
Pagi itu Benny Johan, mengenakan kaos abu-abu, duduk santai sambil berbincang di dalam gazebo yang teduh di bawah pepohonan rindang. Suara cuitan burung-burung terdengar nyaring. Sementara dari kejauhan, terdengar suara beberapa orang sedang membuat rak-rak buku di kantor area Save the Children di Sumba Barat.
Kali ini dia tidak sedang bekerja. Dia bercerita dengan antusias. Tujuh tahun perjalanan Benny bersama Save the Children diungkapkan lewat banyak sekali cerita, tentang keinginan untuk terus berkarya di tengah anak-anak yang ia jumpai.
Dia memulai karir sebagai Project Officer pada Maret 2015. Dinamika selama bekerja di lapangan menempa berkali-kali. Kini, ia berperan sebagai Community Mobilizer Specialist, bekerja bolak-balik dari satu desa ke desa lain.
“Kurang lebih pekerjaan saya berkaitan dengan capacity building atau pendampingan untuk kelompok-kelompok kita di desa-desa dampingan Program Sponsorship (Save the Children) di Sumba,” jelasnya.
Sehari-hari Benny bekerja di dua kabupaten, yakni Sumba Barat dan Sumba Tengah. Ia dan timnya menjalankan kegiatan program di 63 desa dampingan. Ada 44 desa di Sumba Barat dan 19 desa di Sumba Tengah.
“Jadi fungsi kami, saya dan Community Mobilizer, adalah mendorong partisipasi masyarakat untuk ikut bekerja bersama Program Sponsorship di 63 desa itu,” imbuhnya.
Bermula dari Ruang Kelas
Tujuh tahun lalu, Benny adalah seorang guru pengajar di salah satu sekolah dasar di Sumba Barat. Ia tahu Save the Children melalui teman-temannya yang sudah lebih dulu bekerja di organisasi ini.
Suatu hari, sepercik keinginan muncul dalam dirinya. Benny ingin berkontribusi lebih besar, terutama untuk anak-anak. Pikiran tersebut muncul saat anaknya sedang menonton klip video sebuah lagu. Tiba-tiba saja dia meresapi salah satu penggalan liriknya.
“I need more power to doing good,” begitu kira-kira penggalan lirik yang dia ingat, yang artinya “Aku butuh kekuatan lebih untuk melakukan hal-hal baik”. Kalimat ini membawa Benny pada pikiran, bahwa kontribusinya sebagai seorang guru akan terbatas pada anak-anak di kelas. Dia merasa kurang puas.
“I need more power to doing good.”
Setelah satu tahun sembilan bulan mengajar, dia memutuskan berhenti menjadi guru dan bergabung dengan Save the Children. Saat itu, Program Sponsorship baru saja dimulai di Sumba Barat.
“Saya berpikir bisa berbuat sesuatu, setidaknya untuk anak-anak di Sumba. Mungkin lebih besar pengaruhnya,” ungkap Benny.
Klop. Ini seperti yang dia bayangkan sebelumnya. Dia merasa dedikasinya dapat diberikan ke lebih banyak anak tanpa terhalang sekat ruang kelas. Dasar semangat itu masih menjadi penggerak Benny hingga kini. Tidak luntur, atau jangan sampai luntur, begitu harapannya.
“Sehingga apa yang kita kerjakan sekarang, sampai 63 desa di dua kabupaten seperti ini, saya merasa ada kepuasan, bahwa kita bisa berkontribusi untuk lebih banyak anak dan dampaknya bisa sangat panjang,” jelas Benny.
Benny merasa tidak ada keberatan ketika bekerja sebagai project officer saat itu. Baginya, pekerjaan tersebut memiliki kesamaan latar belakang dengan pekerjaan sebelumnya. Sama-sama di dunia pendidikan, hanya saja berbeda dalam penerapan dan ruang edukasi.
Disiplin Positif dan Kebijakan Keselamatan Anak
Suatu kali, seseorang pernah bertanya mengenai manfaat yang didapatkan untuk keluarga Benny. Satu pertanyaan yang paling mengagetkan, “Terus anakmu sendiri dapat manfaat apa?”
“Saya senang dengan pertanyaan itu,” ucapnya sambil mengingat kembali. “Waktu itu, saya merasa cukup paham tentang apa itu pendampingan anak-anak atau seperti apa hidup berkeluarga. Namun setelah bergabung dengan organisasi ini, baru saya tahu menjadi ayah yang sesungguhnya itu harus seperti apa. Hakikat dari kata ‘Save the Children’ itu seperti apa sebagai seorang ayah.”
“Organisasi ini bukan sekadar ramah dengan anak, tetapi juga memastikan lingkungannya aman untuk anak-anak.”
