Dodo, Kepala Sekolah SD di Cianjur terapkan SPAB di Sekolah

Lindungi Murid, Dodo Terapkan Sekolah Aman Bencana

Cerita Perubahan

Sekalipun bencana alam tidak dapat diprediksi, Dodo, kepala sekolah salah satu SD di Cianjur, tetap mengupayakan yang terbaik untuk perlindungan murid-muridnya dengan pelatihan terkait Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB). 

Pada penghujung tahun 2022, fasilitas sekolah yang dipimpin Dodo rusak akibat gempa Cianjur. Saat gempa terjadi, hal pertama yang Dodo pikirkan adalah bagaimana ia memulihkan keadaan mental murid-muridnya pasca gempa. Keinginan Dodo bagai gayung bersambut saat ada yang menawarkan bantuan psikososial bagi sekolahnya. Tak hanya sampai di situ, Dodo dan sekolahnya juga ditawari pendidikan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) saat bertemu BNPB dan Save the Children. 

Save the Children bersama BNPB membantu Dodo, guru, dan banyak anak-anak murid di Cianjur untuk belajar tentang kesiapsiagaan bencana, termasuk pentingnya tidak panik dan tahu harus melakukan apa saat bencana alam terjadi. 

SPAB adalah program gagasan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini berupaya meningkatkan kemampuan orang-orang di satuan pendidikan dalam menanggulangi dan mengurangi risiko bencana. 

Awalnya, Dodo mengaku tidak mengerti seperti apa Satuan Perlindungan Aman Bencana, namun ia sudah memiliki niat untuk melengkapi sekolahnya dengan tindakan antisipatif dalam menghadapi gempa dan bencana alam lain. Setelah mengenyam sosialisasi SPAB bersama Save the Children sejak April sampai Juli 2022, Dodo pun menerapkan semua hal yang ia pelajari. 

“Di pikiran saya hanya satu, bagaimana memulihkan mental anak. Anak-anak saya harus pulih, harus ada dukungan psikososial. Maka, datanglah bantuan psikososial selama enam pekan. Setelah itu, kami bertemu lagi dengan anggota BNPB, jadilah dilaksanakan sekolah aman bencana. Apa itu SPAB, kami belum mengerti seperti apa, tapi sudah ada niat. Maka kami bertemu dengan tim Save the Children yang menyampaikan konsep SPAB. Wah kebetulan, Alhamdulilah, setelah itu beban saya berkurang,” urai Dodo.

Dodo, Kepala Sekolah SD di Cianjur terapkan SPAB di Sekolah

Setelah menyelesaikan renovasi gedung sekolahnya pasca gempa, hal pertama yang Dodo buat adalah peta evakuasi. Kemudian, dia dan pihak sekolah membuat peta pengurangan resiko, jalur evakuasi, tanda titik kumpul, dan tim siaga bencana. Kini, Dodo dan pihak sekolah secara berkelanjutan menjalankan pilar ketiga dari SPAB dengan melakukan simulasi bencana dengan anak-anak murid. Pelatihan SPAB ini ia lakukan selaras dengan program Desa Tangguh Bencana (Destana) yang diterapkan di desa tempat sekolahnya berdiri.

Simulasi dilakukan dengan mengarahkan anak-anak ke titik kumpul di lapangan sekolah secara tertib, lalu berpindah ke titik kumpul desa. 

Bunga dan Wulan, keduanya murid kelas 6 di SD, bercerita bahwa mereka belajar banyak hal dari pelatihan SPAB. Menurut cerita Bunga, simulasi gempa dilakukan dengan membunyikan sirine tanda gempa di awal. Ia, Wulan, dan teman-teman lainnya diminta untuk langsung melindungi kepala dengan tas besar, lalu berbaris rapi, sembari turun ke titik kumpul di tengah lapangan. 

Bunga dan Wulan di depan peta evakuasi dan risiko bencana di sekolah
Bunga dan Wulan di depan Peta Evakuasi dan Peta Resiko Bencana

“Simulasi gempanya dilakukan dengan pura-pura belajar, terus ada sirine berbunyi dan kita turun ke bawah. Aku tau harus melakukan apa. Harus pegang tas besar di atas kepala, langsung berjajar, lalu keluar kelas dengan tertib,” ungkap Bunga.

Wulan menambahkan kalau guru-guru juga menginstruksikan untuk berlindung di bawah kolong meja jika tidak sempat keluar ruangan. Jika sempat, ia dan teman-temannya harus berbaris rapi, tidak panik, dan segera menuju ke titik kumpul dan membentuk lingkaran. 

Dodo bercerita kalau ia menargetkan pelaksanaan simulasi ini akan dilakukan setiap hari Sabtu selama enam bulan ke depan. Ini supaya murid-muridnya lebih siaga dan tidak terlalu panik saat menghadapi bencana alam. Semangat Dodo dalam menjalankan SPAB ditopang oleh harapannya untuk melindungi anak-anak murid sebisa mungkin. Menurutnya, walaupun di situasi nyata, setiap orang tentu akan panik menghadapi bencana alam. Namun setidaknya, anak-anak di sekolah Dodo sudah dibekali pengetahuan tentang bagaimana bertindak saat bencana alam terjadi. •

Text: Raisya Shifra, Purba Wirastama
Foto: Raisya Shifra/Save the Children

Bagikan Artikel Ini

Skip to content scroll to top button