save the Children Indonesia bersama sejumlah mitra melakukan kegiatan tanggap bencana yang mencakup sektor kesehatan, gizi, sanitasi, perlindungan anak, dan pendidikan.

Terkait kasus prioritas seperti yang dialami keluarga Edi* dan Vino*, tim respons telah memberikan dukungan spesifik berupa layanan kesehatan gratis serta penyaluran matras, selimut, dan bahan makanan. Lewat layanan kesehatan, ayah Vino* dan kakek Edi* mendapatkan pemeriksaan tanda vital serta vitamin dan obat-obatan pendukung.

Bantuan ini memastikan kebutuhan dasar para penyintas terpenuhi selama masa tanggap darurat. Save the Children Indonesia terus bekerja bersama para mitra lokal untuk mendukung para penyintas serta merencanakan dukungan lanjutan di fase pemulihan.

Scroll to Top