Tak Khawatir Kemarau, Murid-Murid Euis Belajar Lebih Nyaman di Gazebo

Cerita Perubahan

Euis (56) adalah guru Pendidikan Jasmani dan Olahraga (PJOK) dan sekaligus guru kesiswaan di salah satu SMP di Cianjur, Jawa Barat. Dalam gempa di Cianjur pada November 2022, banyak bangunan rusak, termasuk gedung sekolah tempat ia mengajar. Akibatnya, ia dan murid-muridnya harus melanjutkan proses belajar-mengajar di tenda darurat pemberian Save the Children. 

Namun beberapa bulan setelah digunakan, tenda ini rusak setelah terkena hujan lebat dan angin kencang. Menurut Nanang (56) sang kepala sekolah, pihak sekolah berinisiatif membuat tenda sendiri. Dalam prosesnya, murid-murid sempat belajar secara daring selama sekitar satu pekan. Guru-guru juga kehilangan ruangan untuk beristirahat dan berdiskusi selepas mengajar. Selama di tenda, Euis mengaku udara di tenda sering terasa panas serta banyak debu akibat musim kemarau. Hal ini mengganggu konsentrasi saat belajar-mengajar. 

Para guru mengadakan rapat di gazebo

Save the Children Indonesia berupaya untuk terus mendukung pemulihan kehidupan anak-anak yang terdampak gempa di Cianjur. Untuk merespons situasi baru ini, Save the Children mendistribusikan bantuan lanjutan berupa tiga unit gazebo sebagai ruang belajar sementara, pengganti tenda darurat yang sempat rusak. Pemberian gazebo ini diharapkan dapat membantu guru dan murid-murid melanjutkan kegiatan belajar mengajar mereka dalam ruangan sementara yang lebih kokoh dengan daya tampung lebih luas. 

Sebelumnya, sejak gempa bumi yang melanda Cianjur November 2022 lalu, Save the Children terus membantu memulihkan kehidupan anak-anak di Cianjur dengan mengadakan kegiatan Psychosocial Support Activity (PSS) dan membangun Temporary Learning Shelters (TLS) berupa tenda dan gazebo sebagai kelas belajar. Bantuan diperuntukkan kepada beberapa sekolah tingkat dasar dan menengah pertama di Cianjur. 

Pembangunan TLS ini diharapkan dapat membantu sekolah terdampak gempa untuk tetap melanjutkan kegiatan belajar-mengajar mereka sembari menunggu proses pembangunan sekolah. 

Euis mengaku senang dengan bantuan gazebo ini. Saat gazebo datang, ia sedang berada di sekolah sehingga bisa melihat proses pembangunan gazebonya. Ia sangat senang karena bentuk gazebo melebihi ekspektasinya. Kayu-kayu gazebo terlihat kokoh dan gazebo juga lebih lebar dan luas.  Setelah gazebo terpasang, banyak anak-anak murid yang bersemangat menggunakan gazebo, tak terkecuali guru-guru. Kini guru-guru juga punya ruang guru khusus untuk berdiskusi dan melepas penat setelah mengajar. 

“Kami sangat bersyukur sekali, dengan gazebo ini. Bisa dilihat ya, anak lebih nyaman, tertib, lebih adem saja dibandingkan di tenda. Apalagi sekarang sedang kemarau, ya. Kalau di tenda itu kan debunya (banyak). Kalau di gazebo tidak pakai sepatu, lesehan, Insyaallah sangat bermanfaat sekali,” ujar Euis.

“Cuma kemarin saja nunggunya lama. Tadinya kita bertanya, ‘Kok lama?’ Ternyata waktu (gazebo) datang, oh pantes ya, datangnya lama, ini saja gazebonya segede ini, kayu-kayunya juga kayu-kayu yang bagus. Jadi, kami yang tadinya kesal terobati dengan datangnya gazebo segitu megahnya. Dulu bayangannya dari bambu gitu, ternyata Masyaallah, kebetulan saya lagi di sini. Wow, bahannya juga istimewa banget,” lanjut Euis. 

Euis menerima banyak komentar positif saat ia mengunggah foto gazebo ke sosial media pribadi. Banyak yang memberi komentar positif tentang suasana sekolah tempat Euis mengajar terlihat asri seperti sekolah alam. Kini, Euis dan murid-muridnya dapat melanjutkan kegiatan belajar mengajar dengan lebih kondusif dan nyaman. 

“Bahkan sekarang kami sering posting (di media sosial). Ada komentar, ‘Wah keren banget kayak sekolah alam.’ ‘Bu Euis, kayak sekolah alam sekarang.’ Orang-orang, positif semua komentarnya,” pungkas Euis. 

Teks: Raisya Putritama, Susmita Eka Putri, Purba Wirastama
Foto: Raisya Putritama/Save the Children Indonesia
Skip to content scroll to top button