Aroma daun kakao muda menyambut siapa pun yang mendekat ke bangunan sederhana tempat pembibitan kakao di salah satu desa di Kecamatan Puselemba, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Bangunan tersebut berukuran 3×6 meter, terletak di pekarangan rumah. Di dalamnya, ribuan bibit kakao dalam polybag hitam tertata rapi, menunggu giliran untuk dijual.
“Ini semua bibit yang kami rawat, kurang lebih ada seribuan bibit,” kata Jefri sambil memperlihatkan satu bibit dengan sambungan yang mulai mengeluarkan daun hijau segar.
Pria 31 tahun itu bicara dengan nada bangga, tak ubahnya seorang ayah yang memamerkan prestasi anaknya. “Tiga bulan lagi ini siap dijual dan ditanam di kebun petani. Kalau perawatannya benar, dalam setahun sudah bisa berbuah,” sambungnya.
Bagi Jefri dan sembilan anggota di Kelompok Tani Muda Buyu Mbuko, setiap bibit di rumah pembibitan ini adalah harapan. Harapan mereka sendiri, dan harapan para petani kakao di desanya.
Cikal Bakal Pembentukan Kelompok Tani Muda Buyu Mbuko

Di tengah tren kenaikan harga biji kakao dunia pada 2023–2024, sebagian besar petani di Kabupaten Poso, terutama di wilayah pinggiran maupun pelosok, belum menerapkan praktik Good Agricultural Practices (GAP) dalam pengelolaan kebunnya.
GAP adalah sistem sertifikasi yang berfokus pada produksi pertanian. Sistem ini mendorong penggunaan teknologi yang maju, ramah lingkungan, dan berkelanjutan. Tujuannya adalah untuk menghasilkan produk panen yang aman dikonsumsi, memastikan kesejahteraan pekerja, dan memberikan keuntungan ekonomi bagi para petani.
Selama ini, pendampingan GAP umumnya dilakukan oleh perusahaan pembeli kakao yang bermitra melalui kebun percontohan. Namun, pendampingan ini masih terbatas. Keterbatasan peran pemerintah daerah dalam mengarusutamakan GAP juga menjadi tantangan tersendiri. Padahal, keberlanjutan industri kakao sangat bergantung pada peningkatan praktik berkebun dan regenerasi petani.
“Yang konsisten didampingi biasanya hanya satu atau dua orang saja di tiap desa,” kata Kepala Departemen Perlindungan Perempuan dan Anak Yayasan Panorama Alam Lestari (Y-PAL) Poso, M Irfan Renggah.
Menurutnya, bagi sebagian besar petani, terutama generasi muda, pola berkebun kakao masih mengandalkan metode turun-temurun yang diwariskan orang tua. Pola ini dianggap lebih praktis meski kurang memperhatikan efisiensi, kualitas bibit, atau keberlanjutan lahan.
Setahun lalu, saat Jefri sedang nongkrong di rumah bersama teman-temannya, ide untuk membentuk kelompok tani muda muncul secara spontan dari salah satu pendamping Y-PAL yang kebetulan nongkrong dengan mereka.
Jefri dan teman-temannya adalah anak petani kakao. Mereka tahu seluk-beluk tanaman kakao sejak kecil, dan dari ide itu mereka melihat peluang ekonomi yang masuk akal.
“Mayoritas warga di desa ini petani kakao tapi tidak ada yang khusus mengembangkan bibit berkualitas. Kebanyakan pakai bibit seadanya atau barter bibit dengan petani lain. Itu potensi yang kami pikir bisa dikerjakan sehingga memperkuat semangat kami untuk bangun usaha pembibitan ini,” ujar Ahi (27), salah satu anggota kelompok.
Di awal pembentukan, seluruh anggota kelompok ini mendapat pelatihan teknik dan praktik GAP melalui Program EMPOWER. Program ini diinisiasi oleh Save the Children bersama YPAL.
Salah satu fokus Program EMPOWER adalah mendorong praktik pertanian berkelanjutan, penguatan kapasitas petani, serta kegiatan relevan lain yang dapat meningkatkan produktivitas kebun kakao sekaligus kesejahteraan keluarga petani.
Setelah mendapat pelatihan, mereka pun mulai melakukan aktivitas pembibitan, dari menyemai, menyiram, hingga menyambung batang kakao unggul. Semua dilakukan bergiliran oleh setiap anggota kelompok berdasarkan jadwal yang disepakati bersama.
“Bibit ini butuh waktu untuk tumbuh, butuh perawatan yang tepat, dan yang paling penting butuh kesabaran,” ujar Ahi.
Ahi menjelaskan, proses penyambungan batang kakao harus dilakukan dengan hati-hati menggunakan pisau kecil yang tajam, lalu diikat dengan plastik khusus. “Sambungannya harus lurus dan rapat, kalau miring sedikit saja bibitnya bisa mati. Ini pelajaran besar yang kami dapat selama melakukan pembibitan,” kata Ahi.
Meski baru berjalan setahun sejak dibentuk pada 27 Juli 2024 lalu, kelompok ini sudah berhasil mengembangkan ribuan bibit. Setiap bibit dijual dengan harga Rp10 ribu. Sebagian besar pembelinya adalah petani lokal desa. Keuntungan dari hasil penjualan belum dibagikan ke seluruh anggota, namun diputar kembali menjadi modal tambahan.
Mayoritas bibit yang dikembangkan oleh kelompok ini adalah bibit S2 dan klon 45. Dua varietas unggul ini yang paling dicari petani karena produktivitasnya tinggi dan tahan penyakit.
“Harga Rp10.000 per bibit memang tidak mahal untuk ukuran bibit unggul. Kami tidak berpikir untung besar, yang penting petani bisa dapat bibit bagus dengan harga terjangkau,” jelas Jefri.
Ketika Air Datang Tak Diundang
Bulan lalu, rumah pembibitan yang biasanya hangat dan kering itu berubah menjadi kolam lumpur. Banjir lima tahunan yang datang lebih awal merendam hampir seluruh isi rumah pembibitan hingga setinggi 30 sentimeter.
“Banyak bibit rusak dan hanyut, padahal ada yang sudap siap jual,” sebut Ahi.
Setelah air banjir surut, Ahi dan seluruh anggota berkumpul lagi di rumah pembibitan yang masih becek. Bukan untuk meratapi nasib, tapi untuk membersihkan dan memulai lagi harapan.
“Untung ada beberapa bibit yang masih selamat. Itu yang kami pilah untuk melanjutkan usaha pembibitan,” ujar Ahi.
Sekarang rutinitas harian di rumah pembibitan sudah kembali normal. Jefri, Ahi, dan beberapa anggota lainnya datang menjelang sore, mempersiapkan peralatan penyiraman seraya mengecek bibit-bibit yang sudah waktunya disambung.
Bagi Jefri, merawat bibit hingga bisa tumbuh subur adalah kepuasan batin yang tak terkira. Terlebih ketika bibit yang mereka jual berhasil tumbuh dan berbuah di perkebunan warga.
“Yang paling senang itu kalau ada petani yang kembali lagi untuk membeli bibit, bilang bibitnya tumbuh bagus di kebun. Itu jadi penyemangat kami,” ungkap Jefri.
Belajar dari Pengalaman

