Cerita Perubahan

Belajar Mandiri dalam Keterbatasan Pendengaran: Kisah Hadi dalam Program Kesiapan Kerja S2S

Tidak ada yang tidak mungkin. Ungkapan ini menggambarkan kondisi Hadi*, seorang siswa dengan disabilitas pendengaran peserta program kesiapan kerja Skills to Succeed dari Jawa Barat. Meskipun dia berjuang dengan kondisinya, Hadi sebenarnya adalah siswa yang aktif dan bergabung dalam berbagai kegiatan.

Tidak Takut Menghadapi Tantangan

Selain mengejar hobinya membuat kue, Hadi ikut serta dalam kompetisi modeling fashion dan menunjukkan kemampuan menari di depan publik.

Dengan banyaknya prestasi, Hadi memiliki cita-cita menjadi seorang bartender. Cita-cita ini dipengaruhi oleh program magang yang diinisiasi oleh program Skills to Succeed (S2S). Hadi mengikuti program magang ini saat dia bersekolah di sebuah sekolah menengah atas khusus disabilitas di Jawa Barat dan lulus pada tahun 2021.

“Saya ingin menjadi bartender. Saya siap ditempatkan di mana saja, tapi saya harus jadi bartender,” kata Hadi dalam bahasa isyarat, diterjemahkan oleh gurunya.

Karena cita-citanya ini, Hadi menjadi siswa yang  lebih percaya diri. Setelah mengikuti program magang, dia semakin percaya diri untuk berkomunikasi dengan orang lain. Hal ini terjadi karena Hadi mendapatkan banyak dukungan dari lingkungannya, keluarga, guru, teman magang, dan karyawan restoran Alas Daun tempat dia magang.

Selain aspek komunikasi, ada tantangan lain yang harus dia hadapi, yaitu jarak yang jauh antara rumahnya dan tempat magang. Beruntungnya, Hadi sudah memiliki SIM.

“Ya, rumah saya jauh sekali dari sini,” sebutnya.

Hadi tidak merasa terbebani atau tertekan dengan tantangan tersebut. Ia justru memotivasi teman-temannya untuk terus semangat dan belajar dengan giat. Dia juga mengatakan hal ini kepada tim dari Save the Children Indonesia.

“Kita harus tetap semangat untuk membantu siswa yang memiliki disabilitas,” ujar Hadi.

Mengatasi Keraguan

Dengan segala semangat yang dimiliki Hadi, sayangnya, orang tuanya masih merasa tidak yakin. Ketika Hadi duduk di kelas 2 SMA, Ibu Maya, ibunda Hadi, bingung mengenai masa depan Hadi. Bahkan, Ibu Maya telah merencanakan untuk membuka toko kelontong untuk Hadi di depan rumah mereka.

Selama bertahun-tahun, Ibu Maya selalu memikirkan apakah Hadi bisa tumbuh menjadi pria yang mandiri atau tidak, mengingat disabilitas yang dimilikinya. Ibu Maya juga pernah mendaftarkan Hadi di berbagai pelatihan pra-kerja di Jawa Barat.

“Untungnya, saya bertemu dengan orang-orang dari Save the Children Indonesia yang mencari anak-anak dengan disabilitas untuk magang. Saya menyampaikan kekhawatiran saya bahwa saya memang membutuhkan pelatihan pra-kerja untuk membantu anak saya sampai dia sukses,” kata Ibu Maya.

Dalam program magang yang difasilitasi oleh program kesiapan kerja Skills to Succeed, anak-anak diberikan pelatihan pra-kerja, kesempatan magang dan pelatihan di tempat kerja, serta evaluasi berkelanjutan dengan anak-anak dan orang tua. Hasilnya, setiap proses magang menghasilkan output yang diharapkan.

“Syukurlah, mereka sangat senang magang di Alas Daun. Mereka bahkan berharap segera mendapatkan pekerjaan karena ingin punya uang untuk jalan-jalan, makan di kafe, dan membeli motor,” jelas Ibu Maya.

Selain itu, Ibu Maya juga mengonfirmasi bahwa ada manfaat lain setelah Hadi aktif mengikuti program magang. Perubahan yang paling terlihat adalah kebiasaan sehari-hari Hadi. Sebelumnya, Hadi sering tidur setelah sholat subuh. Namun sekarang, Hadi akan menyiapkan dirinya untuk mengikuti program magang. Dari menyetrika kaos hingga menyiapkan sarapan, semua dilakukan sendiri.

Ibu Maya juga menceritakan bahwa sebelumnya Hadi tidak percaya diri untuk bergaul dan bertemu banyak orang, namun sekarang, Hadi tidak lagi merasa tidak aman saat harus berkomunikasi dengan orang baru.

“Sudah banyak perubahan pada dirinya. Dari anak yang malas menjadi anak yang lebih rajin. Dia juga memiliki harapan untuk bekerja di tempat lain,” katanya.

Karena itu, dia menyarankan para orang tua yang memiliki anak dengan disabilitas untuk memberikan perhatian lebih dan dukungan penuh pada anak-anak mereka. Sebagai orang tua, mereka tidak boleh melarang keinginan anak-anak mereka, atau memaksa anak-anak untuk menjadi apa yang diinginkan orang tua. Orang tua harus mendengarkan kebutuhan dan keinginan anak-anak mereka serta memandang anak-anak mereka sebagai teman. Sebagai hasilnya, anak-anak akan merasa lebih bebas untuk menyampaikan pendapat dan keinginan mereka.

“Jangan biarkan anak-anak kita takut pada kita,” tambahnya.

Memberdayakan Komunitas

Tidak mengherankan jika selain memberikan perhatian lebih pada anaknya, Ibu Maya juga aktif mendukung teman-teman Hadi yang juga memiliki disabilitas. Kini, dia aktif mengembangkan Komunitas Tuli Iqro – sebuah komunitas pembelajaran Al-Qur’an menggunakan bahasa isyarat, tempat berkumpulnya teman-teman tuli.

“Saya ingin mengembangkan Rumah Quran dengan bahasa isyarat di Komunitas Bandung dari teman-teman Hadi,” sebutnya.

Ibu Maya juga berharap semua fasilitas lebih inklusif bagi orang dengan berbagai jenis disabilitas. Sejauh yang dia tahu, fasilitas untuk orang disabilitas hanya ada untuk blok panduan bagi penyandang tuna netra dan ruang khusus di transportasi umum untuk pengguna kursi roda.

“Semoga masyarakat dan pusat pelatihan atau kursus umum menerima anak-anak dengan disabilitas karena tidak semua dari mereka tidak kompeten. Tolong terima kami karena kami juga membutuhkan kesetaraan di masyarakat,” jelas Ibu Maya.

Hadi telah mencoba mencari pekerjaan di beberapa tempat, namun belum diterima. Namun Hadi tidak menyerah. Saat ini, Hadi menjadi guru Al-Qur’an untuk anak-anak dengan disabilitas dan masih mencari pekerjaan. Sebagai guru Al-Qur’an, Hadi mendapat bayaran. Dengan dukungan dari ibunya, dia menjalankan kegiatan ini di rumahnya.

Scroll to Top