Dia ingin memastikan semua anak-anak selamat, lebih-lebih anak sendiri. Benny semakin mengerti bagaimana pola tumbuh kembang anaknya dalam setiap proses. Pendampingan pada anak sendiri dilakukan dengan prinsip “disiplin positif”, sebagaimana digaungkan oleh Save the Children.
“Saya sehari-hari terpapar dengan disiplin positif. Istri, ibu dari anak-anak, tidak terpapar hal seperti itu. Akhirnya kami mempraktikkan pengetahuan pengasuhan ke dalam keluarga sendiri,” ungkapnya.
Selain itu, prinsip child safeguarding atau keselamatan anak juga tertanam dalam benaknya hingga saat hari ini. Prinsip dan kebijakan yang dibawa oleh Save the Children, baginya, secara tidak langsung ikut dibawa dalam kehidupan sehari-hari seperti sebuah rutinitas.
“Kalau sekadar ramah dengan anak-anak, semua orang ramah dengan anak-anak,” ujarnya penuh semangat. “Orang terbiasa ramah dengan anak-anak. Organisasi ini bukan sekadar ramah dengan anak, tetapi juga memastikan lingkungannya aman untuk anak-anak.”
Cahaya di dalam Terang
Benny tidak hanya bekerja dan beristirahat. Sesekali ia melakukan refleksi. Ini membuat dia terbiasa memikirkan ulang dan mendalami hal-hal yang telah mereka lakukan. Termasuk ketika dia dan tim mendapatkan apresiasi dari tokoh masyarakat atas kerja-kerja Save the Children.
Dalam refleksinya atas pekerjaan, Benny membandingkan dan mencoba menerka apa yang dilakukan oleh Eglantyne Jebb, pendiri Save the Children, pada tahun 1919.
Jebb, seorang mantan guru, mendirikan organisasi Save the Children jelang akhir Perang Dunia I. Jebb juga bergabung dengan sebuah kelompok yang bekerja untuk mendapatkan obat dan makanan untuk anak-anak. Baginya, anak-anak harus menjadi yang pertama menerima bantuan pada saat kesusahan. Dia melakukan protes di London dan menggalang dukungan untuk menyelamatkan anak-anak yang terjebak dalam perang.
“Eglantyne Jebb mungkin berada pada masa yang ekstrem, perang. Namun kita saat ini, tidak ada sesuatu yang sungguh ekstrem, tetapi kita tetap bisa menampilkan warna berbeda. Bagi saya itu luar biasa,” ungkap Benny.
“Kita sekarang, kalau kita analogikan, ada pada sesuatu yang sebenarnya tidak kacau, tetapi terang benderang, tetapi cahaya kita tetap kelihatan. Eglantyne Jebb, dia membawa lilin di kegelapan. Generasi kita tetap membawa lilin yang sama di sesuatu yang sudah terang, tetapi kita tetap kelihatan.”
Perumpamaan ini tampaknya mengisyaratkan bagaimana Benny terus mendapatkan motivasi untuk mendampingi anak-anak
“Teman-teman Save the Children saat ini bagi saya sama dengan Eglantyne Jebb – lebih hebat sedikit,” ujar Benny setengah berkelakar, “karena kita membawa lilin di tempat yang terang dan kita tetap kelihatan.”
“Generasi kita tetap membawa lilin yang sama di sesuatu yang sudah terang, tetapi kita tetap kelihatan.”
Berkembang dan Menjadi Relevan
Benny juga sempat merefleksikan tantangan yang dia hadapi. Dia membayangkan menjadi masyarakat yang sedang mengikuti berbagai macam program. Saat itulah dia memahami bahwa mungkin ada kejenuhan yang dirasakan masyarakat dampingan program. Terlebih jika ada banyak jenis program atau kegiatan, baik dari satu atau beberapa organisasi sekaligus, untuk kelompok masyarakat yang sama pada rentang waktu sama atau berdekatan.
Benny dan rekan-rekan terus melakukan evaluasi dan pengembangan. Bercanda dan tertawa tentu diperlukan, terutama dalam situasi sulit. Misalnya momen-momen diskusi yang panas akibat perbedaan pendapat. Baginya, meskipun pekerjaan terasa berat atau harus terus dikoreksi, tetapi ini harus terus dilakukan karena berguna dan dibutuhkan orang-orang.
Dia berharap Save the Children sebagai tempatnya bekerja saat ini bisa semakin luas dalam menjangkau anak-anak di berbagai daerah. Ia mengungkapkan tidak ingin selesai dengan pekerjaan ini. Dia merasa ada kontribusi yang masih harus diberikan, khususnya di Sumba tempatnya bernaung selama ini.
“Sebenarnya apa yang kita lakukan ini bukan ide baru. Namun Save the Children ini adalah sesuatu yang tetap dibutuhkan selamanya karena anak lahir setiap hari. Harus ada orang yang tetap memastikan bahwa anak-anak selamat. Kita sudah ada di tempat yang tepat. Jangan ke mana-mana lagi,” pungkasnya. •