Setelah kejadian banjir, mereka berencana memindahkan tempat pembibitan ke lokasi yang lebih tinggi dan aman. Lokasinya sudah ada, lahan milik salah satu anggota kelompok yang terletak di bukit, sekitar satu kilometer dari lokasi sekarang.
“Di sana lahannya lebih luas. Nanti tempat pembibitannya mau dibuat lebih besar. Targetnya bisa tampung 5.000 bibit,” tambah Ahi.
Selain itu, di tempat yang baru mereka juga berencana membuat area khusus untuk pelatihan agar petani lain bisa belajar teknik penyambungan, mengenal bibit yang bagus, dan lain sebagainya.
“Rencana kami seperti itu, ada semacam kelas edukasi juga. Jadi tidak cuma jual bibit, tapi juga kami bisa berbagi ilmu kepada petani,” tegas Ahi.
Kelompok Tani Muda Buyu Mbuko mungkin baru setahun berdiri, tapi jejak mereka sudah mulai terasa. Di kebun-kebun kakao desa, bibit-bibit hasil karya mereka mulai tumbuh tinggi.
“Mudah-mudahan lima tahun lagi kami sudah bisa menyediakan bibit untuk seluruh Kabupaten Poso. Semoga semangat kami ini bisa menular ke anak-anak muda lainnya. Yang jelas, setahun ini kami sudah belajar banyak. Dari yang tidak tahu apa-apa soal bibit, sekarang sudah bisa melalukan pembibitan, bahkan bisa mengedukasi orang lain,” jelas Jefri.
Tantangan Regenerasi Petani Kakao

Saat ini, regenerasi petani kakao di wilayah Kecamatan Lore Selatan, Lore Barat, dan Pamona Puselemba menghadapi tantangan serius.
Hasil diskusi terfokus (FGD) dan asesmen potensi anak muda yang dilakukan Save the Children dan Y-PAL dalam “Program Pemberdayaan Komunitas Kakao untuk Mempromosikan Kesejahteraan Anak” menunjukkan jika banyak anak muda menganggap berkebun sebagai pekerjaan kuno dan tidak menjanjikan.
Para anak muda ini menganggap usaha perkebunan kakao yang saat ini ada tidak inovatif. Selain itu, mereka merasa tidak ada program khusus yang bisa mendorong keterlibatan mereka dalam usaha perkebunan kakao.
Meski begitu, hasil FGD dan asesmen juga menunjukkan secercah harapan karena ternyata banyak anak muda yang berminat melanjutkan usaha perkebunan kakao jika mendapat akses pada pelatihan, teknologi, dan dukungan dari orang tua serta kelompok tani senior.
Untuk menjawab tantangan ini, Save the Children dan bersama para pemangku kepentingan dan mitra menginisiasi penyusunan modul pelatihan Good Agricultural Practices (GAP) yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, kelompok tani, hingga komunitas muda.
Modul ini diharapkan bisa menjadi panduan teknik dan praktik pengembangan perkebunan kakao yang berkelanjutan dan inklusif. Bukan hanya sebatas meningkatkan produktivitas dan mutu kakao, namun juga mendorong keterlibatan generasi muda dalam usaha tani.
Irfan melihat, meski Kelompok Tani Muda Bayu Mbuko belum menikmati hasil secara finansial, semangat mereka tak pernah surut. Ia berharap kelompok ini bisa berkembang, baik dari sisi produksi maupun penjualan.
“Melihat semangat teman-teman di Kelompok Tani Muda Bayu Mbuko, kami optimis kelompok ini akan berhasil. Sehingga kakao tidak hanya jadi warisan, tapi juga masa depan yang layak ditekuni,” tutup Irfan.