Pada 28 September 2018, Sulawesi Tengah dilanda gempa berkekuatan 7,4 M yang berpusat di Donggala Utara. Kejadian ini memicu tsunami di beberapa area, sementara longsor juga terjadi di Kota Palu. Sekitar 170.000 orang mengungsi di 400 kecamatan. Total klaim kerugian mencapai USD 1,3 miliar atau lebih dari Rp 18,5 triliun. Â
Setidaknya ada 180 lembaga kemanusiaan yang berperan dalam tanggap bencana di bawah koordinasi pemerintah Indonesia. Save the Children menjadi salah satu lembaga kemanusiaan yang menerapkan bantuan cepat tanggap pada situasi bencana di Provinsi Sulawesi Tengah. Proses pemulihan pascabencana di Sulawesi Tengah masih belum sepenuhnya selesai walaupun banyak program yang sudah usai pada akhir tahun 2021. Pemerintah Indonesia kemudian memberikan target sampai tahun 2024.
Pada tahun 2022, Save the Children Indonesia melakukan asesmen atau penilaian situasi pascabencana di Sulawesi Tengah untuk memahami keadaan pemulihan pascabencana, termasuk status kesejahteraan anak-anak, agar dapat menginformasikan program kemanusiaan di masa mendatang.
Situasi pemulihan dinilai dalam lima dimensi pemulihan, yakni fisik, ekonomi, politik, lingkungan, dan sosial budaya. Komponen yang diukur dalam setiap dimensi dilihat dari variabel di tingkat rumah tangga hingga masyarakat. Karena itu, pendekatan pada komunitas terdampak dilakukan secara inklusif, mulai dari survei rumah tangga, diskusi dalam kelompok, dan wawancara informan kunci.Â
Tim Save the Children melakukan penilaian pada April-Juni 2022. Proses ini berjalan di tiga kabupaten, yakni Palu, Sigi, dan Donggala. Total informan sebanyak 1.639 penduduk, termasuk orang dewasa dan anak-anak, anggota organisasi berbasis masyarakat (CSO), serta pemerintah daerah setempat termasuk kepala desa.
Dari lima dimensi penilaian, situasi sosial-budaya adalah yang paling banyak pulih. Platform berbasis komunitas atau kelompok sosial dari tiga desa dimanfaatkan dengan baik. Para informan menyatakan bahwa platform tersebut dimobilisasi untuk kegiatan kemanusiaan oleh organisasi non pemerintah (NGO). Peningkatan kapasitas kesiapsiagaan bencana dan mata pencaharian pascagempa termasuk di dalamnya.
Pemulihan dalam dimensi fisik dan ekonomi masih tertinggal. Infrastruktur fasilitas umum adalah salah satu penyebabnya dengan laporan bahwa 75% fasilitas masih belum layak dipakai. Ini artinya kondisi jalan, fasilitas kesehatan, fasilitas publik, dan sekolah masih belum memadai. Ada indikasi bahwa anak-anak masih belum secara optimal mengakses hak mereka untuk mengikuti kegiatan belajar-mengajar.
Dari asesmen ini, tim Save the Children juga mendapati adanya peluang baik di seluruh tingkat perbaikan. Contohnya, bencana membawa perubahan pada hubungan masyarakat yang semakin inklusif. Hampir seluruh anak-anak menyebutkan bahwa segala bentuk diskriminasi (gender, ras, dan agama) tidak ditemukan dalam komunitas mereka.
Di tingkat kabupaten, ada peluang untuk memperkuat koordinasi antara pemerintah desa dan NGO. Selain itu, kepercayaan masyarakat kepada NGO juga menjadi sumber daya potensial untuk NGO bisa tetap berperan aktif.
Selengkapnya, hasil asesmen ini dapat dibaca lebih lanjut dalam dokumen Post Disaster Recovery Assessment in Central Sulawesi: Research Brief yang telah dirilis Save the Children Indonesia.