SUMBA – Save the Children Indonesia bersama Perkumpulan Stimulant Institute, Yayasan Wahana Komunikasi Wanita, serta Pemerintah Kabupaten Sumba Barat dan Kabupaten Sumba Tengah telah mengembangkan dan meluncurkan aplikasi Sistem Informasi, Monitoring, dan Pengaduan Kekerasan pada Perempuan dan Anak (SIGMA-PPA). Aplikasi ini menjadi sarana pendukung bagi pemerintah daerah untuk menerima laporan dan memantau penanganan kasus kekerasan di desa-desa di Sumba, yang belum dapat dicakup oleh aplikasi SIMFONI-PPA di tingkat nasional.
Seremoni peluncuran SIGMA-PPA dilakukan pada 1 Desember 2023 di Sumba Tengah dan Sumba Barat. Acara ini dihadiri oleh Bupati, perwakilan dinas, tokoh agama, perwakilan desa, dan anggota kelompok PATBM (Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat).
Menurut data terbaru SIMFONI-PPA (Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak) per 5 Desember 2023, tercatat ada lima kasus di Sumba Barat dan delapan kasus di Sumba Tengah terkait kekerasan terhadap anak. Namun, angka ini hanya mencakup kasus yang dilaporkan dan ditangani oleh dinas terkait. Sementara itu, masih banyak warga di desa yang tidak mengerti alur pelaporan kasus kekerasan karena kesulitan akses informasi.
Kebijakan perlindungan anak, sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014, menegaskan perlunya penyelenggaraan sistem pelaporan dan penanganan kasus kekerasan pada anak. Melaporkan kasus kekerasan adalah langkah kunci dalam memastikan pemenuhan hak anak termasuk perlindungan.
Meskipun sudah ada data terpadu secara nasional, perlu upaya lanjutan untuk memastikan penanganan kasus dipantau dan dicatat. Ini melibatkan partisipasi aktif masyarakat, tokoh agama, dan kelompok PATBM, terutama di daerah pedesaan.
“Peningkatan kesadaran tentang pentingnya melaporkan kasus kekerasan dapat mendorong lebih banyak orang untuk bersuara dan melibatkan diri dalam perlindungan anak dan perempuan. Melalui aplikasi SIGMA-PPA, Save the Children bersama mitra dan didukung oleh pemerintah daerah berupaya untuk memberikan solusi terpadu dalam perlindungan anak di Sumba Barat dan Sumba Tengah,” kata David Walla, Acting Senior Program Implementation Manager Save the Children Indonesia.
Pengembangan SIGMA-PPA dibagi dalam beberapa tahap, termasuk penyusunan sistem yang disesuaikan dengan konteks lokal, pelatihan administrator di tingkat desa, uji coba, dan sosialisasi di tingkat kabupaten. Selama September hingga November 2023, SIGMA-PPA telah diujicobakan di 10 desa di Sumba Barat dan delapan desa di Sumba Tengah.
Dengan aplikasi ini, tenaga layanan di tingkat daerah dapat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan lebih optimal. Selain itu, praktik supervisi dan pemantauan kasus kekerasan terhadap anak di Sumba Barat dan Sumba Tengah juga dapat dipekuat. Prioritas utama adalah kerahasiaan data dan informasi, dengan jaminan bahwa akses ke data hanya bagi pihak yang berwenang.
“Pemerintah daerah tidak akan menghalangi sedikitpun dan akan mendukung aspek regulasi terkait kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan. Namun, kita juga butuh kesadaran dan dukungan dari masyarakat untuk menyingkirkan kasus kekerasan sampai pada titik nol dengan berbagai cara, termasuk dengan dukungan teknologi informasi seperti dalam SIGMA-PPA. Semoga tidak hanya berhenti di sini saja, tetapi bisa berjalan terus untuk mendukung pelaporan kasus kekerasan di Sumba,” kata Bupati Sumba Tengah Paulus S.K. Limu.
Save the Children berharap SIGMA-PPA dapat memberikan kontribusi signifikan dalam menanggulangi kekerasan terhadap anak di Sumba Barat dan Sumba Tengah. Seandainya terjadi kasus kekerasan terhadap anak, aplikasi ini diharapkan dapat mendukung pelaporan dan penanganan di tingkat desa supaya lebih efisien, akurat, dan tepat waktu. Perjuangan melawan kekerasan terhadap anak adalah tugas bersama untuk memastikan masa depan yang aman dan berpihak kepada anak.