Jakarta, 10 Juni 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Bermain Internasional (International Day of Play) 2025, organisasi Right To Play International menyelenggarakan Virtual Mini-Summit bertema “Promoting the Power of Play to Accelerate Learning, Well-being, and Development for All”. Acara ini berlangsung secara daring pada Senin, 10 Juni 2025, pukul 19.00–21.30 WIB, dan dihadiri peserta dari berbagai belahan dunia.
Suatu kebanggan dalam forum virtual berskala internasional ini, hadir Ardine (17), perwakilan dari Child Campaigner Bali yang merupakan bagian dari Children and Youth Advisory Network (CYAN) Save the Children Indonesia, sebagai satu-satunya pembicara anak (child speaker) dari wilayah Asia.
Sebagai anak yang aktif di berbagai kegiatan sosial, Ardine memahami bahwa bermain bukan sekadar hiburan, tetapi ruang penting untuk belajar dan terhubung secara emosional.
“Karena bermain bukanlah jeda dari belajar, bermain adalah belajar. Bermain adalah harapan. Bermain adalah bentuk kepedulian. Bermain adalah cara kita tumbuh sebagai manusia,” ujar Ardine dengan penuh semangat.
Ardine juga menceritakan pengalamannya saat menjadi fasilitator dalam kegiatan Child Campaigner di Bali. Saat itu Ardine mengalami langsung bagaimana permainan tradisional mampu mencairkan batas antara fasilitator dan peserta. Momen sederhana seperti berlari, tertawa, dan bermain bersama justru membuka ruang refleksi yang jujur dan bermakna.
Dalam kegiatan lainnya, Ardine juga bercerita saat ia menjadi fasilitator dalam sebuah program pengembangan kreativitas di Jakarta. Ardine merasakan sendiri bagaimana bermain melalui aktivitas kreatif dengan balok menjadi cara untuk mengekspresikan diri tanpa tekanan. Ia menyadari bahwa kekuatan bermain terletak bukan pada hasil akhirnya, tetapi pada makna dan kebebasan di balik prosesnya.
Pengalaman-pengalaman ini menguatkan keyakinan Ardine bahwa bermain adalah bagian penting dari proses tumbuh dan belajar. Lewat bermain, anak-anak tidak hanya menerima pesan, tetapi turut membentuk dan memiliki makna dari pesan itu sendiri.
Virtual Summit ini menghadirkan beragam narasumber dan moderator dari berbagai negara, mencerminkan semangat kolaborasi global dalam memperjuangkan hak bermain bagi anak. Para panelis terdiri dari praktisi komunitas, aktor lokal, pendidik, hingga pakar internasional yang membahas berbagai topik mulai dari playful parenting, pembelajaran berbasis bermain di usia dini, pendekatan bermain dalam pendidikan formal, hingga dukungan psikososial berbasis permainan dalam konteks pembangunan dan krisis kemanusiaan.
Acara ini juga diwarnai dengan berbagai aktivitas bermain interaktif secara daring, memperlihatkan bahwa bahkan dalam format virtual, kekuatan bermain tetap dapat dirasakan dan menyatukan peserta dari latar belakang budaya, profesi, dan usia yang berbeda.
Kehadiran Ardine sebagai pembicara anak tidak hanya menjadi kebanggaan bagi Indonesia, tetapi juga memperkuat komitmen Save the Children dalam mengedepankan partisipasi anak yang bermakna, dengan menyediakan ruang yang aman bagi anak-anak untuk bersuara dan terlibat aktif dalam berbagai forum publik, termasuk dalam sesi berbagi praktik baik, advokasi, dan promosi isu-isu yang menyangkut hak serta kesejahteraan mereka. Ardine menunjukkan bahwa anak-anak bukan sekadar penerima manfaat, tetapi juga aktor perubahan yang layak dihargai dan dilibatkan secara setara di berbagai ruang dialog yang mempengaruhi masa depan mereka.
Hari Bermain Internasional ini menjadi momentum penting untuk terus mengingatkan dunia bahwa hak bermain adalah hak dasar anak yang tidak boleh diabaikan – karena melalui bermain, anak-anak belajar, berharap, terhubung, dan tumbuh menjadi pribadi yang utuh.