Krisis Iklim: 5 Tips Parenting Ajarkan Anak Sayangi Bumi

 

Bumi adalah rumah kita bersama. Merawat lingkungan dan kelestarian alam menjadi hal penting agar bumi tetap menjadi tempat yang layak untuk hidup, terutama bagi anak-anak di masa depan. Karena itulah, Sahabat perlu mengajarkan rasa menyayangi bumi kepada anak-anak sejak dini. 

Bumi menghadapi ancaman krisis iklim. Suhu permukaan bumi diprediksi naik sebesar 2,7 derajat Celcius pada akhir abad ini. Sebanyak 19 tahun terpanas di bumi sejak pencatatan suhu global dimulai 142 tahun lalu bahkan muncul dalam dua dekade terakhir. Kenaikan suhu ini diperkirakan memicu kerusakan lingkungan dan lebih banyak bencana alam. 

Masalah iklim global dapat berdampak serius bagi anak-anak, terutama untuk mendapatkan akses kehidupan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan. Para pemimpin dunia telah membahas risiko ini dalam pertemuan di dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa yang menghasilkan Persetujuan Paris (Paris Agreement) pada 2015. 

Sejak saat itu, berbagai riset dan upaya mitigasi untuk membatasi pemanasan global dan perubahan iklim terus digenjot. Save the Children juga berpartisipasi dengan menginisiasi gerakan Aksi Generasi Iklim sebagai wadah bagi anak-anak memberikan suara mereka dalam solusi menghadapi krisis iklim. 

Nah, Sahabat juga dapat berpartisipasi dalam gerakan menjaga bumi dengan melibatkan anak. Para orang tua tentu bisa mengajarkannya di lingkungan terdekat dengan anak-anak, yaitu di dalam dan di sekitar rumah, dengan cara sederhana yang menyenangkan, sesuai usia dan tingkat pemahaman. Apa saja cara yang bisa dikerjakan untuk mendorong anak ikut merawat bumi? 

  1. Membuang sampah sesuai tempatnya

Membuang sampah sembarangan adalah kebiasaan buruk yang berdampak serius, seperti membuat kotor lingkungan, mencemari air, menyebabkan kerusakan lingkungan dan cedera fisik, hingga meningkatkan risiko penyebaran penyakit dan banjir

Para orang tua bisa mengajarkan anak-anak mengenai nilai baik kebiasaan membuang sampah sesuai tempatnya. Bisa juga menggelar kontes kecil memasukkan sampah ke tempatnya untuk membuat anak lebih tertarik. Jangan ragu-ragu memberi pujian pada anak ketika mereka menerapkan kebiasaan baik itu karena membuat mereka semakin percaya diri dan bersemangat. 

  1. Berkebun

Sahabat bisa mengajak anak-anak berkebun secara sederhana di rumah untuk semakin menumbuhkan rasa sayang mereka pada lingkungan. Para orang tua bisa memulainya dengan memperkenalkan berbagai tumbuhan pangan yang mudah ditanam, seperti mint, kangkung, dan selada. 

Dengan berkebun, Anda sekaligus dapat mengajarkan konsep kerja sama dan disiplin untuk anak-anak. Bonus lainnya: anak-anak tentu bisa menikmati hasilnya saat memanen tanaman kebun mereka. 

Menanam pohon di halaman rumah juga bisa menjadi aktivitas seru bagi anak-anak. Sahabat tak perlu takut anak-anak menjadi kotor karena bergumul dengan tanah. Kegiatan ini juga menjadi pelajaran penting bagi anak bahwa pohon adalah bagian penting dari lingkungan dan kehidupan manusia. 

Selain memproduksi cukup oksigen untuk empat orang dalam sehari, satu pohon dewasa sanggup menyerap sekitar 24 kilogram karbon dioksida per tahun. Dampak positif lainnya, kanopi daun-daun pohon bisa membantu menurunkan suhu di sekitar naungannya sehingga halaman terasa lebih teduh dan nyaman. 

  1. Kurangi penggunaan plastik

Produk berbahan plastik, mulai dari kemasan makanan, kantong, dan perabot banyak digunakan dalam rumah tangga. Volume konsumsi plastik di Indonesia mencapai 17 kilogram per kapita dalam setahun. Diperkirakan ada 64 juta ton sampah plastik di Indonesia setiap tahun, dengan 3,2 juta ton di antaranya hanyut ke laut. Limbah plastik sulit ditangani, tidak bisa terdegradasi alami dalam waktu cepat, dan memicu kerusakan lingkungan.   

Limbah plastik juga berbahaya bagi makhluk hidup. Laporan kompilasi data lebih dari 2.500 studi ilmiah yang dipublikasikan oleh World Wide Fund fo Nature pada Februari 2022 menunjukkan 88 persen spesies laut  terpengaruh kontaminasi plastik yang parah. Pencemaran limbah plastik di lautan bakal meningkat empat kali pada 2050. 

