Dimulai dari Ranti

“Idenya sederhana, kita datangi setiap rumah anak-anak disabilitas dan mengajak mereka ngobrol dan bermain bersama. Sesederhana itu,” kata Ranti sambil meletakan secangkir teh hangat yang baru saja diseruputnya ke atas meja.

(Foto: Fikri Padilah / Bumi Disabilitas / Save the Children)

Sore itu di salah satu kafe di tengah kota Bandung, kami baru saja menyelesaikan hari yang sangat padat. Dimulai dari pagi hari ketika Ranti bersama teman-temannya mengadakan pertemuan dengan para orang tua dari anak-anak dengan disabilitas dan mengunjungi dua rumah anak disabilitas di desa hingga siang hari. Selepas makan siang, Ranti bergegas ke Kota Bandung untuk bertemu dengan anak-anak yang tergabung dalam Child Campaigners Save Our Education wilayah Jawa Barat.

Matahari sudah sepenuhnya terbenam ketika sebagian besar Child Campaigners telah pamit pulang. Ranti masih bertahan untuk mengeluarkan berbagai ide yang belum sempat terungkapkan ketika pertemuan tadi. Dari sorot matanya terlihat jelas semangat dan passion yang tinggi dibalik pembawaanya yang selalu tenang. Ide yang saat itu tercetus untuk melakukan program kunjungan rumah menjadi bahasan yang menarik, Gerakan Teman Berkabar yang dicetuskan oleh Child Campaigners wilayah Jawa Barat berhasil diterjemahkan Ranti kedalam aktivitas kunjungan ke rumah-rumah anak disabilitas untuk menanyakan kabar mereka.

Ide Ranti sangat masuk akal. Satu tahun lebih setelah pandemik terjadi dan pembelajaran tatap muka di sekolah terpaksa dihentikan, anak-anak disabilitas memiliki tantangan lebih besar untuk mendapatkan akses ke pendidikan berkualitas.

Sekitar 85% orang tua, terutama ibu dari anak-anak dengan disabilitas, khawatir buah hati mereka tidak bisa kembali lagi ke bangku sekolah pada situasi pandemi saat ini (Survei Global Save the Children, 2020). Dari angka 85% itu, didapati juga bahwa kekhawatiran serupa dirasakan tiga kali lipat lebih besar oleh orang tua dengan disabilitas perempuan.

Keterbatasan pengetahuan dan keterampilan para tenaga pendidik dalam memberikan layanan pendidikan inklusi masih menjadi tantangan besar. Apalagi mereka harus menyelenggarakan pembelajaran jarak jauh dengan metode daring atau online learning. Keterbatasan kapasitas orang tua dalam mendampingi anak-anak disabilitas dalam mengikuti online learning juga menjadi salah satu faktor yang menghambat mereka dalam belajar.

“Di masa pandemi semua pembelajaran menjadi online, setiap hari latihan soal dan harus dicatat di buku tulis. Padahal saya mengalami keterbatasan fisik untuk menulis. Sebaiknya guru-guru bisa lebih dekat dengan anak-annak disabilitas sehingga guru bisa memahami kebutuhan dan tantangan yang dihadapi anak-anak seperti saya,” ujar Ranti.

Ide Ranti untuk menyuarakan suara anak-anak disabilitas melalui kegiatan kunjungan rumah disambut baik oleh Child Campaigners lain. Bumi Disabilitas, komunitas anak muda yang peduli isu disabilitas, yang juga menjadi tempat Ranti bernaung, bersedia untuk berkolaborasi bersama Child Campaigners dalam mewujudkan ide ini.

Setelah rangkaian diskusi secara online, kegiatan itu akhirnya terwujud bertepatan dengan momentum Hari Anak Internasional yang diperingati pada 1 Juni 2021. Sebanyak 75 relawan bergabung untuk mengunjungi 50 anak disabilitas di Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung. Protokol kesehatan menjadi faktor yang sangat diperhatikan, termasuk membatasi jumlah relawan yang diperbolehkan mengunjungi rumah-rumah anak disabilitas.

Kegiatan tersebut disambut baik oleh anak-anak disabilitas dan orang tua mereka. Para relawan telah dibekali kemampuan untuk beraktivitas dengan anak disabilitas. Mereka juga dibekali cara melakukan asesmen awal untuk dapat menggali suara dan harapan anak-anak terkait akses pendidikan berkualitas. Pembekalan juga demi memastikan supaya kegiatan berlangsung dengan aman.

Ranti ditunjuk mewakili para relawan untuk menjadi media spokesperson dengan asistensi penuh dari tim komunikasi Save the Children. Mewakili suara anak-anak disabilitas yang harus terdengar seluas mungkin melalui bantuan media massa.

(Foto: Tristan Abdurrahman / Bumi Disabilitas / Save the Children)

Tidak cukup melalui media, Ranti dan perwakilan anak-anak disabilitas lainnya menemui Direktur Pendidikan Masyarakat dan Pendidikan Khusus Kemendikbud-Ristek Dr. Samto, Bupati Bandung Dadang Supriatna, serta Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Seksi Perlindungan Khusus Anak. Ranti dan perwakilan anak-anak disabilitas menyampaikan kendala yang mereka hadapi semasa pandemi, terutama kaitannya dengan hak pendidikan bagi anak-anak disabilitas.

Dalam sesi dialog tersebut, Bupati Bandung Dadang Supriatna menyampaikan bahwa Pemkab Bandung siap memenuhi fasilitas pendidikan dan kesehatan bagi anak-anak disabilitas. Dia juga meminta Dinas Pendidikan untuk membuka program beasiswa bagi anak-anak disabilitas dan memberikan fasilitas, baik sarana pendidikan dan kesehatan. Pihaknya juga akan menyediakan beasiswa bagi anak-anak disabilitas yang lulus SMA agar bisa melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Terkait lapangan pekerjaan, pihaknya saat ini sedang merumuskan sejumlah formasi Calon Aparatur Sipil Negara sebanyak 2% khusus untuk disabilitas.

(Foto: Purba Wirastama / Save the Children)

Rangkaian kegiatan yang diinisiasi Ranti bersama Child Campaigners Save Our Education lain merupakan aksi nyata dalam memperjuangkan akses ke pendidikan berkualitas dalam lingkungan aman, terutama bagi anak-anak disabilitas.

Ranti telah memulainya.

Scroll to Top