
Bali, 26 Mei 2022 – Save the Children Indonesia bersama IDEP Foundation menggelar “Coffee Talk” sebagai self-managed event di Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di mana perwakilan anak dan orang muda seperti Ranti, Annisa, dan Kadek Rina menjadi narasumber yang membahas isu krisis iklim dan Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Acara ini dihadiri oleh audiens dari berbagai latar belakang, mulai dari pemerintahan, seperti dr. Siti Nadia Tarmizi – Juru Bicara Pemerintah RI Untuk G20, Prof. Drh. Wiku Adisasmito – Juru Bicara Nasional Penanganan Covid-19, Pangarso Suryotomo – Direktur Kesiapsiagaan BNPB, dan lainnya, serta perwakilan organisasi atau lembaga internasional, baik profit maupun nonprofit. “Coffee Talk” menjadi wadah partisipasi anak yang bermakna, di mana orang dewasa yang terlibat dalam berbagai kepentingan bisa mendengarkan suara anak secara langsung dalam isu PRB dan krisis iklim.
“Tiga pilar Sekolah Aman sangat penting ketika bencana terjadi, tapi sayangnya belum terimplementasi dengan baik. Mulai dari fasilitas yang aman untuk anak-anak, misalnya infrastruktur dan sarana yang tahan gempa. Kedua adalah manajemen bencana, seperti pembagian tugas apabila bencana terjadi. Ketiga, pendidikan PRB yang inklusif dan bisa diakses oleh anak-anak dari berbagai latar belakang dan kondisi, termasuk untuk anak-anak disabilitas,” kata Ranti ketika ditanya perihal tantangan PRB.
Tantangan lainnya yang disampaikan oleh Annisa, Ranti, dan Kadek Rina adalah mengenai akses informasi ramah anak mengenai PRB dan krisis iklim yang sangat terbatar, wadah yang terbatas untuk anak-anak agar bisa megemukakan aspirasi, dan anak-anak yang menghadapi gangguan kesehatan mental saat pandemi COVID-19 dan bencana.

Siti Nadia Tarmizi mengapresiasi perhelatan yang melibatkan anak-anak sebagai pembicara ini, “Saya mengapresiasi Save the Children yang telah menyelenggarakan acara ini. Luar biasa anak-anak Indonesia bisa sharing tentang pengalaman menghadapi bencana. Ini adalah satu forum yang baik, mempertemukan “sound from the ground”, mitra, dan pemerintah. Dengan kolaborasi ini, kita bisa menciptakan pengaruh yang kuat,” tutur dr. Siti Nadia Tarmizi
Dalam kesempatan tersebut, anak dan orang muda yang menjadi pembicara juga menghadirkan rekomendasi untuk pemerintah dan instansi swasta, seperti memastikan adanya kebijakan ramah anak, khususnya untuk anak-anak di wilayah rawan bencana sehingga tidak ada satupun anak yang tertinggal. Selanjutnya, adanya monitoring implementasi tiga pilar Sekolah Aman Bencana agar semua sekolah dapat menerapkan secara maksimal tanpa terkecuali.
Selain itu, Annisa, Ranti dan Kadek Rina juga berharap, anak dan orang muda didukung dan diberikan kesempatan untuk melakukan inovasi yang berkaitan dengan PRB dan krisis iklim, baik melalui pelatihan, workshop, dilibatkan dalam berbagai forum dan lain sebagainya. Tak kalah penting, rekomendasi mereka adalah agar media juga mengedepankan pemberitaan yang inklusif dan ramah anak, serta memperbanyak informasi dan edukasi PRB dan krisis iklim agar semakin banyak anak dan masyarakat yang terpapar informasi tersebut.
Partisipasi anak yang bermakna adalah hak setiap anak dan merupakan elemen sentral dari pengurangan risiko bencana dan krisis iklim. Anak perlu mendapatkan informasi yang lengkap, ruang aman yang lebih luas untuk berpendapat dan berinovasi, serta dukungan yang setara dan inklusif, untuk memastikan masa depan anak yang lebih resilien.
Dengan demikian akan tercipta lingkungan yang aman dan sehat bagi anak-anak dan pemuda bertumbuh dan berkembang. Hal ini seperti yang diinisiasi oleh Save the Children yang memberikan kesempatan kepada perwakilan anak dan pemuda untuk aktif dalam dewan jaringan penasihat anak dan pemuda utuk berbagai issue dan topik.
“Dalam berbagai kesempatan, Save the Children mengedepankan partisipasi anak. Kami harap, forum-forum seperti ini tidak sekadar melibatkan anak untuk formalitas, tetapi anak bisa terlibat aktif, aspirasinya didengar, dan rekomendasinya dapat dipertimbangan menjadi solusi,” jelas Troy Pantouw, Chief of Advocacy, Campaign, Communication, and Media – Save the Children Indonesia.
___________________________________
Catatan untuk Editor:
Tentang Save the Children
Save the Children di Indonesia terdaftar dengan nama entitas Yayasan Save the Children Indonesia berdasarkan SK Kemenkumham No. AHU-0001042.AH.01.05 Tahun 2021. Save the Children Indonesia merupakan bagian dari gerakan global Save the Children Internasional yang bekerja memperjuangkan hak-hak anak di lebih dari 120 negara di dunia. Di Indonesia, misi Save the Children dilakukan sejak tahun 1976. Detail lebih lanjut dapat mengunjungi www.savethechildren.or.id
Pernyataan Anak dan Orang Muda – GPDRR 2022 secara resmi dapat diunduh di sini