Sahabat bisa mengajarkan hal sederhana pada anak untuk mengurangi penggunaan produk plastik. Misalnya, gunakan kantong pakai ulang, wadah makanan, dan botol minum sendiri sehingga tak lagi membeli produk dalam kemasan sekali pakai.  

Sejumlah produk plastik seperti botol, gelas, dan sedotan sebenarnya bisa didaur ulang. Ada lokasi penampungan limbah plastik yang disediakan pengelola rukun warga, organisasi masyarakat sipil, dan produsen produk dalam kemasan plastik. 

Anda juga bisa juga mengajarkan anak trik membuat kerajinan tangan sederhana, seperti pot bunga, rangkaian pin boling warna-warni, atau hiasan taman dari produk plastik. Selain belajar membuat karya seni, anak-anak juga bisa bermain bersama orang tua. 

  1. Pilah sampah

Tumpukan sampah menjadi ancaman serius bagi lingkungan. Bank Dunia menyebut ada dua miliar ton sampah global yang menumpuk. Sementara itu, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyebutkan total produksi sampah Indonesia pada 2020 mencapai 67,8 juta ton. Dengan populasi 270 juta jiwa, artinya setiap penduduk menghasilkan rata-rata 0,6 kilogram sampah per hari. 

Sampah-sampah itu berupa campuran material organik, anorganik, limbah produk elektronik, serta bahan beracun dan berbahaya (B3) domestik seperti baterai, pembasmi serangga, dan pemutih pakaian. Menyeleksi sampah-sampah itu sejak awal akan membantu keluarga mengurangi tumpukan limbah yang keluar dari rumah. 

Mengenalkan konsep memilah sampah, Sahabat bisa menyediakan tempat terpisah untuk masing-masing jenis limbah. Anak-anak bisa belajar memilih sendiri sampah anorganik seperti botol kaca, kaleng, wadah makanan dan gelas plastik yang bisa didaur ulang. Anak juga juga diajarkan mengenai limbah B3 dan bagaimana menangani benda-benda yang berbahaya untuk kesehatan diri dan lingkungan itu. 

Adapun sampah organik seperti sayuran, buah, dan sisa makanan bisa diolah menjadi pupuk. Anda bisa mengajak anak bereksperimen membuat kompos secara sederhana dari limbah organik rumah tangga. Seiring waktu, eksperimen kecil membuat kompos itu bisa ditingkatkan. Pupuk organik ini nantinya bisa dimanfaatkan untuk keperluan kebun atau tanaman hias keluarga. 

  1. Mengelola penggunaan listrik dan air 

Pasokan listrik dan air bersih adalah kebutuhan utama rumah tangga. Toh, ada kalanya kita tak memperhatikan penggunaannya secara efisien. Misalnya, televisi atau banyak lampu rumah dibiarkan menyala selama berjam-jam padahal tidak digunakan. 

Produksi listrik dunia bergantung pada pembangkit tenaga fosil. Sebanyak 61 persen produksi listrik dunia berasal dari pembangkit berbahan bakar batu bara, solar, dan gas. Demikian di Indonesia, sebanyak 85 persen dari total produksi listrik nasional diperoleh dari pembangkit tenaga fosil. 

Meski lebih murah, penggunaan bahan bakar fosil untuk memproduksi listrik berdampak serius pada lingkungan. Pembangkit-pembangkit itu melepaskan karbon dioksida dan gas-gas rumah kaca lain yang berkontribusi pada perubahan iklim. Polutan yang muncul dari pembangkit konvensional itu juga membahayakan kesehatan manusia. Karena itulah banyak negara, termasuk Indonesia, terus mengembangkan pembangkit listrik ramah lingkungan yang menggunakan bauran energi terbarukan, seperti air, angin, dan surya. 

Sahabat dapat mengajarkan anak untuk peduli lingkungan dengan memperhatikan penggunaan listrik dan air di rumah secara efisien. Anda bisa mengajarkan anak mematikan televisi, lampu, dan aliran air jika tidak digunakan. Membuka jendela di siang hari juga membantu udara mengalir sehingga tidak melulu bergantung pada pendingin ruangan. 

Anda pun dapat memberikan games kecil yang menghibur anak-anak. Misalnya, membuat kuis kecil tentang peralatan listrik apa saja yang paling boros listrik, membatasi waktu menonton (screen time) dengan mengajak anak bermain di luar ruangan, atau membuat permainan pengingat untuk mematikan lampu dan air jika tidak dipakai. 
Selain tips mengajarkan anak merawat lingkungan di atas, Anda juga dapat berpartisipasi dalam Aksi Generasi Iklim  yang dibuat Save the Children. Dengan turut mendukung berbagai pemenuhan hak anak yang termarjinalkan.

Skip to content scroll to top button