“Kalau ada yang tumpah, aku langsung bersihkan dan minta maaf. Yang penting sabar. Semangat terus!” ujar Viona* dalam bahasa isyarat, yang diterjemahkan oleh pendampingnya.
Viona adalah orang muda usia 21 tahun dengan keterbatasan pendengaran. Ia kerja magang di sebuah restoran, difasilitasi oleh Save the Children Indonesia dan Yayasan Ibu melalui program kesiapan kerja Skills to Succeed.
Viona percaya bahwa teman tuli tidak perlu merasa malu atau takut. Ia sering mengajarkan bahasa isyarat kepada teman-temannya agar mereka bisa saling berkomunikasi. Selain itu, ia juga selalu berusaha menyemangati mereka.
Dari cerita dan tindakannya, terlihat jelas bahwa Viona adalah sosok yang pantang menyerah. Selama magang, ia mendapatkan gaji dan menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan begitu, ia tidak pernah perlu meminta uang kepada orang tuanya.
Saat bekerja di restoran, Viona melatih dirinya untuk menghafal semua menu, memastikan pesanan sesuai, mengingat tempat duduk pelanggan, dan melakukan tugas-tugas lain.
“Aku mencatat jika ada pesanan yang kurang. Aku juga selalu mengecek ulang supaya pesanan benar. Aku belajar membedakan gelas kopi dan jus – mana yang besar dan kecil. Aku memperhatikan dengan seksama dan mencatat semuanya,” jelas Viona.

Selama magang, ia tidak menghadapi kendala besar. Meskipun ia kadang pulang terlambat karena harus menunggu dijemput, ia tetap bersemangat.
“Aku harus tetap semangat, ini bukan masalah besar. Aku tak pernah takut pulang malam. Kalau guru belum datang menjemput, aku tunggu sampai sore. Sambil menunggu, aku tetap bekerja,” kata Viona.
Pengalaman bekerja dan bertemu banyak orang telah membuat Vona lebih nyaman berkomunikasi. Ia yakin bahwa bekerja jauh lebih baik daripada hanya berdiam diri di rumah.
Viona juga menyisihkan sebagian penghasilannya. Ia memiliki buku tabungan untuk mencatat pendapatan. Jika suatu hari ia mendapatkan pekerjaan tetap, ia berencana untuk menyelesaikan pendidikan yang sempat tertunda.