Sukur (48) adalah seorang petani yang tinggal di sebuah desa di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. Desa tempat tinggal Sukur merupakan perbukitan dengan beragam perkebunan, mulai dari cengkeh, merica, hingga kakao.
Beberapa tahun lalu Sukur sempat menjadi pengepul biji kakao. Namun ia terpaksa berhenti karena terkendala modal dan akhirnya kembali menjadi petani.
Namun, berkat program Village Saving Loan Association (VSLA) yang diinisiasi Save the Children dan Yayasan Wajo, Sukur bisa kembali melanjutkan usahanya sebagai pengepul kakao setelah mendapat pinjaman untuk modal usaha dari VSLA Tunas Baru. Selain itu, ia juga dikenalkan pada literasi keuangan yang berguna dalam perencanaan keuangan. Pendampingan dari Save the Children dan Yayasan Wajo adalah bagian dari program pemberdayaan keluarga petani dengan dukungan pendanaan dari Cargill.
Saat bergabung dalam VSLA Tunas Baru, Sukur mengajukan pinjaman untuk memulai kembali usaha pengepulan kakaonya. Bisnis itu pun kembali bisa berjalan. “Senang sekali karena pengembaliannya berjangka selama tiga bulan,” kata Sukur.
Secara sederhana, VSLA adalah program simpan pinjam berbasis kelompok. Selain membantu para anggotanya untuk melakukan aktivitas simpan pinjam, program ini juga membantu meningkatkan pemahaman anggotanya tentang literasi keuangan.
Menurut Sukur, aturan peminjaman VSLA sangat membantu pemilik usaha kecil seperti dirinya. “Jadi kalau pinjam Rp1.000.000, bunganya hanya Rp20.000,” ucap Sukur mencontohkan.

Di Kabupaten Wajo, beberapa orang secara pribadi memang membuka jasa peminjaman uang. Tapi bunga per bulannya sangat tinggi. Jika meminjam Rp1.000.000, maka bunga pinjamannya adalah 10% atau Rp100.000. Bunga pinjaman ini akan selalu ditagih tiap bulan sampai pinjaman dilunasi sepenuhnya. “Itu sangat berat buat orang kecil macam kami ini,” kata Sukur.
VSLA Tunas Baru memberlakukan sistem tabungan dengan nilai lot dan setiap anggota kelompok maksimal menabung sebanyak 10 lot per bulan. Saat ini anggota VSLA Tunas Baru berjumlah 18 orang.
Risna (24), salah satu anggota VSLA Tunas Baru mengatakan, jika tabungan VSLA telah membantunya menjalankan bisnis daring. “Senang sekali, jadi saya bisa gunakan uang itu untuk modal tanpa perlu merepotkan orang tua atau keluarga lainnya,” ungkap Risna.
Bagi Risna, bergabung dengan VSLA juga membuka pengetahuannya mengenai isu perlindungan anak. “Dulu saya tidak pernah berpikir tentang pekerja anak dan risikonya. Tapi setelah ikut kegiatan ini saya jadi mengerti,” lanjutnya.
Irasnia (23 tahun), anggota VSLA Tunas Baru lainnya juga mengungkapkan hal serupa terkait pengetahuan baru yang didapatkannya tentang perlindungan anak. “Dulu saat ada orang dewasa merokok di dekat anak saya merasa biasa saja. Saya tidak tahu kalau itu bisa berakibat buruk pada kesehatan anak. Kini saya akan cerewet kalau melihat hal tersebut,” ungkap Irasnia.
Keberadaan kelompok VSLA Tunas Baru juga pernah berkontribusi pada kegiatan pemerintah desa. Di awal tahun 2025, ketika seorang staf desa akan mengikuti pelatihan di Makassar, ia membutuhkan uang untuk akomodasi, sementara anggaran desa belum cair. Akhirnya, dengan kesepakatan semua anggota kelompok, pemerintah desa diijinkan meminjam uang sejumlah uang untuk pelatihan staf desa. Uang pinjaman ini kemudian dikembalikan dua pekan kemudian.

VSLA Tunas Baru memiliki brankas yang menjadi tempat penyimpanan uang. Brankas ini disimpan di rumah salah satu anggota. Brankas ini memiliki tiga buah gembok yang hanya bisa dibuka dengan tiga kunci yang masing-masing dipegang oleh tiga anggota berbeda.
Tiap bulan, saat jadwal brankas dibuka, semua uang yang tersimpan di dalam brankas akan dihitung dan dicocokkan dengan catatan yang disimpan dalam brankas. Dalam pertemuan bulanan ini juga lah setiap anggota bisa mengajukan pinjaman. Pinjaman nantinya baru bisa diberikan jika semua anggota kelompok menyetujuinya. Jika salah satu dari anggota kelompok tak setuju, maka harus didiskusikan bersama hingga tercapai kesepakatan.
Meski semula tak percaya dengan konsep yang ditawarkan VSLA, Sukur kini bersyukur akan keberadaan VSLA. “Awalnya saya tidak percaya dan bingung. Jadinya saya menabung sedikit saja. Tapi saat sudah berjalan, perlahan saya menjadi paham dan merasakan manfaatnya karena saya bisa kembali membuka usaha pengepulan kakao,” ungkap Sukur.
Keberhasilan VSLA Tunas Baru dalam mengelola keuangan dan membantu anggotanya membuat beberapa warga dari desa tetangga tertarik dan ingin bergabung. Meski begitu, hal ini masih didiskusikan bersama oleh anggota VSLA Tunas Baru. “Melalui VSLA, kami tak hanya bisa menabung bersama, namun juga tumbuh bersama,” tutup Risna.