Dari Konferensi ke Riset, CYAN Suarakan Isu Hak Kesehatan Seksual dan Reproduksi Remaja

Cerita Penggerak

Delapan anak dan orang muda dari Children and Youth Advisory Network (CYAN) dan Forum Anak Nasional pada tahun 2023 telah mengadakan sebuah penelitian mengenai persepsi remaja terhadap kesehatan reproduksi dan seksual serta kesehatan mental. Penelitian ini berbasis child-led and youth-led research, di mana seluruh prosesnya dipimpin dan dikerjakan oleh anak dan orang muda.

“Pembicaraan mengenai kesehatan reproduksi dan seksual masih tabu dibicarakan oleh remaja sehingga mereka tidak siap menghadapi perubahan fisik, emosional, dan perilaku, dan meningkatkan risiko remaja mengalami masalah kesehatan reproduksi dan kesehatan mental,” ungkap Putri dari CYAN.

Penelitian itu tercetus setelah perwakilan CYAN mengikuti konferensi Commission on the Status of Women (CSW) di New York pada April 2023. CSW adalah pertemuan tahunan antar pemerintah global anggota PBB yang bertujuan untuk mendorong kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan. Dalam kesempatan itu, Aruna dari CYAN menyuarakan soal tantangan anak dan orang muda terkait sulitnya mendapatkan informasi kesehatan seksual dan reproduksi serta kesehatan mental yang ramah anak dalam ruang aman.

Aruna dan Putri, mewakili Children & Youth Advisory Network (CYAN) untuk konferensi Commision on the Status of Women ke-23 di Amerika Serikat, bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI I Gusti Ayu Bintang Darmawati.

Melanjutkan pesan advokasi tersebut, Aruna juga menyuarakan isu serupa bersama Airin, salah satu anak dampingan Save the Children, dalam acara Adolescent Wellbeing Learning Event (AWLE) di Belanda pada Juni 2023. AWLE diadakan oleh Save the Children International sebagai panggung bagi anak dan orang muda untuk berbagi pengalaman kepada perwakilan Save the Children dari berbagai negara.

Dalam AWLE, Aruna dan Airin bercerita tentang persoalan informasi kesehatan seksual dan reproduksi bagi remaja dan upaya advokasi yang telah mereka lakukan. Selain itu, mereka juga memberikan rekomendasi untuk program pengembangan anak dan orang muda di Save the Children.

“Menjadi bagian dari program Save the Children membuat saya sadar pentingnya partisipasi anak dalam proses perencanaan dan implementasi kebijakan ataupun program,” ucap Aruna.

Airin dan Aruna saat presentasi di AWLE 2023.

Sebagai tindak lanjut, CYAN melakukan penelitian untuk menguatkan pesan advokasi mereka. Penelitian ini juga berangkat dari kekhawatiran mereka sebagai anak dan orang muda yang mungkin terpapar pada masalah kesehatan reproduksi, seperti penyakit menular seksual, HIV, kekerasan seksual, dan kehamilan remaja. Penelitian ini didukung oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan Save the Children Indonesia.

Penelitian tersebut meninggalkan kesan mendalam bagi Salma, salah satu peneliti muda dari CYAN.

“Ini pengalaman luar biasa buat Salma. Kali pertama ini, melakukan penelitian yang dipimpin oleh orang muda. Salma merasakan partisipasi yang bermakna karena kami diberikan kepercayaan dan kewenangan untuk memberikan keputusan secara penuh untuk penelitian ini,” ungkap Salma.

Save the Children mendorong agar anak dan orang muda dilibatkan secara aktif dan partisipatif dalam upaya penyelesaian isu hak anak. Selama penelitian berlangsung, Save the Children memberikan dukungan dan ruang aman bagi para peneliti muda. Penelitian dilakukan selama lima bulan pada Juni-Oktober 2023 dengan responden 433 remaja dari 31 provinsi.

Berdasarkan hasil penelitian ini, pemahaman remaja terhadap kesehatan reproduksi cenderung fokus pada aspek fisik seperti pubertas dan menstruasi, sehingga mereka belum memahami kesehatan reproduksi secara tepat meliputi aspek fisik, mental, dan sosial. Sementara untuk kesehatan mental, hanya 54% remaja yang mengetahui akses bantuan untuk masalah kesehatan mental. 

Salma, Putri, dan kawan-kawan telah melakukan diseminasi hasil penelitan mereka kepada Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) dan Global Forum for Adolescence.  

“Salma berharap, apa yang kami sampaikan dan minta dari advokasi itu bisa didengar, dipertimbangkan, dan direspons oleh pemangku kebijakan secara serius, khususnya pemerintah Indonesia maupun global dalam isu hak kesehatan seksual dan reproduksi (HKSR) dan partisipasi remaja. Informasi yang disediakan oleh media dan pemerintah mengenai HKSR dan kesehatan mental yang komprehensif bisa lebih inklusif dan partisipatif dengan kebutuhan remaja,” ujar Salma.

Teks: Justicia Estetika Maulida

Bagikan Artikel Ini

Skip to content scroll to top button