Suara Kecil, Perubahan Besar: Inisiatif Ringgo Membuka Jalan Pembangunan Jamban

Cerita Perubahan

Ringgo memprotes kebiasaan di keluarganya yang buang air besar di sekitar rumah. Orang tua Ringgo semakin tergerak untuk memiliki jamban.

Ringgo dan keluarganya.

Ringgo mengenang masa-masa dua tahun lalu. Waktu itu, dia dan keluarganya belum bisa mengakses jamban sehingga mereka terpaksa buang air besar sembarangan di tengah hutan.

“Enggak enak aja. Kadang ada ular atau dilihat orang,” kata Ringgo.

Pada tahun 2022, Ringgo mengikuti kegiatan pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) di sekolahnya. Pemicuan ini diadakan oleh para guru sebagai tindak lanjut dari pelatihan yang diselenggarakan tim program yaitu Save the Children dan Gapemasda dengan dukungan Cargill.

Erika, salah satu guru di sekolah Ringgo, mengakui bahwa sebelum pemicuan, masih banyak anak yang melakukan buang air besar dan kecil di kebun. Mereka melakukannya saat bermain di lapangan atau sekitar kebun. Namun, pada umumnya, anak-anak sudah memiliki toilet di rumah mereka masing-masing.

“Jadi saya kaget, hanya Ringgo yang belum memiliki toilet di rumahnya,” kenang Erika.

Dengan dukungan tim program, Erika bersama beberapa guru lainnya melakukan pemicuan di sekolah. Pemicuan dilakukan dengan menjelaskan kelima pilar Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM): stop buang air besar/kecil sembarangan, cuci tangan pakai sabun, pengelolaan air minum dan makan rumah tangga, pengelolaan sampah rumah tangga, dan pengelolaan limbah cair rumah tangga. Seluruh proses pemicuan menggunakan media KIE (komunikasi, informasi, edukasi) yang disediakan tim program.

Setelah pemicuan, Ringgo menyampaikan keinginan untuk memiliki jamban keluarga. Hal ini ternyata selaras dengan keinginan orang tuanya, Ipon dan Edy.

Ipon memang sudah lama ingin memiliki jamban supaya tidak perlu pergi jauh ke tengah hutan untuk buang air besar. Apalagi, terkadang mereka juga bertemu ular di tengah hutan. Mereka harus melakukannya karena Ringgo mulai terganggu dengan bau yang ditimbulkan dari buang air besar sembarangan di sekitar rumah. Ringgo juga melarang orang tuanya buang air besar sembarangan di sekitar rumah.

“Jangan Bu, bau. Susah ini, kita tidak ada WC,” kata Ipon menirukan kata-kata Ringgo.

Edy, yang juga Ketua RT, meneruskan kebutuhan tersebut ke pemerintah desa. Ia mengakui keinginan ini tidak bisa langsung dipenuhi karena pembangunan jamban oleh pemerintah desa dilakukan secara bertahap.

Namun akhirnya, pada April 2023, sebuah jamban bersama atau jamban komunitas dibangun dekat rumah mereka menggunakan anggaran dana desa.

Jamban komunitas di dekat rumah Ringgo.

Kini, Edy bersama istri, anak, dan anggota keluarga besarnya sudah dapat mengakses jamban bersama atau jamban komunitas. Jamban ini digunakan bersama dengan empat rumah tangga lain yang berdekatan. Ipon bercerita, mereka membersihkan secara bergantian, termasuk bersama bapak mertua Ipon yang tinggal hanya beberapa meter dari lokasi jamban.

Menyadari pentingnya memiliki jamban di rumah, Ringgo berpesan kepada anak-anak lain. “Jangan buang air besar sembarangan supaya tidak menyebar penyakit.” •

Teks: Putri Yunifa, Fandi Yusuf
Foto: Putri Yunifa / Save the Children

Bagikan Artikel Ini

Skip to content scroll to top button