Cerita Perubahan

Ahmad* dan Seragam Pertamanya: Mimpi yang Tak Pernah Padam

Sebuah kisah di Hari Dunia Menentang Pekerja Anak tentang pentingya pendidikan dan kekuatan masyarakat melalui PATBM 

Di sebuah desa di wilayah perbatasan Sulawesi Selatan, Nurhidayah (42), seorang kader Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM), mendengar kabar bahwa seorang anak di desanya tidak akan melanjutkan sekolah karena kendala biaya. 

“Saya kira anak-anak harus sekolah. Apa gunanya berorganisasi jika tak bisa membantunya,”  katanya. 

Nurhidayah kemudian mengunjungi anak tersebut, namanya Ahmad* (18) dan saat itu baru saja lulus dari SMP. Ahmad* adalah anak bungsu dari enam bersaudara dan sehari-hari membantu orang tuanya mengelola kebun kakao kecil milik keluarga dan terkadang Ahmad* juga menjadi buruh tani. Tak jarang, Ahmad* juga bekerja sebagai buruh panen coklat ataupun buruh panen jagung.  

Ahmad* dan Impiannya Menyelesaikan Pendidikan 

Ahmad* dan Impiannya Menyelesaikan Pendidikan

Ahmad* memiliki impian untuk menyelesaikan pendidikan hingga tamat sejak kecil. Bahkan di jenjang SMP, dia berhasil meraih peringkat 5 di sekolahnya. Namun, prestasi ini sempat terancam karena pandemi COVID-19 yang memaksa pembelajaran daring, sementara Ahmad* tidak memiliki gawai yang memadai sehingga membuatnya tertinggal jauh. Setelah lulus SMP, harapan Ahmad* untuk melanjutkan ke SMA harus pupus karena terkendala biaya pendaftaran, seragam, dan lain-lain. 

” Waktu itu, harapannya untuk lanjut SMA sudah tidak bisa karena biaya. Tapi saya bersikeras dan mencoba berbagai cara. Saya menemui guru sekolah dan mendapatkan kesempatan,” ungkap Nurhidayah. 

Melihat semangat Ahmad* yang tidak padam, Nurhidayah berinisiatif menghubungi guru di sebuah Madrasah Aliyah swasta di kabupaten tetangga. Setelah diskusi dengan pihak sekolah, Ahmad* diterima tanpa dipungut biaya. Bahkan, ia juga diberikan seragam secara gratis. 

“Saya senang sekali. Seragam juga saya tidak beli,” kata Ahmad*. 

Ahmad* ingat betul pertama kali dia menggunakan seragam sekolah Madrasah. Dia bangga dan tekadnya semakin kuat untuk melanjutkan sekolah. Orang tuanya mendukungnya dengan penuh kasih sayang. Motor tua yang biasa digunakan Ahmad* untuk mengangkut hasil panen sebagai buruh tani, digunakannya sebagai transportasi menuju sekolah. 

Perjalanan Ahmad* tidak selalu mulus. Pernah suatu waktu ia harus absen sebulan penuh karena tidak memiliki uang untuk membeli bensin. Namun, teman-teman dan gurunya datang ke rumah dan memberikan amplop berisi uang sebagai bentuk solidaritas. 

“Teman-teman saya, kasi amplop. Saya ingat isinya Rp100.000. Itu lebih dari cukup dan saya bisa ke sekolah lagi.” 

Sekolah tempat Ahmad* menuntut ilmu memang memiliki keterbatasan. Gedung sekolah masih berlantai semen kasar, dan dalam satu ruang kelas terkadang dua jenjang belajar digabung karena keterbatasan guru. 

“Jadi biasa dalam satu kelas, tanpa pembatas, ada dua mata pelajar sekolah. Guru bisa menjelaskan sesaat untuk anak kelas 11, selanjutnya untuk anak kelas 12. Saya dengarnya biasa jadi pusing. Tapi saya senang karena bisa sekolah,” lanjutnya. 

Ahmad* menyukai pelajaran Kimia, meskipun dengan beragam rumus persamaan reaksi yang rumit ia tetap tekun menghafalkannya satu per satu. Dia membaca teori-teori persamaan reaksi dari buku mata pelajaran di sekolah. Dengan kemampuan menghafalnya yang tajam serta semangat belajarnya yang tekun, Ahmad* mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. 

Prestasi Ahmad* di Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional 

Semangat belajar Ahmad* tidak hanya membuahkan prestasi di sekolah, tetapi juga membawa dia menjadi perwakilan kontingen Sulawesi Selatan untuk mengikuti Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Nasional di Maluku Utara. 

Dukungan Nurhidayah kepada Ahmad* tidak berhenti setelah membantu proses sekolahnya. Ketika Ahmad* berpartisipasi dalam KSM di Maluku Utara, Nurhidayah membagikan cerita tentang perjuangan Ahmad* mewakili kampungnya di tingkat nasional. Cerita tersebut mendapatkan sambutan hangat dari warga kampung, yang kemudian mengumpulkan donasi untuk mendukung Ahmad* selama 6 hari berkompetisi di Maluku Utara. 

Ketika Ahmad* berada di tempat karantina KSM ia sangat bahagia untuk pertama kalinya ia memasuki laboratorium kimia, dan saat itulah momen pertama kali dia mencampur berbagai bahan dan menyaksikan reaksinya di depan mata. 

“Itu pertama kali saya pegang tabung reaksi. Selama ini di sekolah saya hanya tahu dari buku. Senang sekali rasanya,” katanya. 

Meski belum menjadi peringkat terbaik, partisipasi Ahmad* dalam KSM ini tetap membanggakan karena dia berhasil menempati urutan ke-20. 

“Saya bangga dengan pencapaian itu. Setidaknya, saya bisa melakukan yang terbaik,” katanya. 

Menjadi Harapan di Kampung serta Memberikan Dampak Positif Bagi Masyarakat 

Tanpa dia sadari, Ahmad* telah menjadi harapan kampung. Dia lah orang pertama yang membawa nama desa itu keluar pulau dalam prestasi. Nurhidayah juga turut bangga atas prestasi Ahmad*.  

Kini Ahmad* menunggu pengumuman kelulusannya di perguruan tinggi, berharap cita-citanya dan harapan orang tuanya terwujud. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi anak-anak lain untuk giat bersekolah dan mengejar impian mereka.  

Program Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) turut berperan dalam meningkatkan kesadaran komunitas tentang pentingnya pendidikan dan pencegahan pekerja anak. Dengan memberikan akses pendidikan yang luas, upaya ini tidak hanya membantu satu anak, tetapi juga membawa perubahan positif di masyarakat. Menurut Nurhidayah, kunci untuk mengurangi pekerja anak adalah dengan memberikan mereka kesempatan yang besar untuk bersekolah 

“Jika Ahmad* tidak lanjut SMA, maka dia akan jadi buruh tani dan bahkan kuli bangunan. Harapannya pun akan mati perlahan-lahan. Saya kira tidak ada atau sangat sulit untuk bisa menyembuhkan semangat yang sudah padam?” katanya. 

Cerita Ahmad* menunjukkan bahwa mencegah pekerja anak dan memperkuat dukungan komunitas melalui PATBM adalah langkah penting dalam membangun masa depan yang lebih baik bagi anak-anak di daerah terpencil. 

Scroll to Top